Sepetak Kebun
Aku punya kebun sepetak. Isinya kebanyakan tanaman daun, jarang tanaman bunga. Tapi kadang-kadang ada bunga yang bermekaran, membuatku senang. Aku seperti mendapat hadiah.
Aku tak pandai bertanam. Dulu kami punya pohon mangga yang bertahun-tahun tak berbuah. Karena akarnya sudah dalam dan kuatir akarnya menembus lantai-lantai dalam rumah, pohon mangga itu kami tebang. Aku sedih sekali, karena pohon tersebut adalah inspirasiku membuat cerita pria dan pohon mangga.
Kebun mungilku kemudian jadi berantakan ketika kami melakukan renovasi rumah. Tanamanku layu, hanya sedikit yang terselamatkan. Akhirnya kebun mungil itu mulai kutata, meski tak rapi-rapi amat.
Kebanyakan tanaman daun yang kudapat cuma-cuma. Ada juga tanaman bunga yang sayangnya jarang sekali muncul bunganya. Kemudian aku mulai bertanam cabe dan bawang. Yang terakhir ini sering gagal, kena serangan bekicot yang muncul tiba-tiba.

Muncul tanaman pepaya, kayaknya gara-gara aku pernah membuang bijinya
Aku baru tahu bekicot doyan cabe dan nggak kepedasan. Ia bisa berayun-ayun di daun dan tak takut jatuh ke tanah.
Ada kalanya aku duduk bengong di teras melihat taman dan rintik hujan. Ceritanya mencari inspirasi tulisan dan pekerjaan, sambil menyegarkan mata.

Adanya kebun meski mungil bisa menyegarkan mata
Tapi ya gitu deh. Kadang-kadang aku diberi kejutan aroma yang tak menyenangkan. Duh kucingku ada yang berinisiatif memberi pupuk tanaman.
