Perban

Seperti yang diperkirakan sebelumnya, ia meronta-ronta begitu dahsyat ketika lukanya dibersihkan. Si paramedis untungnya telah memasangkan collar ke kucing tersebut sehingga aman dari gigitan. Sementara aku memandang liku si kucing dengan ngilu. Lukanya begitu dalam dan lebar. Apabila aku menunda untuk memeriksa lukanya, maka bisa jadi lukanya akan memancing hewan-hewan yang tak ingin kulihat.

Jadi mungkin ia memang sekarat saat itu. Saat matanya nanar dan mulutnya terbuka. Waktu itu mungkin ia sedang demam dan kritis karena lukanya mulai membusuk.

Waktu itu aku tak tahu sama sekali akan lukanya. Kupikir ia keracunan. Ketika keesokan harinya tubuhnya menguning, kupikir itu proses dari tubuhnya mengeluarkan racun. Baru ketika badannya berbau tak sedap, aku mulai curiga dan memeriksa tubuhnya.

Luka itu tak terlihat dari luar. Namun, ketika aku meneliti tubuhnya dan melihat ekornya, barulah nampak lukanya yang parah. Aku hanya mampu membersihkannya dengan larutan garam dan kemudian memberinya obat merah. Itupun tak benar-benar bersih karena si kucing beberapa kali hampir menggigit. Pastinya sakit ketika aku menyentuh lukanya.

Ketika dokter memberitahuku untuk mengganti perbannya setiap hari, bebanku terasa berat. Biaya PP ke klinik plus bantu perban masih jauh lebih murah dibandingkan biaya opname harian. Namun ke klinik setiap hari hingga dua mingguan itu tak mudah. Benar-benar menguras fisik, mental, dan uang.

Padahal ia bukan kucingku. Apa yang telah kulakukan?

Ketika melihat matanya yang nampak percaya padaku, aku tahu ini harus kulakukan. Apabila aku jadi kucing, mungkin aku juga sama sepertinya, meminta bantuan ke raksasa yang kupercaya untuk menolongku.

Semoga lukamu cepat pulih ya pus.

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 4, 2025.

Tinggalkan komentar