Teladan dari Ayah
Kemarin, tanggal 12 November adalah Hari Ayah. Ketika mengisi jurnal harian dan membaca pertanyaan untuk kemarin dan hari ini tentang kado untuk ayah serta teladan dari ayah, aku langsung teringat akan ayahku yang sudah tak lagi di dunia.
Ayah suka akan kado yang bisa digunakannya dalam keseharian. Misalnya baju untuk keseharian, baju ke masjid, sandal atau sepatu, dan lainnya. Ia akan menetapkan ukuran dan warnanya. Untuk hadiah berupa kue, ia suka meminta dibelikan kue bangket jahe yang seperti di film kartun itu.
Saat ini aku terpikir hadiah unik yang kiranya kuberikan saat ayah masih sehat. Aku ingin mengajak ayah melakukan wisata purbakala dan budaya seperti ke museum wayang, museum Panji, candi-candi, dan taman purbakala lainnya. Ayah pasti menyukainya karena ayah suka akan sejarah dan wayang. Atau aku akan mengajaknya menonton wayang wong Bharata.
Ayah mungkin juga akan tertarik apabila kuajak ke India Utara, ke Manali yang memiliki banyak situs dan kuil dengan nama-nama tokoh Mahabarata. Ada kuil Hadimba dan Gatotkaca. Di sana juga ada yak dan budaya Tibet di mana ayah suka bercerita tentang Tintin di Tibet.

Ayah akan suka ke Manali karena ada Kuil Hadimba, Kuil Gatotkaca, dan kental dengan budaya Tibet.
Tentang teladan dari ayah, aku mewarisi minatnya akan sejarah dan budaya. Aku senang dengan kisah-kisah pewayangan dan sering berkunjung ke berbagai museum dan candi. Mungkin gara-gara ayah memiliki koleksi Tintin dan aku membacanya sejak kecil, aku kemudian penasaran dan kemudian sempat menjadi wartawan media cetak. Minatku yang besar terhadap musik rock dan klasik juga terpengaruh dari ayah.
Selain kesukaannya akan sejarah dan budaya, ada berbagai hal yang kuteladani dari ayah. Meskipun ayah berdarah Sunda, ayah begitu fasih berbahasa Jawa halus. Ia menjadi tetua di kampungku, padahal ayah bukan asli Malang. Kadang-kadang aku malu dengan kemampuan berbahasa Jawa halusku. Wah aku masih suka kagok jika lawan bicaraku menanggapi kata-kata dengan bahasa krama. Waduh seringkali aku tak tahu atau lupa bahasa krama inggilnya ini dan itu.
Ayah juga sosok yang peduli dengan keluarga. Ia juga sosok yang royal dan loyal. Di masyarakat, ayah adalah sosok yang peduli kepada lingkungannya dan seorang pemimpin.
Sisi lainnya yang menarik dari ayah adalah kepekaannya terhadap mereka yang nasibnya kurang beruntung. Sering kali ayah memanggil pedagang keliling dan membeli benda yang dijualnya tanpa ditawar dan dalam jumlah banyak. Beberapa kali kulihat ia membeli buah mangga dalam satu keranjang besar yang ditawarkan oleh pedagang keliling. Lain waktu ia membeli kerupuk singkong atau samiler yang dijual seorang ibu dalam jumlah yang cukup banyak.

Waktu kecil ayah suka memborong mangga dari pedagang keliling. Ia kasihan melihat mereka.
Kadang-kadang ada benda yang menurutku tak penting atau tak perlu yang muncul dalam rumah. Awalnya aku heran mengapa ayah boros membeli ini dan itu. Tapi ketika sudah dewasa, aku paham, sepertinya ayah susah menolak tawaran seseorang atau merasa kasihan dengan penjualnya. Aku pernah merasakan susahnya berjualan cokelat dan benda lainnya, alhasil aku paham apa yang dirasai oleh para pedagang tersebut.
Memang kadang-kadang kebaikan ayah disalahgunakan oleh beberapa orang yang rupanya punya niat jahat. Namun sudahlah, yang penting niat ayah adalah baik.
Semakin dewasa aku makin memahami sikap ayah. Hal-hal baik dari ayah seperti sikap kepeduliannya terhadap lingkungan dan mereka yang memerlukan akan coba untuk kupraktikkan setiap harinya.
Selamat hari ayah!
