Tamu Anak Kucing Hitam

Kucing hitam

Jelang Maghrib ada suara kucing. Kupikir kucingku. Kucek satu-persatu. Akhirnya semua lengkap. Tapi bunyi itu masih terdengar. Aku memeriksa kamar, kuatir ada yang terkunci. Tidak ada. Lalu ada suara si Sam di halaman. Di situlah aku kemudian melihat sekor anak kucing berwarna hitam.

Anak kucing itu tidak di teras, melainkan di pagar. Aku bingung bagaimana ia bisa ada di situ. Ia pasti kesulitan nangkring di atas pagar dan takut untuk turun. 

Kubantu si anak kucing hitam untuk turun. Kuperiksa di luar, tidak ada induk kucing. Ia anak kucing siapa ya? 

Aku masih bingung bagaimana ia bisa nangkring di atas pagar. Apa ia dari rumah sebelah? Tapi rumah sebelah sudah lama kosong. 

Kucing itu nampak kelaparan. Kuberikan ia makanan basah dan makanan kering. Kusediakan wadah minum penuh air matang. Ia makan begitu lahap makanan basah. Tentunya dibantu kucing rumah yang suka menggunakan mode kelaparan, seperti Cemong dan kawan-kawan. 

Ia sendirian. Belum ada induk kucing mencarinya. Kucarikan kardus untuknya agar ia bisa tidur dan beristirahat. Eh ia ikut masuk ke dalam rumah dengan percaya diri. 

Beberapa kucing dewasa seperti Cindil, Kemoceng nampak sinis dan tidak menerimanya. Kuatir ia dipukul, kukeluarkan si anak kucing. Kebersihan wajahnya yang kotor dengan tisu. Kini ia bisa beristirahat di dalam kardus dengan hangat atau tidur di atas alas kaki. Jika lapar dan haus sudah ada makanan dan minuman. Ya sembari menunggu ada kucing lain atau pemiliknya menjemputnya. 

Si anak kucing hitam nampak sedih ketika kutinggal di teras. Semoga itu pilihan yang terbaik baginya. 

~ oleh dewipuspasari pada April 7, 2025.

Tinggalkan komentar