“The Bookstore of Illusion”, Dongeng yang Berjarak dengan Pembaca

The bookstore of illusion

Buku-buku dengan latar tempat toko buku dan perpustakaan selalu menarik perhatianku. Apalagi ketika dalam blurb disebutkan bahwa toko buku tersebut bersifat misterius dan dapat muncul di mana saja. Konsep ini segera mengingatkanku pada berbagai cerita fantasi tentang restoran dan rumah yang bisa muncul di mana saja. Dengan ekspektasi yang cukup tinggi, aku pun memutuskan meminjam buku “The Bookstore of Illusion” dari Perpustakaan Berjalan.

Cerita berpusat pada Yeon-seo, seorang gadis yang memutuskan mendaki gunung karena merasa lelah dan buntu dengan kariernya sebagai penulis. Sejak beralih profesi, belum satu pun karyanya berhasil diterbitkan. Keputusasaan itu mendorongnya untuk menjauh sejenak dari rutinitas dan menjernihkan pikiran.

Dalam perjalanannya, Yeon-seo bertemu dengan seorang pria misterius yang meninggalkan kesan tidak menyenangkan. Sebuah peristiwa di tebing membuatnya mengira nyawanya akan berakhir, namun ia justru kembali bertemu dengan pria tersebut dan menemukan sebuah toko buku di tempat terpencil. Di tempat itulah ia diajak mendengarkan cerita-cerita aneh oleh sang pria, yang ditemani seorang anak perempuan.

Meski sejak awal Yeon-seo kerap menunjukkan rasa kesal terhadap pria misterius tersebut serta cerita-cerita yang ia sampaikan, anehnya ia terus terdorong untuk kembali mengunjungi toko buku tanpa papan nama itu. Sebenarnya, toko buku apakah tempat tersebut, dan siapa sosok pria misterius yang menunggunya?

Cerita Fantasi yang Berjarak
Aku menyukai genre fantasi dan cukup banyak membaca cerita-cerita fantasi maupun fiksi ilmiah. Karena itu, aku menaruh ekspektasi besar pada buku karya So Seo-Rim ini. Namun, sepanjang membaca, aku justru merasa berjarak dengan cerita dan para karakternya.

Pengalaman membaca buku ini mengingatkanku pada dongeng-dongeng klasik tentang dewa-dewi yang sering kutemui dalam cerita rakyat Tiongkok, di mana tokoh-tokohnya lebih berfungsi sebagai simbol ketimbang figur yang mudah didekati secara emosional. Sejak awal, aku cukup kesulitan membangun kedekatan dengan tokoh perempuan utamanya. Cara Yeon-seo bersikap dan berinteraksi, terutama dengan pria asing yang menolongnya, terasa dingin dan ketus.

Padahal kehadirannya di toko buku tersebut merupakan pilihannya sendiri. Karena itu, sikapnya yang terus-menerus diliputi kekesalan terasa janggal. Meski kemudian latar belakang dan masalah pribadinya mulai diperlihatkan, pengembangan karakter Yeon-seo masih membuatku sulit bersimpati kepadanya. Narasi terasa terlalu berpusat pada sudut pandangnya, sementara karakter-karakter di sekitarnya seperti pemeran pendukung yang bertugas mewujudkan mimpinya.

Ada pula bagian yang membuatku mempertanyakan dunia cerita, terutama terkait kebiasaan tokoh utama bepergian seorang diri larut malam ke tempat terpencil. Detail-detail seperti ini terasa ganjil dan membuat dunia cerita kurang membumi. Apakah tidak bisa ia ke toko buku tersebut dalam jam-jam yang manusiawi?

Judul buku ini mengangkat toko buku sebagai pusat cerita, namun latar tersebut terasa belum dimanfaatkan secara optinal. Toko buku hadir hanya seperti tempelan.Yeon-seo sendiri tidak digambarkan memiliki ketertarikan khusus pada buku-buku yang dijual di dalamnya. Tak nampak juga pembeli lainnya. Dengan demikian, latar toko buku seolah dapat digantikan oleh tempat lain tanpa banyak memengaruhi jalannya cerita.

Hubungan romantis yang dibangun di dalam cerita pun berkembang terlalu cepat. Kedekatan emosional ini terasa dipaksakan dan kurang meyakinkan.

Hal yang cukup menarik justru hadir lewat cerita-cerita dongeng yang diselipkan di dalamnya, yang mengingatkanku pada kisah-kisah dewa-dewi klasik maupun cerita dalam novel populer “The Little Prince”. Namun secara keseluruhan, konflik dan jalinan ceritanya masih terasa seperti papan puzzle yang kepingannya belum sepenuhnya lengkap.

Untungnya bukunya tidak tebal sehingga buku ini dapat diselesaikan dengan cepat. Aku sudah ingin segera membaca buku lainnya karena isi buku ini kurang sesuai harapan.

Buku “The Bookstore of Illusion” sempat membuatku berharap pada pengalaman membaca yang magis, seperti konsep restoran yang muncul di mana saja atau rumah berjalan dalam “Howl’s Moving Castle”. Sayangnya, unsur fantasi dan romantis yang ditawarkan belum berhasil menyatu dan memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan.

Detail Buku:
Judul: The Bookstore of Illusion
Penulis: So Seo-Rim
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal: 225 halaman

~ oleh dewipuspasari pada Februari 9, 2026.

Tinggalkan komentar