Three Sisters, Konflik Tiga Saudari dan Toko Manisan

Ada banyak novel dan film dengan judul Three Sisters. Salah satu film drama dari Jepang yang menurutku menarik dalam menyajikan kisah tiga saudari adalah Three Sisters (Rokugatsudô no sanshimai) yang dirilis tahun 2014 dengan naskah skenario yang digarap oleh Ryûji Mizutani.

Tiga bersaudari itu adalah Shizue (Yoh Yoshida), Namie (Kazue Fukiishi), dan Sakae (Eri Tokunaga). Ketiga bersaudara itu terkenal di kawasan kecil di Kagoshima karena kecantikan dan kehidupan percintaan mereka yang malang. 

Shizue bercerai karena suaminya gemar judi dan main perempuan. Padahal ia adalah anak perempuan tercantik di keluarga tersebut. Anak kedua, Namie, kembali ke rumah keluarga setelah mengajukan perceraian. Sedangkan anak ketiga mengagalkan pertunangan dan diam-diam melakukan affair dengan pria beristri. 

Ketiganya berkumpul di rumah ibunya yang juga merupakan toko yang menjual manisan dan kue-kue tradisional Jepang. Ibu dan ayah mereka sendiri telah bercerai tapi masih tinggal bersama dan menjalankan toko bersama. 

Suatu ketika Toru (Kanji Tsuda) datang ke rumah dan memohon agar Namie kembali ke dirinya. Ia membantu keluarga tersebut menciptakan produk baru dan menjualnya ke festival lentera. 

Apakah produk baru berupa permen cokelat dengan isian krim ubi manis itu akan laris dan mengubah kondisi bisnis rumahan yang sedang lesu tersebut? 

Cerita yang Manis

Seperti manisan dan camilan yang mereka jual, cerita dalam film yang disutradarai oleh Sasabe Kiyoshi ini juga manis dan hangat. Ceritanya sederhana tentang satu keluarga yang berupaya keras mempertahankan usaha rumahan dengan nasib buruk percintaan yang dialami anggota keluarga. 

Shizue adalah si bijak yang tenang. Ia peduli dengan adik-adiknya dan kerap menyuarakan pendapatnya dengan tenang. Ia meminta Namie bersikap sabar dan baik kepada suaminya. Ia kasihan melihat Toru yang seperti putus asa agar Namie membatalkan perceraian. Ia juga tak suka adiknya, Sakae, melakukan affair. 

Sementara Sakae adalah tipe pemberontak yang ingin berbuat apa saja. Namun di sini ia diperlihatkan mengalami perubahan karakter yang lebih baik. 

Bagian yang menarik dari film ini adalah ketika mereka berinovasi dengan produk makanan baru. Mereka membuat lapisan seperti permen cokelat dan lapisan matcha dalam stik. Lalu isiannya adalah krim ubi manis. Jika didinginkan makan seperti es krim. Wah aku jadi ingin mencobanya. 

Pada bagian akhir film juga ada produk baru lainnya yang juga nampak lezat. Semacam kue ubi mungil berwarna jingga. 

Melihat film ini saya ikut tergugah dengan semangat para pedagang yang terus berupaya meski tempat mereka mulai sepi, ekonomi lesu, dan mulai banyak kompetitor. Mereka kompak berupaya bersama agar perdagangan di tempat mereka kembali maju. 

Visual film ini cantik dan akhir ceritanya juga manis. Petunjuk akhir film dimasukkan oleh si pembuat hingga bagian kredit muncul. Apakah Namie akan kembali bersama suaminya? Kalian akan mengetahuinya. 

Gambar dari JFF Theater. 

~ oleh dewipuspasari pada Mei 10, 2025.

Tinggalkan komentar