Baju Lebaran Masih Diburu

Baju

Kemarin aku singgah sebentar ke sebuah pusat perbelanjaan terkenal di Depok untuk nonton bioskop. Sengaja aku pilih tidak begitu sore, biar pulangnya tidak sampai jam berbuka puasa. Meski bulan puasa mungkin karena akhir pekan, mal sangat ramai.

Ketika hendak masuk, aku jadi agak malas dan ingin membatalkan rencana karena aku tak suka keramaian, kecuali niat nonton konser metal. Namun aku sudah memesan tiket, sayang kalau hangus.

Ketika masuk ke dalam mal, aku harus bersabar diam berdiri di eskalator. Biasanya aku seperti berjalan kaki kalau eskalator tidak begitu ramai. Aku tak suka menunggu diam

Hampir setiap lantai ramai. Padahal masih siang. Eh memang sih banyak tempat makan juga buka dan itu tidaklah masalah.

Ya, rupanya yang datang untuk makan dan jajan juga cukup banyak. Sama sih waktu aku pernah datang siang ke Mal Cijantung. Nggak apa-apa sih, itu malah kondisi yang wajar. Kalau semua tempat makan dipaksa tutup saat Ramadan itu yang malah nggak benar.

Ketika masuk di lantai bioskop malah sepi. Yang nonton Hamnet  tak sampai 30 penonton.

Ketika pulang, mal makin ramai. Pengunjung sepertinya mulai mencari tempat makan untuk berbuka puasa. Oleh karena pengunjung padat, aku berjalan pelan-pelan. Dari situ aku melihat tempat-tempat yang menjual baju juga rame.

Aku jadi ingat dulu ibu juga suka mengajak kami ke pusat perbelanjaan untuk membeli baju baru. Kadang kami dapat dua baju, atau malah lebih jika bujetnya masih ada.

Saat itu kami hanya mendapat baju baru saat jelang lebaran. Di luar momen itu ya dapatnya baju lungsuran alias bekas kakak.

Mungkin sejak kuliah aku tak membeli baju baru. Biasanya oleh ibu dibelikan, aku sih ngikut saja. Pakai saja yang dibeli ibu. Saat sudah bekerja aku membeli baju lebaran 1-2 buah.

Mungkin lima tahun terakhir ini aku kembali tak membeli baju baru saat lebaran. Saat ini juga belum tertarik untuk membeli karena sudah sempat beli tahun lalu.

Aku merasa bersalah andai beli lagi karena bajuku sudah cukup banyak. Aku bisa menggunakan baju lamaku, tinggal di mix-match saja.

Aku juga berencana mengosongkan sedikit lemari bajuku, biar nggak pusing menata setiap kali habis setrika baju.

Melihat masih ramenya toko baju, aku pun ikut senang dan bersyukur. Syukurlah roda perekonomian bergerak. Si pembeli senang dapat baju baru, pihak toko pun juga hepi produknya laku. Pabrik garmen juga masih bisa bernafas lega.

~ oleh dewipuspasari pada Maret 2, 2026.

Tinggalkan komentar