12 Years of Slave: Perbudakan yang Merendahkan Martabat

transaksi budak

Film 12 Years of Slave pantas dinobatkan sebagai film terbaik 2014. Film ini memiliki sudut pandang cerita yang menarik juga jajaran pemain yang berakting prima. Dan setelah menontonnya, ada perasaan sedih yang menggumpal. Ada pertanyaan melintas, benarkah perbudakan telah berakhir?

Film dibuka oleh sebuah pesta yang diiringi oleh permainan biola yang dibawakan secara apik oleh Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor). Ketrampilannya mengiringi lagu dengan senar biola membuat ia hidup nyaman bersama istri dan kedua anaknya di kota New York. Mereka hidup sebagai warga kulit hitam yang merdeka di Amerika dan kehadirannya juga dihargai oleh warga kulit putih di sekelilingnya.

Namun, sebuah tawaran menggiurkan membuyarkan kehidupan Solomon. Saat istri dan anak-anaknya melancong beberapa hari, ia ditemui tiga orang pria yang menawarinya pekerjaan dengan honor tinggi. Waktunya juga tidak lama. Tanpa berpikir lama, Solomon pun menyanggupinya dan bersedia berangkat dengan mereka menuju Washington DC.

terbujuk

Ia dijamu dengan makanan dan minuman beralkohol hingga mabuk dan tak sadar. Bangun-bangun, ia tidak berada di ranjang yang empuk melainkan di balik jeruji. Tangan dan kakinya pun telah diborgol. Ia menyangka ia masih di alam mimpi buruk. Tapi ini alam nyata. Dan ia pun resmi diperjualbelikan sebagai budak bernama Platt dimana pada abad ke-19 perbudakan masih dijumpai di Amerika.

diborgol

Tidak ada yang menggubrisnya ketika ia bercerita siapa ia sesungguhnya. Alih-alih diantarkan ke rumahnya, cambukan mendera kulitnya ketika ia tak mau menggunakan nama barunya. Berkali-kali nyawanya di ujung maut. Sehingga lama-kelamaan ia pun hanya berjuang untuk mempertahankan hidup meski keinginannya untuk bertemu keluarganya tak pernah surut.

pemain biola

Di satu sisi, ada budak wanita bernama Patsey (Lupita Nyong’o) yang sering menjadi sasaran kemarahan nyonya besar karena suaminya kerap melirik kepadanya. Suatu ketika Patt dipaksa oleh tuannya (Michael Fassbender) untuk mencambuk Patsey karena sempat menghilang beberapa saat dari perkebunan.

perbudakan

Ada nama-nama besar di sini, seperti Brad Pitt, Benedit Cumbertbatch, Michael Fassbender, dan Paul Giamatti. Dan tiga oscar berhasil teraih oleh Lupita Nyong’o sebagai pemeran pembantu wanita terbaik juga oscar untuk film terbaik dan skenario adaptasi terbaik.

brad pitt

Perbudakan memang sulit dihapuskan. Di Amerika hal ini hingga menyulut perang sipil, antara pihak pro perbudakan dan anti perbudakan. Di Afrika, penculikan warga kulit hitam untuk dijadikan budak hingga awal abad 21 juga sudah menjadi rahasia umum. Konon jutaan warga kulit hitam hidup menderita dijadikan budak.

Ada banyak cerita tentang perbudakan yang menggiriskan, sebagian besar membuat saya miris. Ada sekelumit cerita tentang budak yang pernah digambarkan Herge lewat Tintin yang memang kisah riil. Penggambaran yang membuat saya mual adalah cerita di Congo garapan Michael Crichton. Mudah-mudahan perbudakan sudah benar-benar terhapus di muka bumi dan tidak hanya berubah nama. Meskipun saya belum yakin.

Detail Film:
Judul Film: 12 Years of Slave
Pemain : Benedict Cumberbatch , Brad Pitt, Lupita Nyong’o, Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, Paul Dano, Paul Giamatti
Sutradara: Steve McQueen
Rating : 8,1/10

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Desember 24, 2014.

4 Tanggapan to “12 Years of Slave: Perbudakan yang Merendahkan Martabat”

  1. Scanning lihat flmnya kok kayaknya serius banget ya Pus filmnya, butuh komitmen buat nontonnya nih kayaknya..

    • Om Sherlock Holmes di sini cakep banget (eh salah fokus). Iya Dan filmnya serius dan bikin sedih. Budak di film ini sudah dianggap kayak bukan manusia saja, pemilik budak juga rata-rata kejam.

  2. kisah perbudakan yang diangkat dalam cerita film terakhir 2014 saya belum pernah menonton.
    tetapi kisah perbudakan dalam certa film saya pernah lihat, “Huckleberry Fin” , dan “Mandingo” yang dibintangi oleh Ken Norton petinju legendaris pernah bertanding dengan Moh.Ali.
    bagaimana si sutradara pintar meracik dengan bumbu sedap, skandal perselingkuhan antara Juragan/ majikan laki-laki bule dengan wanita budak negro.
    sebaliknya terjadi pula skandal perselingkuhan antara Juragan/ majikan wanita bule dengan laki-laki budak negro yang diperankan oleh Ken Norton. sebagai lelaki perkasa.
    dan terdengar lamat lamat komentar mbah Maridjan Kuku Bima “Rosa Rosa””Rosa Rosa””Rosa Rosa”, apalagi Bima cara pegang Kuku Pancanaka kok agak porno.
    Setahu saya di negeri orang bule secara resmi menurut undang undang, perbudakan tidak diperbolehkan/ perbudakan dihapus.
    nggak tahu kalau di timur tengah di negeri arab, saya tidak tahu.

    • Mohon maaf jika saya agak berhati-hati dengan topik budak karena saya hanya memandangnya sebagai sebuah sejarah kelam, bukan dikaitkan dengan SARA. Di tiap daerah ada masa-masa perbudakan. Pada jaman Romawi, jaman kekaisaran Tiongkok, jaman kejayaan Turki, jaman pembukaan Benua Amerika, bahkan pada masa kerajaan di nusantara. Ada banyak faktor kenapa manusia bisa jadi budak. Bisa karena kalah perang, diculik, dijual, bahkan bisa juga karena tidak bisa membayar utang seperti yang terjadi pada ayah angkat Ken Arok pada novel Arok Dedes. Untuk apa para budak tersebut? Ada yang dijadikan selir (di berbagai negara ada raja/kaisar yang memiliki selir hingga di atas angka 1000), pelayan, prajurit, buruh perkebunan, bahkan yang sangat kejam dijadikan tumbal sebuah ritual.

      Perbudakan mulai banyak dihapuskan sejak akhir abad ke-19, dimana peristiwa besar adalah perang sipil yang terjadi pada tahun 1861-1865 di AS dimana 11 negara bagian di selatan bertekad untuk mempertahankan adanya status budak dimana oleh Lincoln dihapuskan. Sejak itu anti budak mulai menjalar ke berbagai negara dan di Indonesia pada masa-masa tersebut mulai dilaksanakan politik etis.

      Di Asia dan Afrika sendiri pembebasan budak relatif lebih lambat. Jepang masih memperbudak rakyat negara yang kalah perang dan seperti dikisahkan di buku Congo-Michael Crichton dan Tintin “Hiu-hiu Laut Merah” hingga pertengahan abad 20, perbudakan masih ada. Dimana korban paling besar adalah warga Afrika yang dianggap memiliki tubuh kuat dan cenderung lebih setia. Dua buku itu sangat ironis dan meskipun berbentuk novel/komik, isinya merupakan hasil catatan sejarah masa itu. Ada bagian di buku Congo tentang jual beli budak yang membuat saya sangat miris dan mual, sayangnya bagian itu malah tersimpan di memori.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: