Bekas

“Ra, lihat baju kakakmu yang ini sudah kekecilan. Coba Kamu pakai, kayaknya muat,”ujar Mama sambil merapikan lemari pakaian mbak Lia. Rara yang masih asyik bermain dengan Tibob, kucingnya, berlari menuju kamarnya.
“Yang mana Ma?” tanyanya sambil menggendong Tibob.
“Ra, jangan dekat-dekat dengan kucing,”pinta Mama ” Ayo cuci tangan sana!”
Rara menurut, dia meletakkan Tibob di kursi kesayangannya, kemudian dia meluncur ke kamar mandi, dan mencuci tangan dengan sabun. Berikutnya dia sudah mematut diri di depan cermin.
“Agak kebesaran ya?”tanya Mama.
Rara mengangguk.
“Mama kecilin dulu deh,”usul Mama.
“Rara tidur siang dulu saja, nanti jam 3 kan ngaji,”ujar Mama lagi.
“Ma, Rara nggak punya Iqro 2,” lapornya.
“Lho punya Mbak Lia kan ada, coba cari di rak itu.”
Muka Rara masih lesu. “Yang itu sudah kumal, Ma.”
“Tapi kan masih bisa terpakai, sayang kan kalau beli.”
Rara terdiam dan tak menyahut lagi.
Rara anak ketiga keluarga Pak Hendra. Dia punya kakak perempuan dan kakak laki-laki yang usianya terpaut dua-dua, jadi jarak usia Rara dengan mbak Lia sekitar empat tahun. Keluarga mereka hidup pas-pasan karena Pak Hendra hanya pegawai kantoran biasa. Bisa dibilang mereka keluarga yang hemat dan awet, karena barang-barang yang mereka miliki kebanyakkan bukan barang baru. Dan itulah yang dialami oleh Rara. Barang-barangnya sebagian besar milik kedua kakaknya, bahkan ada yang milik orang tuanya, adapula yang milik bibi dan pamannya.
Dulu, semasa kecil, Rara tak peduli mainannya usang, bajunya sedikit lusuh, namun setelah sekolah di sekolah dasar, dia sedikit iri dengan teman-temannya. Teman-temannya memakai seragam baru, tas baru jika naik kelas. Namun sudah tiga tahun ini Rara memakai seragam dan tas yang sama dengan dipakainya dua tahun yang lalu. Memang bajunya masih bagus, tapi roknya sudah selutut karena tubuhya bertambah tinggi. Baju-baju di rumahnya hanya ada beberapa potong yang baru. Ibu membelikannya hanya pada hari raya saja.
“Rudi, jangan injak sepatuku dong!” Nina mendorong Rudi dan teman-temannya yang bergantian menginjak sepatunya.
“Sepatu baru ni ye!” goda teman-temannya. Dengan gemas dan bangga Nina menghalau teman-temannya. Rara melirik sepatunya, sepatunya sudah butut. Kapan Mama membelikanku ya?
“Lho Rara kenapa pulang?”Mama kebingungan melihat anak gadisnya pulang, padahal baru 15 menit lalu dia berangkat ke sekolah.
“Rara belum mengerjakan PR, Ma!” Kemudian Rara menangis tersedu-sedu. Mama membujuknya untuk bercerita. Dengan sedu sedan Rara bercerita. Di sekolah tadi teman-teman membahas PR Bu Retno. Rara benar-benar lupa kalau ada PR. Dia lupa mencatat soal yang ada di buku IPA. Soal-soal itu hanya ada di buku IPA yang baru. Biasanya Rara rajin mencatat hal-hal baru dan soal-soal yang hanya ada di buku baru, namun saat itu dia benar-benar lupa. Rara takut. Jika ada yang ketahuan tidak mengerjakan PR, biasanya Bu Retno akan menghukum muridnya berlari mengelilingi lapangan atau berdiri di depan kelas.
“Sudah…sudah Mama antar Rara ke sekolah. Nanti Mama akan ngomong ke Bu Retno kalau Rara lupa ngerjakan PR,” hibur Mama. Rara menggeleng. Lega rasanya bisa menangis. Selama ini Rara tak tahan harus sering pinjem buku ke Nina atau Deni, mencatat yang nggak ada di bukunya. Dia jadi nggak bisa bermain saat istirahat untuk mencatat. Dia juga nggak suka terpaksa pindah dari bangkunya untuk bergabung bersama temannya, menyimak bacaan yang nggak ada di bukunya. Dia sering mendapatkan sorot mata tidak suka dari teman yang terpaksa berbagi buku dengannya.
“Ma, belikan Rara buku baru,”pinta Rara.
“Lho…Rara kan sudah punya buku lengkap. Mas Anto kan sudah mencocokannya ke Bu Retno,” jawab Mama. Kedua kakaknya memang biasa mencocokkan buku yang dimiliki dengan buku ajar yang digunakan, apakah masih bisa digunakan.
“Rara bosan harus mencatat.”
“Rara, kita bukan keluarga kaya. Kita harus hemat,”jelas Mama.”Dengan mencatat berarti Kamu belajar kan?”
“Pokoknya buku baru!”rengek Rara.”Rara nggak mau sekolah kalau nggak punya buku baru!” Rara berlari menuju kamarnya, dia mengendong Tibob, kemudian membanting pintu kamarnya. Mama hanya mengelus dada.
Hingga siang hari Rara tak mau keluar kamar, walaupun Mama membujuknya untuk makan siang. Bahkan dia menguci kamarnya. Mbak Lia yang berbagi kamar dengannya, mengomel, karena dia pengen ganti baju.
Akhirnya Mama menyerah. “Ra, Mama belikan buku baru deh, tapi tidak sekarang. Mama akan menyicil membelikanmu buku seminggu sekali.”
“Benar, Ma?”
Mama berteriak mengiyakan. “Hore!” Rara bergegas membuka kamar.”Rara sudah lapar!” Tibob yang masih setia menemaninya juga mengeong-ngeong, jam makannya sudah lewat. Namun apa yang terjadi, pintu kamarnya tak mau membuka, padahal Rara telah memutar kuncinya. Rara menggedor-gedor pintu, meminta tolong Mama dan mbak Lia, tapi tentu saja tidak bisa, karena dikunci dari dalam. Rara menangis, Tibob pun mengeong semakin keras. Mama kebingungan, dia membentak Rara, menyuruhnya diam. Mbak Lia disuruhnya minta tolong ke Om Imam, untuk membuka pintu.
Tiga minggu kemudian Rara sudah menyingkirkan buku lamanya. Kini dia tak perlu mencatat buku, tak perlu lagi pindah bangku untuk berbagi buku. Dia merasa sudah setara dengan teman-temannya.
Sehabis ngaji dia langsung pulang. Di kamar dia melihat Mama dan Papa membahas sesuatu. Karena kamarnya dan kamar kedua orang tuanya berdempetan, dia mencoba menguping lewat kamarnya. Mama mengeluh kepada Papa bahwa uang belanjanya tinggal sedikit. Kebutuhan mereka semakin meningkat, namun gaji Papa tidak naik-naik. Memang Papa punya usaha sampingan, namun juga tidak banyak membantu. Mama perlu uang untuk membayar SPP mbak Lia yang telah duduk di bangku SMP. Uang SPP itu terpaksa digunakannya untuk membelikan Rara buku baru. Rara terdiam, ternyata uang 10 ribu amat berarti bagi keluarganya. Papa terpaksa mengeluarkan uang simpanannya , yang rencananya untuk biaya mas Anto masuk SMP.
Rara merasa bersalah, dia menatap tumpukan buku barunya. Tidak adil kenapa hanya ingin buku baru saja membuat orang tuanya harus bersusah payah. Kenapa Nina selalu punya barang bagus dan baru padahal dia juga punya dua orang kakak. Rara marah pada orang tuanya kenapa mereka tidak kaya. Kenapa dia harus lahir terakhir?Kenapa dia yang harus menerima bekas, sedangkan mbak Lia dan Mas Anto tidak?
Menjelang tidur, Mbak Lia bertanya kepadanya, “Ra, Kamu malu barang-barangmu bekas?”Rara mengangguk.
“Aku tahu perasaanmu. Jika ku jadi Kamu, mungkin aku juga begitu,”katanya lagi. “Tapi kadang ku iri sama Kamu.”
Rara menatapnya keheranan.
“Lihat bajumu, Kamu punya banyak. Ada yang bekasku, bekas Anto, punya mama, papa, bahkan ada yang milik bibi dan paman. Kalau aku, paling ya…cuma punyaku, atau milik mama papa sebelum berpindah ke kamu.”
Memang benar Mbak, tapi tetap saja bekas. Kebanyakkan sudah lusuh, bahkan ada yang penuh noda dan tambalan, batin Rara.
“Lihat prestasimu. Mbak dan mas iri dengan kamu. Kamu rajin, punya buku dan koleksi catatan mulai dari aku, mas Anto, punya sepupu kita, bahkan dari paman dan bibi.”
“Kamu jadi tahu tipe guru, tahu lebih dulu dari teman-temanmu. Pengetahuanmu luas, karena kamu menikmati perkembangan buku dari tahun tujuhpuluhan, ketika pamanmu SD, hingga sekarang,” imbuh Mbak Lia.
Mata Rara berkedip-kedip. Sebenarnya dia sudah amat ,mengantuk.
“Kamu sayang Mama dan Papa, kan?”tanya Mbak lagi.
Rara mengangguk.
“Ingat pesan mbak, jangan minta macam-macam ke mereka. Jangan bikin mama nangis, dosa.”
Rara malu, tadi telah membuat kedua orang tuanya bersedih.
Rara baru menyadari kata-kata Mbak Lia seiring bertambah usianya. Dia tak lagi menuntut sesuatu yang baru dari orang tuanya. Bahkan ada sedikit kebanggaan. Dia memiliki wawasan yang luas berkat koleksi bukunya yang lengkap. Rara tumbuh jadi remaja yang sederhana, rajin, unik, dan setia. Barang-barang pemberian teman dan keluarganya masih utuh dan terawat. Terkadang ada yang usil mengatainya museum. Selera berpakaiannya juga unik, tak heran karena koleksinya berasal dari berbagai jaman.
Walaupun dia sudah nggak alergi dengan sesuatu yang bekas, ada yang susah ditoleransi olehnya.
“Aku nggak mau punya pacar bekas. Itu bisa berarti aku malas punya pacar yang sudah jadi bekas orang lain, juga malas punya bekas pacar alias gonta ganti pacar.”
“Kalau ada pacar bekas yang sayang benar sama Kamu bagaimana?” goda Ria.
Wah gimana ya…? Rara susah menjawab.

moral of the story: rumput tetangga selalu lebih hijau. hehheheh… tp kl dah diomongin baru d sadar kalo rumput sendiri juga ok. kdg2 emg kudu diketok dulu 😀
miao ! cerpen yg bermutu.. menyentuh dengan segala pernak pernik hidup keseharian. salut buat puz2 .. kapan kumcer-nya diterbitkan neh
Hehe masih nggak pede nulis fiksi..masih perlu banyak latihan. Btw thanks ya support-nya
Terima kasih atas pujiannya. Ini cerpen yang kutulis waktu kuliah, empat tahun lalu. Ehm jadi penasaran, Uda Faizal itu siapa ya?
wow….its amazing ! kamu seorang penulis cerpen yang luar biasa.semoga bisa menghasilkan karya2 yang lebih emosional dan menyentuh hati … selamat. aku bangga sama kamu.. tetep pertahankan prestasinya ya… biar sama kayak si uda faizal.