Diskusi Seru tentang Tips dan Tantangan Museum Meningkatkan Engagement ke Masyarakat

Hari Museum Internasional diperingati dengan beragam kegiatan. Salah satunya adalah kegiatan konferensi museum yang diisi dengan banyak paparan dan diisi selama dua hari, 22-23 Mei di Museum Nasional Indonesia. Penyelenggaranya adalah ICOM Indonesia. Para pesertanya adalah para perwakilan museum, para profesional, sahabat museum, dan juga masyarakat umum.
Nah salah satu bahasannya adalah diskusi panel dengan berbagai topik yang umum dijumpai di museum-museum Indonesia. Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok agar diskusi bisa berlangsung lebih intim.
Saya masuk ke dalam kelompok tiga dengan narasumber perwakilan Amika Jakarta yang sekaligus juga Kepala Museum Keprajuritan, yaitu Muh. Basyir. Museum ini Di bawah Pusat Sejarah Mabes TNI.
Museum Keprajuritan terletak di TMII. Museum ini baru saja direnovasi, terutama koleksi dioramanya di lantai dua. Kini fasilitas museum jadi lebih lengkap. Ada kafe juga ruang untuk pemutaran film yang bisa diakses pengunjung umum
Menurut Pak Basyir, museum harus pro aktif mendekatkan diri ke masyarakat. Museum bisa mendatangi masyarakat sekitar, ke sekolah, ke perusahaan, atau juga ke masjid, sehingga mereka lebih kenal.

Ia mencontohkan Museum Keprajuritan yang tampil lebih ‘ramah’ dengan adanya kafe dan spot-spot yang menarik. Mereka yang awalnya hanya ingin ngopi dan swafoto, akhirnya tertarik untuk melihat-lihat koleksi museum, ujarnya. Karena itu museum yang dikelolanya menjadi inklusif, bisa dikunjungi siapa saja.
Baginya pihak pengelola museum perlu melakukan pemetaan akan masyarakat sekitar museum. Ia mencontohkan Monumen Pancasila Sakti, di mana masyarakat kemudian terdorong rasa memiliki monumen tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dan The power of connection. Perlu ada kolaborasi antara pihak museum dan komunitas/masyarakat sehingga terwujud banyak program, dengan demikian masyarakat bisa berkali-kali datang ke museum.
Museum juga bisa bekerja sama sesama museum beda negara. Pak Basyir mencontohkan kerja sama dengan museum di Belanda dengan pertukaran koleksi. Pihak Belanda ingin meminjam meriam yang pernah digunakan di Jerman dan Spanyol kemudian juga pernah digunakan di Indonesia.
Tentunya ada proses tawar-menawar dan pertimbangan tertentu apakah permohonan tersebut diterima atau tidak, serta apa koleksi yang nantinya dipinjam oleh Indonesia sebagai gantinya. Selain pertukaran koleksi, juga ada konferensi sejarah militer dunia di mana tiap peserta bergantian jadi tuan rumah.

Dari para peserta juga ada wawasan yang menarik dan inspiratif. Suster dari Museum Santa Maria bercerita pengunjung museum rata-rata murid, alumni, dan orangtua murid. Masyarakat jarang yang tahu bahwa museum tersebut terbuka untuk umum.
Gedung sekolah tersebut punya banyak cerita karena bangunannya berdiri tahun 1840an. Juga ada koleksi relik. Saat ini museum sedang direnovasi. Setelah renovasi, Museum Santa Maria siap menerima kunjungan dari masyarakat umum.
Rima dari Indonesia Heritage Society berharap ada kolaborasi antar museum. Terutama, yang memiliki koleksi sejenis atau berkaitan sehingga kepingan sejarahnya lengkap.
Sedangkan Novel yang merupakan reporter sejarah mengeluhkan masalah birokrasi, komunikasi dan respon. Ia menduga respon yang lama tersebut karena pihak museum kekurangan SDM. Mereka tak punya SDM khusus menangani administrasi persuratan.
Sementara itu Bonita dari Museum Radya Pustaka dan Museum Keris Solo membuka kran seluasnya untuk kerja sama. Di museumnya ada tim cyber promo dan medsos aktif sehingga hubungan dengan masyarakat cukup bagus karena respon yang cepat.
Tentang program kolaborasi dengan komunitas, Gilang mencontohkan sahabat Museum Konferensi Asia Afrika yang mempunyai banyak kegiatan dan banyak klub. Anak muda di sana sering berkegiatan di saja bergantung minat dari klub bahasa, klub buku, dan lainnya.
Acara dipungkasi dengan kesimpulan agar museum bisa dekat dengan masyarakat yaitu koneksi, kolaborasi, tim medsos dan administrasi persuratan yang baik, dan yang tak kalah penting adalah kecukupan SDM yang berkompeten den memiliki sertifikasi sesuai bidang pekerjaannya.
