Mengejar Rave Party

Rave party

Gara-gara film Sirat yang mencari informasi tentang kakak yang hilang ke dalam komunitas rave party, aku jadi ingat pengalamanku dengan rave party saat masih jadi kuli tinta. Jaman dulu rave party itu terkesan misterius. Ada desas-desus aneh tentang pesta ini. Ada yang bilang acaranya begitu liar.

Cerita tentang rave party itu kuawali saat masih ngepos di lifestyle. Cangkupan life style termasuk dunia malam. Saat itu entah kenapa aku penasaran banget dengan rave party, sampai berencana membuat liputan khusus satu halaman.

Sayangnya komunitas rave party waktu itu begitu tertutup. Mereka seperti komunitas underground. Komunitasnya tertutup dan infonya juga terbatas, hanya di kalangan mereka. Alhasil untuk mendapatkan narasumber begitu susah. Aku baru mendapat kepingan-kepingan informasi.

Dari info yang kuperoleh. Rave party era dulu suka mengadakan di tempat-tempat yang sepi dan jauh dari pemukiman. Mereka bisa mengadakan di gudang pabrik atau tanah lapang di pinggiran kota.

Rave party disebut kali pertama muncul di Inggris sebagai pesta-pesta liar sebelum kemudian identik dengan pesta semalam penuh dengan lampu warna-warni dengan irama tekno yang berirama cepat. Dari Inggris kemudian menyebar ke Amerika dan negara lainnya. Rave party terasa misterius karena sering diadakan di tempat yang tak umum dengan komunitas yang relatif eksklusif dan tertutup.

Waktu itu aku sebenarnya punya agenda lain ketika hendak membuat ljpsus rave party. Aku ingin tahu apa mereka juga melakukan transaksi narkoba di acara itu karena tarian yang intens seperti itu biasanya lekat dengan napza. Sayangnya sebelum sampai berhasil menyusun lipsus, aku dipindahkan ke pos kesehatan

Saat sudah sibuk dengan posku, eh temanku yang anak kriminal bercerita malamnya ia mengantar pulang cewek yang lagi mabuk dengan baju seadanya setelah pesta musik ajib-ajib di lapangan di pinggir kota digerebek polisi. Duh itu inceranku. Aku yakin itu rave party.

Setelah itu rave party berkembang luas sehingga bersifat terbuka dan skalanya pun membesar. Lokasi kegiatan bisa di pantai, di bukit, di gudang, atau di tempat yang biasa digunakan untuk event musiknya. Musiknya rata-rata musik elektro kencang atau ada yang juga menggunakan konsep senyap dengan tiap peserta memakai earphone masing-masing.

Rave party sepertinya menginspirasi diadakannya Djakarta Warehouse Project (DWP) yang biasa diadakan di Kemayoran tiap tahun. Atau, DWP adalah rave party dengan skala besar dan terbuka. Musiknya juga pakai EDM.

Aku sendiri malah tidak sengaja ikut rave party di Pantai Patong. Apaan ya ada musik ajib-ajib di pantai, lalu ada yang pakai kostum aneh-aneh seperti pesta? Eh ternyata rave party. Karena penasaran aku pun nonton sebentar karena besoknya ada ujian kuliah. Setidaknya lega akhirnya bisa merasakan rave party.

Meski dulu penasaran banget dengan rave party, aku malah sampai sekarang tak tertarik dengan DWP. Aku belum pernah datang ke acara musik itu. Mending nonton Slipknot daripada DWP hehehe.

Gambar dari close-magazine

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 12, 2025.

Satu Tanggapan to “Mengejar Rave Party”

  1. 👍💐

Tinggalkan Balasan ke Blogombal Batalkan balasan