Seruit Lampung

Ada makanan Lampung yang aku masih ragu menyantapnya secara benar hingga kini. Masakan tersebut adalah seruit. Tradisi nyeruit lekat dengan masyarakat Sai Bumi Ruwa Jurai.

Seruit umumnya berupa ikan sungai yang dihidangkan dengan cara dicampur dengan mentimun, terong, kemangi, sambal, dan tempoyak. Oleh karena keberadaan tempoyak ini aku gentar menghadapi seruit yang sudah dicampur dan memilih yang dihidangkan ala lalapan dengan sambal dan tempoyak terpisah.

Aku pernah menyantap tempoyak waktu berkunjung ke Bangka. Tempoyak adalah daging durian yang difermentasikan. Rasanya asam dengan aroma yang tajam. Dulu aku terkejut ketika rasanya dan enggan untuk menyantapnya lagi.

Beruntung ada beberapa tempat yang menyajikan seruit secara terpisah. Ada berbagai lalapan yang sudah direbus kemudian disajikan dengan sambal dan tempoyak.

Ikannya sendiri bisa berupa ikan goreng atau ikan bakar. Di tempat lain ikan yang dipepes dan dipindang juga bisa dibuat seruit.

Lalapannya ini yang unik karena biasanya berbeda-beda di tiap tempat makan. Biasanya ada terung, mentimun, labu siam, daun kemangi, dan kedondong. Ada juga yang menaruh buah kweni muda, jengkol, wortel, pare, dan dedaunan seperti daun jambu monyet.

Sedangkan sambalnya seperti sambal terasi atau sambal dilan. Bahannya ada cabe, terasi, bawang merah, irisan mangga kweni, jeruk limau, dan buah rambai.

Aku suka sambalnya. Lalapannya seperti terung dan kedondong juga enak. Hanya aku belum berani jika semua dicampur jadi satu bersama tempoyak.

Seruit sendiri merupakan simbol kekerabatan dan kebersamaan di kalangan warga Lampung. Nyeruit adalah ajakan untuk berkumpul dan makan bersama.

~ oleh dewipuspasari pada April 20, 2025.

Tinggalkan komentar