Kota, Kalcer, dan Cerita: Ilmu dari Ratih Kumala

Kabut dan hawa dingin dulu saling mengisi

Pepohonan besar masih mengisi jalanan di tiap sisi

Paru-paruku setiap hari mendapat udara bersih
Hingga kemudian semuanya tak seperti itu lagi

Itu adalah cerita tentang kampung halamanku di Malang. Sepertinya aku suatu saat perlu membuat ode untuk kotaku, seperti yang kudapatkan dari lokakarya penulisan bareng Ratih Kumala.

Aku beruntung hari Senin (25/8) menjadi satu di antara 15 peserta Lokakarya Penulisan Kreatif Kota, Kalcer, dan Cerita bersama Ratih Kumala. Acara ini masuk rangkaian kegiatan Pekan Sastra Betawi 2025. Acara dibuka oleh Fadjriah Nurdiasih, Ketua Komite Sastra DKJ dan moderator Nicky Rosadi. Kegiatan diadakan di Ruang S. Rukiah Kertapati, Gedung Trisno Sumardjo Taman Ismail Marzuki.

Ratih Kumala namanya melambung berkat Gadis Kretek yang telah dibuat series oleh Netflix. Selain Gadis Kretek, ia juga punya banyak novel beken seperti Tabula Rasa dan Kronik Betawi.

Pelatihan hari tersebut bertujuan agar tiap peserta bisa menghasilkan cerita pendek yang menggambarkan Jakarta. Bisa dari budaya Betawi atau juga suasana perkotaan, misal tentang masyarakat Jakarta yang menggemari CFD dan olahraga lari. Daerah-daerah di pinggiran Jakarta yang masih seperti kampung, seperti kawasan tempat tinggalnya, dan sebagainya.

Di sini drama dimulai, demikian Ratih menyebut pelatihan ini. Ia memulai dengan menyebut cerita pendek sebagai latihan penulisan karya fiksi yang sempurna untuk para penulis pemula. Ia dulu juga memulai karier penulisnya dengan menulis cerpen dan mengirimkannya ke surat kabar dan media cetak lainnya. Buku kumpulan cerpennya seperti Larutan Senja.

Tradisi cerpen dalam dan luar negeri berbeda, kata Ratih . Di dalam negeri umumnya cerpen terdiri dari 10 ribu karakter (termasuk spasi) , 1500-2000 kata, atau sekitar 4-7 halaman (1.5 spasi). Sementara di luar negeri cerpen lebih tebal, rata-rata 3000-7500 kata atau sekitar 15 halaman.

Apa saja elemen-elemen cerita pendek? Menurut Ratih, elemen cerpen ada empat yaitu plot, karakter, dan latar yang dibungkus oleh konflik. Cerpen ada kalanya tidak perlu solusi dan kadang-kadang hanya perlu memberikan masalah tersebut. Tujuannya agar pembaca sadar ada masalah tersebut di sekitar kita.

Karakter dalam cerpen tidak perlu banyak-banyak. Hanya dua karakter juga tidak apa-apa. Nah tiap karakter ini punya motivasi dan masalah. Ketika dua karakter bertemu dengan masalah masing-masing, maka akan bisa menjadi konflik.

Penulis cerpen sebaiknya memikirkan arc character, yaitu perjalanan dan transformasi tokoh dalam cerpen. Bisa berupa perubahan mental emosional dan moral. Tujuannya, agar karakter bertumbuh. Pengembangannya bisa secara implisit, misal melalui satu tindakan ataupun satu dialog kunci, tidak bertele-tele.

Bagaimana dengan setting? Setting waktu yang solid akan menghidupkan ceritamu. Sedangkan setting tempat adalah karakter tersendiri di dalam ceritamu.

Nah, karena cerpennya berkaitan dengan kota dan budaya, maka penulis perlu melakukan eksplorasi tema dan riset. Lakukan kajian pustaka, observasi, interview. Lalu olahlah data menjadi cerita. Kalian juga bisa mengawinkan tema dengan genre. Misal tema serius gender bisa dirupakan dalam genre fantasi atau horor.

Dalam cerpen, Ratih menekankan pentingnya paragraf pertama penting. Tiga kalimat pembuka dalam cerpen merupakan hook yang powerful untuk membuat pembaca meneruskan membaca cerpenmu, jelasnya.

Usai membahas cerpen, Ratih membandingkannya dengan novel. Selanjutnya setiap peserta diminta latihan menulis dan membacakan tiap karyanya untuk dikomentari.

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 28, 2025.

Tinggalkan komentar