Wartawan Bodrek yang Meresahkan

Dulu seorang wartawan disegani karena kemampuannya menulis bisa mengubah sebuah paradigma ataupuan meruntuhkan rezim di sebuah negara. Namun, sekarang dengan semakin banyaknya media cetak dan elektronik, bermunculan lah sejumlah wartawan bodrek yang malah meresahkan warga.
Dijuluki wartawan bodrek bukan karena menyandang status pekerja di salah satu perusahaan obat, namun untuk merujuk kuli tinta yang tidak memiliki media. Mereka datang di salah satu acara dengan membawa kartu nama atau kartu pers dengan nama media yang tidak pernah kita dengar. Lantas apa tujuannya? Apalagi kalau bukan UUD, ujung-ujungnya duit.
Biasanya mereka datang beramai-ramai, 10 atau malah hingga 50 orang. Even yang mereka gemari seperti konferensi pers, launching produk, atau ulang tahun suatu perusahaan. Mereka datang tidak diundang dengan alasan meliput kegiatan adalah hak mereka. Alasan itu bisa dimaklumi. Namun, mereka menuntut sesuatu dengan kehadiran mereka, yaitu duit.
Salah satu perusahaan asuransi di Jakarta Pusat yang baru merayakan hari jadinya, menjadi korban mereka baru-baru ini. Pihak humas mereka kelabakan ketika sejumlah wartawan tanpa media itu mendatanginya. Tidak tanggung-tanggung ada 70 wartawan bodrek. Padahal, pihak humas itu mengaku tidak pernah menghubungi pers manapun. Ketika pihak humas mencoba tidak menanggapi mereka marah-marah dan hendak berbuat anarki. Akhirnya pihak humas mengalah dan membagi sejumlah uang ke mereka.
Pihak humas itu mengeluh kejadian itu sudah kesekian kalinya dan sulit dibendung. Ia telah meminta bantuan koordinator wartawan resmi untuk menghalangi kedatangan mereka, namun mereka juga kesulitan. Pihak PWI juga sepertinya kesulitan mendata anggotanya, karena banyaknya media baru yang bermunculan.
Kebebasan media memang mengundang beberapa pertanyaan. Apakah wartawan majalah gratis dan pemilik blog bisa dikategorikan sebagai wartawan. Pertanyaan berikutnya, apakah berita di blog bisa dimintai pertanggungjawaban. Mencemarkan nama baik suatu perusahaan, misalnya.
Dua pertanyaan di atas dan maraknya kehadiran wartawan bodrek seharusnya menjadi pe er yang harus segera dituntaskan. Karena kehadiran wartawan bodrek bisa merusak kredibilitas para wartawan. Ingat pepatah, nila setitik rusak susu sebelanga.

Memang, Wartawan sering menggadaikan profesinya untuk mendapatkan sesuatu…Itu pun dilakukan bukan hanya wartawan yg tidak mempunyai gaji…Banyak juga Wartawan yg memiliki gaji mulai dari wartawan media cetak sampai elektronik. Semua itu tidak bisa dipungkiri, karena mereka butuh dan saling menutupi…ada juga wartawan yg menyombongkan diri karena menganggap dirinya sudah digaji, padahal belum tentu dia tidak menerima sesuatu atau uang dari narasumber…
Saran saya, Biarkan mereka meminta dari pada mereka berbuat sesuatu yg melanggar hukum seperti maling, copet dan sebagainya karena krisis pekerjaan di Indonesia…pertanyakan pimpinannya, apakah sudah mampu mensejahterakan bangsanya…? jangan sok idealis bung…ok…
Ya itulah dunia penuh dengan peristiwa dan problema.Ternyata ada perusahaan Media yang tidak memberi gaji wartawannya, sang wartawan cukup diberi kartu pers, bahkan dijatah koran tiap terbitnya, akhirnya ada yang terpaksa mengemis kemana-mana, mengharap imbalan untuk setiap liputannya hanya sekedar untuk membayar jatah koran. Bahkan ada yang sampai hutangnya menggunung hingga puluhan juta untuk membayar jatah koran,awalnya mereka orang-orang yang punya idealisme untuk kebenaran, keadilan, kemanusiaan namun akhirnya terpuruk dalam kehinaan, kemiskinan, dilecehkan sebagai bodrek, sungguh malang nasib mereka.
Sebagai sosok intelektual mereka seharusnya sadar, hidup tidak cukup hanya dengan predikat wartawan dan karya tulisnya, namun ada yang lebih penting yaitu pengabdian kepada ilahi rabbi yang telah menganugerahi akal dan nalar budi agar menjadikan pena mereka menjadi darah suhada dan mengangkat martabat bangsa ini dengan jalan menjadi social control mengkritisi ketimpangan-ketimpangan yang terjadi.Wahai umat manusia dimuka bumi janganlah sekedar jadi orang yang senang menjelekkan sesamanya tanpa tahu masalahnya, tanpa mengerti problem yang ada yang menimpa bangsa ini, jangan mudah menghakimi sesamanya.Sapalah saudaramu, bertanyalah jika engkau tidak tahu. Wahai saudaraku hindariah perilaku yang menjatuhkan martabat bangsa ini, jangan suka jadi bodrek
kalo ada, gas aja terus