Kok Terharu ya Nonton Final Culinary Class Wars Season 2

Culinary Class Wars musim kedua sudah ditayangkan. Bahkan kemarin sudah keluar nama pemenangnya. Dibandingkan musim pertama, aku merasa lebih terhubung pada musim kedua ini. Bahkan aku ikut terharu ketika menyaksikan babak final dan mengetahui juaranya.
Dibandingkan musim pertama, musim kedua ini lebih kejam dan kurang konsisten. Ada 80 peserta dari sendok hitam yang menariknya tak sedikit yang merupakan chef berpengalaman.
Bedanya dengan musim pertama hanya ada 18 peserta dari sendok putih. Dua lainnya adalah chef yang dulunya sendok putih pada musim pertama yang mendapat kesempatan kedua. Mereka harus ikut bertarung bersama para sendok hitam untuk mendapatkan kesempatan masuk ke babak kedua. Salah satu peserta yang ikut kesempatan kedua yang kemudian lolos adalah Choi Kang-rok yang dikenal sebagai ahli rebusan. Dia dulu pernah meraih juara di ajang Masterchef Korea dan punya acara serial kuliner di Netflix, The Blank Menu for You.
Ada beberapa chef sendok putih yang kukenal dari acara Please Take Care of My Refrigerator yang setiap Minggu malam kutonton. Mereka adalah Son Jong Won, Sam Kim, Jeong Hoyoung, dan tentunya Choi Kang-rok.
Dalam acara Please Take Care of My Refrigerator, Choi Kang-rok sering nampak kewalahan karena waktu memasak yang sangat pendek, yakni 15 menit. Namun, lambat laun ia mulai beradaptasi dan berhasil menang di beberapa sesi. Ia kemudian absen karena sibuk mengisi acara masaknya.
Nah, pada babak kedua, seluruh peserta dari Please Take Care My Refrigerator lolos. Jeong Hoyoung si chef penari juga kemudian diloloskan karena nilainya sangat kompetitif.
Babak berikutnya sangat kejam dan membingungkan. Oleh karena aturannya tidak konsisten. Awalnya pertandingan antara chef sendok putih melawan sendok hitam. Jika kalah, maka seluruh chef sendok putih atau sendok hitam akan gugur semuanya. Tapi kemudian sistem direvisi, ada pertandingan khusus yang kemudian membuat dua chef sendok hitam bertahan dan menyusul ke babak berikutnya.
Babak berikutnya juga sistemnya kurang konsisten. Setelah ada tujuh regu yang calon menang dan lainnya calon kalah, eh hanya satu regu yang dieliminasi. Kemudian, ada pertandingan lagi yang membuat anggota tiap regu saling berhadapan.
Dari sini aku merasa sistemnya kurang adil. Karena aturannya kurang konsisten dan ada pihak yang seperti diuntungkan.
Setelah Sam Kim tereliminasi melawan sahabatnya, Jeong Hoyoung, kemudian menyusul Son Jong Won keluar, aku jadi malas menonton acara ini. Chef jagoanku Son Jong Won sudah tersingkir. Ehm nggak ada kesempatan lagi ia muncul.
Namun, masih ada chef penari dan chef rebusan yang juga menjadi andalanku. Mungkin karena aku sering menyaksikan acara kedua chef ini aku jadi merasa terhubung.
Tantangan berikutnya adalah neraka wortel. Chef rebusan berhasil lolos. Sayangnya chef penari kemudian tersingkir.

Babak final pun antara Choi Kang-rok si chef rebusan melawan Monster Kuliner. Ya, aku mendukung si chef rebusan karena ia memang ahli di masakan rebusan dan juga rendah hati.
Aku tersentuh oleh kata-katanya Kang-rok saat menyuguhkan makanannya yang sederhana. Makanan tersebut adalah tahu wijen dengan bulu babi dalam daun labu. Kuahnya adalah kuah udon yang terdiri dari berbagai rebusan.
Masakan tersebut nampak sederhana. Tapi dewan juri nampak menyukainya dan menghabiskan makanannya.
Ketika si koki rebusan akhirnya menang, aku merasa terharu dan tersentuh. Ia tetap Choi Kang-rok yang biasanya. Ia tetap rendah hati dan canggung, dengan penampilan bertopi dan berkacamata seperti seorang insinyur. Selamat ya chef rebusan.
Gambar dari Netflix
