Film Pendek untuk Apa? Beberapa Ulasan Film Pendek

Film Bising Film pendek bukan film panjang yang sengaja durasinya dipendekkan, demikian pula sebaliknya dengan film panjang. Film pendek umumnya memiliki isu utama dan atau beberapa isu tambahan. Film pendek bisa digunakan untuk menyuarakan gagasan dan mencerminkan kondisi sosial kemasyarakatan di sebuah tempat.

Saat ini ada begitu banyak film pendek, baik yang diproduksi oleh rumah produksi kawakan di kota-kota besar, maupun yang dihasilkan oleh komunitas film di berbagai daerah. Bujetnya juga bervariasi.

Mungkin dalam lima tahun terakhir ini jumlah produksi film pendek di tanah air begitu berlimpah. Hal ini juga terbantu dengan makin banyaknya festival film yang diadakan di berbagai daerah juga ruang-ruang pemutaran alternatif.

Di festival film besar yang diadakan di Jakarta, biasanya juga disisipkan sesi pemutaran film pendek, umumnya digabungkan jadi satu dalam sebuah program. Dalam Festival Film 100 Persen Manusia 2024, jumlah film pendek yang diputar sangat banyak yaitu 50 buah. Angka tersebut kebanyakan adalah film pendek tanah air.

Dalam artikel ini aku ingin mengulas tiga film pendek yang kutonton di program 100% STMJ di Kineforum Asrul Sani pada Jumat, 7 September silam. Film pendek selebihnya mungkin kukupas hari lainnya.

STMJ sendiri merupakan singkatan dari Short Term Memory of Joy. Program ini bisa dimaknai sebagai film-film pendek yang membangkitkan kenangan manis. Ada tiga film pendek yang ingin kuulas yaitu Bising (Chorus of the Wounded Bird), Baby Delivery, dan A Man Who Can’t Say Love. Ketiganya merupakan produksi anak bangsa.

Yuk kita bahas satu-persatu!

Bising (Chorus of the Wounded Bird) bercerita tentang sebuah bengkel yang dimiliki seorang pria paruh baya bernama Gunawan. Suatu ketika ada remaja yang ngotot menggunakan jasa sampingannya karena ia sedih dan marah ayahnya tak kunjung kembali dan ke rumah dan tak bisa dihubungi.

Film Bising
Akhirnya Gunawan menyetujuinya. Rupanya bisnis sampingannya adalah menjadikan bengkel motor miliknya itu sebagai tempat anak muda meluapkan kemarahan dan luapan emosinya. Ia menutupinya dengan bunyi knalpot kendaraan roda dua. 

Ide film ini segar, ibarat Fight Club atau tempat aneh yang pernah disinggung dalam Pintu Terlarang. Si pembuat film, Amar Haikal, juga memberikan kontradiksi yakni si pemilik bengkel yang sebenarnya juga punya masalah berat, namun susah melampiaskannya.

Banyak kata-kata kasar dan hujatan dalam film pendek selama 12 menit ini. Memang ada kalanya manusia perlu saluran untuk meluapkan kemarahannya yang kiranya tidak merugikan masyarakat umum dan juga merugikan dirinya kelak. Jika memaki-maki di medsos bisa jadi jejak digital, bukan?!

Film Bising ini rupanya masuk nominasi piala Citra 2023, diputar di JAFF 2023, dan juga menang di Minikino 2023.

Baby Delivery karya Muhamad Ade Raihan
mengangkat isu seputar ojek online yang bisa mengangkut apa saja, termasuk kulkas. Lantas apakah ojol juga bisa mengantarkan bayi?

Baby Delivery

Nah, Yanto yang berprofesi sebagai ojol suatu ketika mendapat order untuk mengantar Fitri ke bidan. Sepanjang waktu mereka menemui hambatan. Sementara waktu melahirkan Fitri semakin dekat.

Cerita road movie dengan sejumlah hambatan ini mengingatkan pada film Nicholas Saputra ketika mengantarkan kopi film dalam Janji Jony. Ada saja hambatannya. Dalam film Baby Delivery ini juga demikian, hambatan dari Yanto yang lupa jalan, kehabisan bensin, hingga bertemu orang gila.

Hanya sayangnya hambatan dan alur ceritanya terasa dipaksakan. Kurang natural. Sepertinya memang sengaja dibuat agar penonton tertawa. Tapi senjatanya garing dan memaksa, jadinya malah hambar.

Yang kuapresiasi dari Baby Delivery adalah proses produksinya yang tidak mudah. Dalam membuat road movie tantangannya adalah proses produksi dari mengurus ijin menggunakan jalan, syuting di gang-gang dan jalanan yang rentan banyak dilalui kendaraan dan lainnya. 

Film pendek ketiga, A Man Who Can’t Say Love, masuk favoritku. Temanya sederhana, tentang si ayah yang diminta untuk membuat video ucapan selamat untuk anaknya yang menikah. Ia dan putra bungsunya sendiri akan berangkat naik mobil menuju lokasi pernikahan.

Film pendek tanah air
Dalam film yang dibesut oleh Timothy Amadeus Herlambang ini selama 14 menitan penonton diajak melihat bagaimana sosok ayah yang kaku nampak kesulitan dalam menunjukkan kasih sayangnya ke anak-anaknya. Alih-alih menggunakan bahasa yang manis, ia memilih menunjukkannya lewat perbuatan.

Dalam film ini yang aku apresiasi adalah visualnya. Gambar-gambar yang menunjukkan kolam ikan dan jendela yang besar terasa puitis. Konfliknya dibiarkan mengalir dengan penutup kisah yang dibiarkan apa adanya.

Nah dalam contoh tiga film pendek di atas, maka film pendek bisa digunakan untuk bercerita tentang hal-hal yang umumnya ada di masyarakat dan juga fenomena unik. Mungkin temanya terkesan sederhana, namun jika diolah sedemikian rupa maka film tersebut bakal tetap menarik ditonton.

Gambar dari IG 100 Persen Manusia dan IKJ

~ oleh dewipuspasari pada September 10, 2024.

Tinggalkan komentar