Satwa Sumatra dan Kerusakan Lingkungan

Seminggu terakhir aku jarang membuka media sosial seperti X. Aku merasa sesak nafas setiap membukanya karena berita-berita tentang kerusakan lingkungan dan korban bencana yang berseliweran. Kerusakan lingkungan semakin parah dan ada di mana-mana. Korban bencana juga makin banyak, di mana korbannya di antaranya adalah para satwa.

Bukan… aku tidak abai soal bencana Sumatra dan bencana ekologis lainnya di berbagai daerah di Indonesia. Aku hanya menjaga mental dan mengontrol emosiku.

Aku jadi sering menangis setiap membaca adanya hutan yang dibabat dengan kejam, satwa yang terluka oleh kekejaman manusia, dan saudara-saudara kita di Sumatra yang terlunta-lunta karena bencana alam. Setiap hari aku menyapa angin, udara, dan bercakap-cakap dengan alam untuk menyampaikan kegelisahanku dan berdoa agar alam cepat pulih.

Aku tahu akan ada masalah sejak melihat kebun sawit yang merajela di Sumatra dan banyaknya bekas-bekas tambang yang dibiarkan begitu saja. Bukti-bukti itu nyata terlihat ketika kita hendak mendarat di daratan Sumatra, baik di Lampung, Batam, maupun daerah-daerah lainnya di Sumatra. Namun, aku tak memperkirakan masalah itu akan mengakibatkan bencana yang begitu dahsyat dan korbannya adalah masyarakat biasa, flora, dan fauna.

Kadang-kadang rasanya tidak adil. Mereka yang jahat, mereka yang serakah, mereka yang merusak malah tidak mendapatkan buah dari kekejian mereka. Tapi bisa jadi rasa bersalah akan terus mengejar mereka.

Aku hanya bisa ikut berdonasi dan mendoakan agar bumi Sumatra kembali pulih. Yuk kita tanami lagi dengan tanaman yang lebih ramah lingkungan. Kita juga sayangi dan lindungi satwa Sumatra karena bumi bukan hanya untuk manusia.

Setiap kali melihat gajah Sumatra, aku berharap mereka selalu aman dan bisa tersenyum karena mereka bisa hidup tentram di rumah mereka.

~ oleh dewipuspasari pada Januari 10, 2026.

Tinggalkan komentar