Membaca “1984” George Orwell

Sejak menuntaskan Animal Farm, aku jadi penasaran dengan buku-buku karya George Orwell. Ada dua buku yang kulirik, yaitu Burmese Days dan 1984. Novel Burmese Days belum selesai kubaca dan belum kulanjutkan. Demikian pula dengan 1984. Entah kenapa kemudian aku tertarik membaca kembali 1984 dari awal.
Oh iya artikel ini merupakan utas baca jadi kemungkinan lompat-lompat dan hanya merupakan kesan, juga poin utama dari bab yang telah kubaca.
Dari pengantar ada beberapa poin yang menarik. Rupanya novel 1984 merupakan karya Orwell terakhir. Tujuh bulan pasca karyanya terbit, Orwell meninggal, tepatnya pada Juni 1949.
Meski buku ini ditulis akhir tahun 1940-an dan terinspirasi dari kondisi dunia saat itu di mana beberapa negara dihantui totaliterisme seperti di China dan Uni Soviet kala itu, beberapa hal dalam buku ini seperti meramalkan masa depan. Masih ada bagian yang relevan dengan kondisi saat ini.
Bagian pada cover belakang buku juga menarik. Ada sinopsis alias blurb. Seperti berikut ini: Sepanjang hidupnya, Winston berusaha menjadi warga negara yang baik yang patuh kepada setiap aturan. Meski ya dalam hatinya ia mulai antipati terhadap kediktatoran. Ia tak berani melakukan perlawanan secara terbuka.
Ada polisi pikiran, teleskrin dan mikrofon tersembunyi sehingga privasi hanyalah fantasi. Sejarah pun ditulis ulang sesuai kehendak partai dan negara berkuasa mutlak atas rakyat. Bagi mereka yang berbeda atau menentang ada risiko akan diuapkan.
Novel 1984 ini adalah karya satir. Novel ini menyuguhkan gambaran kehidupan masyarakat totalitarian, setiap kata disadap, setiap gerak warga dipelajari, dan setiap pemikiran dikendalikan.
Membaca blurb dan pengantar ini membuatku deg degan. Kondisinya seperti yang mulai terjadi belakangan ini. Saat ini kita tak pernah benar-benar memiliki privasi, bukan?! Sejarah juga sedang ditulis ulang.
Pada bab 1 bagian 1 ada pengenalan tokoh utama yaitu Winston Smith, staf Kementerian Kebenaran. Kementerian ini mengurusi berita, hiburan, pendidikan, dan seni.
Pada masa itu ada tiga slogan partai: Perang ialah damai; Kebebasan adalah perbudakan; dan Kebodohan adalah kekuatan. Setiap warga merasa diawasi dengan adanya agen rahasia polisi pikiran, serta teleskrin yang bisa menangkap suara sekecil apapun dan menangkap gerak-gerik warga.
Di tempat Winston hampir sepanjang waktu lift tak berjalan karena merupakan bagian dari lomba penghematan. Bahkan aliran listrik diputus saat siang. Duuh kok ini mirip dengan cerita kawan-kawan tentang kondisi tempat bekerja mereka belakangan ini ya.
Meski cerita ini ditulis Orwell tahun 1940-an dan berkisah tahun 1984, sudah ada alat tulis ucap speak-write seperti terjadi saat ini. Sehingga kegiatan menulis apalagi mencelup pena ke tinta sudah merupakan hal yang langka.
Aku baru selesai membaca dua bab. Bagian ini kubaca berulang. Dibandingkan Animal Farm, bahasanya relatif agak sulit dipahami, entah masalah terjemahan atau memang gaya bertutur Orwell yang tidak selugas Animal Farm dan Burmese Days.
Aku penasaran dengan kelanjutan kisah Winston. Namun sepertinya aku bakal perlu waktu lumayan panjang untuk menuntaskannya. Kubaca perlahan-lahan deh untuk lebih meresapi maknanya. Selain itu aku juga merasa gelisah karena ada beberapa poin yang kondisinya mirip dengan kondisi saat ini di negeri ini.
