Selamat Tinggal Kwak

Hingga kemarin aku masih berharap kucingku belang kecil itu masuk ke dalam pintu khusus kucing dan mengeong minta makan. Bahkan aku beberapa kali membayangkannya. Aku berharap ada keajaiban. Namun, harapanku langsung pupus ketika mendengar kabar dari tetangga.
Aku sudah mengumumkan kabar kehilangan tanggal 25 Juli ke grup tetangga dan ke satpam. Siapa tahu mereka melihatnya. Sudah tiga hari kala itu Kwak tak pulang. Karena aku sedang sakit, aku tak bisa mencarinya segera. Baru setelah tanggal tersebut, aku mulai mencarinya ke gang, tiap selokan, dan rumah-rumah tetangga. Sayangnya aku tak beruntung menemukannya.
Kutitipkan informasi ke kucing liar. Lalu berakhir dengan kucing Creamy yang hilang seharian dan kemudian sakit keras. Ooh perhatianku teralihkan ke anak kucing, Creamy, dan juga si Mumu yang harus kuobati setiap harinya. Namun, aku tak pernah melupakan Kwak. Aku merindukannya.
Kwak memang kesehatannya tak begitu baik sejak dilahirkan. Seluruh saudaranya meninggal bulan Februari silam. Aku memakamkan semuanya di halaman. Setelah dirawat di klinik beberapa hari, mereka semua tak bertahan. Hanya Kwak yang selamat.

Kwak beberapa kali sakit dan sembuh. Mungkin karena itu ia jadi kurus dan mungil meski makannya cukup gembul. Aku paling suka dengan antusiasnya soal makanan. Ia nomor satu berlari lebih dulu jika aku membuka makanan kaleng atau memasak ikan.
Aku suka kecerewetannya. Aku kadang seperti mengajaknya bercakap-cakap, di mana ia juga seperti menimpaliku. Suaranya lucu seperti berkata keeeyong… keyooong dengan mata berbinar dan kepala ditelengkan. Karena itu kadang ia kupanggil kucing keyong.
Ia paling akrab dengan Creamy. Mereka suka tidur dan main bareng. Sama Cemong dan Opal yang merupakan saudara tirinya, ia juga disayang dan suka dijilati. Ia seperti adik kecil semuanya. Bahkan tubuhnya nampak lebih kecil daripada Creamy yang lebih tua sebulan darinya.
Ia memang nampak kurang sehat saat itu. Aku obati dengan sirup yang ada di rumah dan makanan kesukaannya. Aku ingat saat itu ia mulai kurang bernafsu makan dan tatapannya seperti mau menangis.
Aku membersihkan wajahnya dan berniat membawanya ke dokter setelah badanku agak mendingan. Aku tak menduga itu pertemuanku terakhir dengannya.
Ia tak pernah kembali.
Aku masih merindukannya. Ia kucing keyongku yang cerewet dan menggemaskan.
Hal yang membuatku sedih sekali tetanggaku tak mengabariku akan kematian kucingku. Sudah lama baru aku tahu kabar itu kemarin. Aku tak melihat jenasahnya. Aku tak bisa memakamkannya bersama saudara-saudaranya.
Selamat tinggal Kwak. Aku selalu menyayangimu.

