Untungnya Aku Sempat Menatap Matanya

Anak KemocengHari Sabtu aku ingin bermalasan setelah hari sebelumnya aku mengerjakan beberapa tulisan dan merapikan rumah. Tapi rupanya sesuatu tidak mengijinkanku bersantai dengan wajah sumringah. Kabar meninggalnya salah satu anak Kemoceng membuatku tercekat. Aku pun murung seharian.

Keempat anak kucing itu pada 2 Februari alias besok akan genap berusia dua bulan. Aku ingat proses kelahiran mereka. Waktu itu Kemoceng nekat menyusup ke kamar dan memintaku menemaninya lahiran. Tak seperti kelahiran sebelumnya, ia nampak kesulitan dan memintaku membantunya.

Masalah kucing kecil datang dari soal mata yang kemudian terus berair dan diare berkepanjangan. Aku berupaya menolong mereka dengan kemampuan dan persediaan obat yang kumiliki. Tapi rupanya aku tak sanggup dan kemudian meminta bantuan ke profesional yakni dokter di klinik. Aku memohon agar mereka dirawat inap karena aku memang tak mampu merawat mereka dengan kondisi mereka yang telah lemas. Dua kucing pun terpaksa diinfus.

Setiap hari aku memantau kondisi mereka. Hingga kemarin sore aku memaksakan diri untuk datang dan melihat langsung kondisi mereka. Siapa tahu mereka sudah bisa rawat jalan.

Aku termangu melihat kondisi mereka yang masih buruk. Hanya satu kucing yang membaik, tiga lainnya belum banyak perubahan. Aku mengalami dilema.

Semakin lama mereka dirawat inap, biaya akan terus membengkak. Tapi aku juga harus memastikan diriku bisa merawat mereka di rumah.

Aku mencatat yang harus kusiapkan di rumah. Kandang minimal dua perlu kusiapkan. Kemudian aku perlu alas kandang yang hangat dan bersih. Aku juga harus membersihkan dan membenahi kulkas karena pendingin kulkas sedang bermasalah di bagian rak.

Namun, kabar buruk itu serasa makanan yang membuat nafsu makanku tumpul. Aku jadi malas melakukan apapun. Aku hanya ingin tidur mengubur kenanganku akan kucing hitam itu. Biarkan aku murung, siapa tahu besok aku bisa kembali tersenyum.

Kucing hitam itu memiliki mata kekuningan yang kontras dengan tubuhnya. Ia sering mendekatiku dan berupaya menempelkan badannya ke diriku. Ia jarang bersuara dan ia paling doyan menyantap ikan yang baru digoreng atau dibakar tanpa mengindahkan ikan itu masih cukup panas.

Kemarin aku masih menatap matanya. Kemarin aku berkata aku menyayanginya dan aku akan menjemputnya untuk pulang ke rumah.

Aku meminta petugas klinik menyimpan jenazahnya ke ruang pendingin. Aku akan memandikan lalu memakamkannya di halaman rumah seperti kucing-kucing lainnya yang lebih dahulu ke surga.

Selamat jalan kucingku.

~ oleh dewipuspasari pada Februari 1, 2025.

Tinggalkan komentar