GET CLOSER!

Rush hour!

Rutinitas kembali berjalan

jalanan disesaki oleh asap knalpot,umpatan, bunyi klakson, dan manusia

semua berbenah, bersiap, menghadapi hari

setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun

rutinitas itu bagai remote kontrol

dan insanlah sebagai robotnya

Jarum jam menunjukkan pukul 8 pagi. Kendaraan mulai menyemut. Perlahan-lahan mereka mengarungi arena jalanan. Mereka saling mendahului, sukar untuk mengalah. Ketegangan dan kemarahan siap terlampiaskan.

Itulah situasi Jakarta pagi ini, dan seperti pagi-pagi yang kemarin tetap bernuansa kemacetan. Metro mini, motor, mobil, taksi, bemo, bus, dan pelaku jalanan lain harus bersabar memasuki kawasan Mampang. Tujuan mereka beragam, ada yang hendak menuju jalan Sudirman, ke Jakarta Utara, ke Blok M, atau ke Senayan.

Di antara para pejuang jalanan, salah satunya adalah angkutan bernomor 75. Setiap hari rute perjalanannya sama, dan mengangkut penumpang-penumpang itu juga. Memang tidak semua penumpangnya sama, iyalah, Jakarta kan penduduknya padat, dan semakin hari semakin buanyak penumpangnya.

Kadang-kadang ada semacam pertanyaan,

kenapa orang-orang daerah berbondong-bondong datang ke Jakarta,

apa yang mereka cari,

kenapa mereka tidak membangun daerahnya,

apa yang mereka cari,

kenapa mereka rela tidur beratapkan langit,

apa yang mereka cari?

Jakarta pagi ini, 75 memasuki Warung Buncit, penumpang sudah banyak yang berdiri. Kernet masih berteriak-teriak, berupaya mengalahkan bunyi klakson, musik mobil, dan sempritan polisi.

“Blok M, Senayan, kosong, kosong Mbak, Pak!”

Gadis muda, berambut cepak, berkulit kuning, mengenakan blazer coklat tua, senada dengan celana kainnya naik ke angkutan tersebut, dan berdesakkan dengan penumpang lainnya. Bahunya menyandang tas wanita berwarna coklat, tangan lainnya memegang kursi penumpang. Tak lama kemudian, seorang lelaki berambut lurus sebahu menyetop 75, dan naik angkutan itu dari pintu depan. Mata mereka bertumbukkan, si lelaki terperangah, tak kuasa menahan keterkejutannya. Si gadis hanya mengucap “Oh” dalam hati saja.

Mereka saling kenal?

Penulis kehidupan mengeluarkan catatannya.

10 Mei 2004

Gadis menaiki 75 dari pintu belakang pada jam 8:05. Lelaki muda menaiki 75 dari pintu depan jam 8: 30. Posisi mereka berjauhan, gadis berada dekat pintu belakang, sedangkan si lelaki berada di belakang sopir. Mereka sekilas berpandangan ketika dua orang pengamen datang. Lelaki keluar terlebih dahulu.

12 Mei 2004

Lelaki menaiki 75 dari Pasar Mampang, sedangkan Gadis naik dari Kantor Pos, namun saat itu penumpang penuh, sehingga mereka berjauhan, namun setidaknya lebih dekat daripada kemarin, 20 cm lebih dekat. Mereka kembali saling menatap, ketika si kernet menarik ongkos.Lelaki keluar terlebih dahulu.

13 Mei 2004

Gadis akhirnya lega, dia mendapatkan tempat duduk. Orang tua di dekatnya turun di Senayan, digantikan oleh si lelaki yang naik dengan tampang kebingungan. Mereka saling menatap, kini lebih lama 3 detik. Posisi mereka hanya dipisahkan oleh dua tempat duduk.

Kini mereka berjumpa lagi. Lelaki itu merasa takjub dengan kehadirannya. Apakah ini yang namanya suatu takdir. Serendipity?

75 telah memasuki kawasan yang tenang, kini dia melangkah dengan kesetanan. Penumpang yang belum terbiasa, merasakan adrenalinnya terpacu. Bak rollercoaster, 75 menerjang jalanan. Para penumpang merasa dikocok-kocok.

Penumpang di tengah banyak yang turun, jarak yang terbentang hanya selebar 4 penumpang. Lelaki itu memandang gadis lagi, tatapan matanya ramah, seolah mengajak gadis berkenalan. Gadis membalas tatapannya sekilas, kemudian mencari sesuatu di tasnya.

Jarak menyempit, tinggal 2 penumpang. Lelaki merasa gelisah, gadis juga merasa tegang.

Penumpang dua orang itu turun, kini tiada lagi hambatan.Lelaki semakin gelisah, gadis juga merasa adanya ketegangan.

Akhirnya saat yang ditunggu lelaki itu tiba, penulis kehidupan memperhatikan dan bersiap-siap mencatat di agendanya.

“Nona.”

Gadis memandang

“Emmm….Nona boleh berkenalan..”

tangannya mengulur, gadis hanya menatapnya.

“Namaku Jo….nama lengkapku Paijo..”

“Boleh, namaku Dana.”

Si gadis mengulurkan tangannya, ketika tangan mereka saling menggengam. Gadis berpura-pura salah satu barangnya terjatuh, dan tangan lelaki yang masih bebas mencoba membantunya mengambil. Gadis tersenyum, siasatnya berhasil. Dengan sigap, dia mengambil barang di tasnya. Dan..

“Jo..Kamu tertangkap.”

Dia berhasil memborgol Jo.

“Akhirnya Kamu, pencopet yang suka beroperasi di 75 tertangkap. Ku selama ini diam-diam mengawasimu.

Jangan kuatir habis ini kita tiba di kantorku.”

Jo terpengarah, karena keterjutannya dia hanya terpaku, namun dari bibirnya terucap

“Kamu polisi?”

~ oleh dewipuspasari pada Mei 26, 2008.

Satu Tanggapan to “GET CLOSER!”

  1. hm…aku sampai gak tahu ini cerita nyata atau bukan ?….hebat…hebat…

Tinggalkan Balasan ke Juli Triharto Batalkan balasan