Intuisi

Sungguh, aku merasa jengkel dengan Rosa hari ini. Dia tetap bungkam, tidak menjelaskan alasannya meninggalkan pria yang jauh-jauh datang dari Makassar hanya untuk bertemu dengannya.

Well kabur dari lokasi pertemuan bagiku pengecut. Tapi melihat raut wajah Rosa yang pucat, aku berpikir alasannya cukup masuk akal. Kenapa Rosa takut dengan pria itu? benakku bertanya-tanya.

’’Kamu kan tidak sekali ini kopi darat dengan pria?’’ tanyaku. Ia mengangguk. ’’Lalu kenapa takut? Lagipula kali ini aku bersedia menemanimu?’’ serangku. Rosa membisu.

’’Aku korbankan hari Sabtuku dengan mengikuti rencana pertemuanmu yang aneh bin konyol,’’ paparku ketus seraya mengingat-ingat kejadian pagi ini. Khusus pertemuan ini, ia memintaku memakai kaca mata hitam dan topi lebar untuk penyamaran.

Untuk lebih menyiksa Andi, pria malang itu, Rosa mematikan ponselnya. Ia berharap perjumpaan dengan pria itu berlangsung tidak sengaja dan romantis seperti di scene film drama Hollywood. Mereka akan tidak sengaja berpegangan tangan dan saling berpandangan kemudian berkenalan. Ketika ia memaparkan khayalannya tawaku hampir saja meledak. Namun niatku menertawakannya surut ketika melihat kesungguhannya. Mungkin kali ini Kamu beruntung menemukan pria idamanmu, doaku.

Dan beberapa saat setelah kami tiba, aku mulai menyadari ketidakberesan. Lokasi pertemuan yang dipilih Rosa benar-benar tidak memenuhi syarat. Andi pasti kesusahan mengenali kami dengan lokasi pertemuan yang berkali-kali lipat daripada lapangan bola. Coba bayangkan Rosa memilih Lapangan Banteng, lokasi pameran flora dan fauna sebagai tempat kopi darat. Fuiih…

Tolongternyata bukan hanya Andi korban Rosa, I’m the victim too. Aku terpaksa berputar-putar mengikuti Rosa yang kebingungan mencari tempat yang strategis untuk mengawasi pria incarannya itu.

Mereka berjanji bertemu pukul 10.00. Kami telah datang sejam sebelumnya. Menurut dugaanku bila Andi cerdik, ia pasti datang sebelum waktu yang mereka sepakati. Sekarang jam hampir menunjukkan pukul 12 dan belum ada tanda-tanda kehadirannya.

Untuk acara konyol ini Rosa bilang Andi bakal mengenakan t-shirt putih dan celana denim dipadu dengan sepatu kets hitam. Andi bilang ia berkulit putih, ikal dan berkacamata.

Teriknya matahari membuatku pening. Aku segera mencari tempat berteduh dan menghampiri gadis yang berkeliling menjual minuman. Jus jeruk yang kuteguk, membuatku merasa lebih baik. Lalu aku kembali melangkah mencari-cari Rosa. Dari kejauhan aku melihat Rosa asyik menawar krisan kuning. Kurang dari dua meter dari posisinya aku melihat sesuatu yang membuatku terhenyak. Pria yang sesuai dengan ciri-ciri yang dideskripsikan Rosa berada di dekatnya, dengan punggung mereka yang saling bertolak belakang. Bila Andi bergerak dua tiga langkah lagi dan berbalik ia akan menemukan Rosa.

Dengan tenang tanpa menarik perhatian, aku menarik Rosa menjauh lalu berbisik kepadanya. Ia kemudian melirik pria yang kusebutkan. Andi tengah menelpon dengan wajah masam. Aku menebak ia sedang mencoba menghubungi Rosa.

Rosa pun pias. Gantian ia yang kemudian menyeretku dengan kasar, menjauh dari tempat itu bermeter-meter. Ia tidak menghentikan langkahnya dan terus membawaku ke tempat perhentian metro mini.

Kami sekarang berada di metro mini yang akan membawa kami kembali ke kos masing-masing. ’’Maafkan aku Anti acaranya tidak menyenangkan,’’ sesalnya ketika aku hendak turun dari angkutan umum. ’’Terima kasih banyak sudah menemaniku,’’ lanjutnya.

Rasa kesalku terhadap Rosa tidak susut hingga hari Senin. Kucurahkan uneg-unegku ke Lia, teman seberang mejaku. Dia tertawa terbahak bahak mendengar kisahku. Dan pada jam makan siang, kisah pertemuan Rosa dengan Andi telah menyebar dan menjadi bahan cerita yang menarik. Rosa yang mendengar kasak-kusuk tentang dirinya hanya tersenyum simpul.

Sebulan kemudian karena kesibukanku dan tugas dinas ke luar kota, aku tidak berjumpa dengannya. Aku merasa kangen mendengar kisah-kisahnya yang jenaka. Lagipula ia teman terdekatku di kantor selama ini.

Duapuluh menit kemudian aku telah berada di depan pintu kamarnya. ’’Surprise’’ Yup seperti dugaanku ia menyukai kehadiranku. Ia segera sibuk mencari makanan kecil dan minuman di kulkas yang berada di dapur.

Rosa tidak berubah sejak aku mengenalnya dua tahun lalu. Koleksi DVD-nya didominasi kisah romantis seperti Serendipity dan The Lake House. Ada tumpukan kartu tarot beserta buku panduannya di meja. Ada juga koleksi feng shui, buku The Secret dan Make Up Your Mind di rak bukunya. Dia gadis yang benar-benar percaya dengan intuisi dan mengkaitkan semua yang terjadi di kehidupannya dengan tanda-tanda alam atau feng shui.

’’Ada new comer Rosa?’’ tanyaku membuka percakapan.

Ia tertawa dan menggeleng. ’’Bagaimana kabar Rian?’’ Ia mengalihkan topik.. Rian adalah pacarku yang bekerja di perusahaan kontraktor. ’’Nggak ada yang spesial. Kami tetap bertemu tiap Sabtu dan Minggu dan sms-an tiap hari.’’

”Kamu nggak bosan udah pacaran dengan dia lima tahun?” tanyanya polos.

Aku merengut. ’’Enggaklah. Tidak kayak Kamu yang suka gonta-ganti pasangan, aku termasuk tipe setia”. Nadaku meninggi. Aku tidak suka pertanyaan itu.

Sorot matanya menyiratkan permohonan maaf. ’’Maksudku bukan begitu. Aku ingin tahu kapan kalian menikah?’’ jelasnya

Menikah??? Itu juga salah satu pertanyaan yang mengerikan. Tentu saja seperti wanita-wanita lain, aku juga ingin menikah. Tapi???

’’Rian tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang pernikahan. Dia juga sampai saat ini belum melamarku.’’ Eh kok aku malah curhat ya…

Beberapa saat kami terdiam. Aku asyik menyeruput es lemon tea yang dibuat Rosa. ’’Aku terkadang iri denganmu An. Usiaku telah lewat 25 tahun dan aku tidak punya hubungan spesial dengan pria.’’

’’Itu salah Kamu sendiri. Bagaimana dengan Dani, Mario, Novan atau pria-pria lain yang ingin mendekatimu. Kamu tidak memberi mereka kesempatan kan?! Bagaimana dengan Andi, Kamu sudah meminta maaf kepadanya?’’

Rosa menjawab pertanyaanku dengan bercerita panjang lebar. Ok, baru kali ini aku mendengar penjelasannya tentang ketakutannya menjalin hubungan khusus. Hampir semuanya ia kaitkan dengan intuisi dan tanda-tanda alam. Alamak…

Ia jarang memberikan nomor hp-nya ke pria yang ingin mendekatinya. Sebagai gantinya, ia beri mereka buku yang kebetulan dibawanya atau alamat e-mail. Ia berharap mereka sedikit berusaha untuk mendapatkannya. Dan, banyak yang tidak menghubunginya lagi.

Beberapa yang lulus, berharap bertemu kembali dengannya. Namun ada saja alasan Rosa, yang sibuk lah, yang sakit, atau pergi ke luar kota padahal dia asyik tiduran di kos.

’’Aku sering menggagalkan pertemuanku karena firasatku mengatakan pria ini atau itu bukan seseorang yang kutunggu,’’ paparnya ’’Dengan Andi aku sekilas melihat bayangan masa depanku dimana aku bakal menderita bersamanya. Dia kaya raya sementara aku dari keluarga biasa saja,’’ lanjutnya

Lalu seperti apa pria yang kautunggu? cercaku. Dia lalu mencontohkan kisah perjumpaan Kate dan Alex di The Lake House yang aneh namun romantis. Atau kisah di Serendipity yang serba kebetulan.

’’’Coba Anti bayangkan bila tiba-tiba ada pria yang memayungimu. Kemudian Kamu bertemu dengan pria itu kembali di tempat favoritmu dan tiba-tiba Kalian berpikir atau mengucapkan sesuatu yang sama.’’

’’Apakah Kamu percaya karena pernah mengalaminya?’’ tanyaku. Ia mengangguk. Rosa mengaku pernah memiliki pacar saat ia berada di tahun terakhir SMU. Saat ia melihat pria itu, ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi dengan mereka. Dan intuisinya terbukti, mereka berpacaran meski baru sebulan bertemu. Mereka sangat klop. Tetapi kemudian Rosa merasa ada sesuatu yang janggal. Pria itu beberapa kali berbohong kepadanya dan Rosa tidak pernah mempercayainya lagi.

Rosa terisak mengenang kisahnya. Ternyata cerita itu meninggalkan kenangan pahit di hidupnya. Aku memeluknya dan menasihatinya agar ia lebih realistis. ’’Aku tidak merasakan seperti tanah seperti amblas atau sesak nafas waktu bertemu Rian. Aku hanya melihatnya sebagai orang yang baik dan berkomitmen’’.

Senyumnya kembali merekah. Tapi dengan keras kepala ia akan melanjutkan teorinya dan percaya suatu saat intuisinya akan membawanya ke pria idamannya.

Doa Rosa sepertinya terkabul pada bulan berikutnya. Dengan berseri-seri ia menyebut-nyebut nama Anton sebagai pria idamannya. Mereka secara kebetulan bertemu di toko buku. Kata Rosa, lengan mereka hampir bertabrakkan karena hendak mengambil buku yang sama. ’’Lima Orang yang Kamu Temui di Surga’’.

Dunia Rosa sekarang berkutat dengan Anton. Tiap hari mereka saling menyapa dengan pertanyaan umum seperti sudah makan? dan selamat bekerja. Anton selalu menelpon Rosa hingga berjam-jam dan setelah tiga minggu berkenalan, Rosa hafal segala kebiasaan Anton.

’’Tuhan mendengar doaku. Mungkin dia calon suamiku,’’ celoten Rosa riang.

Sudah beberapa kali mereka berkencan. Dan setiap hari Rosa terlihat riang. ’’Anton membelikanku krisan kuning yang indah. Dia juga berjanji akan mengajakku ke Pulau Sempu atau Pulau Paskah’’.

Hingga suatu saat ia mendapat tiket orkestra. Dia meminta bantuanku untuk meriasnya. Dan Rosa sungguh cantik. Ia mengenakan gaun hitam dan menyanggul rambutnya. Karena lembur, Anton tidak menjemputnya.

Khayalannya sudah muluk-muluk. ’’Mungkin kami bakal jadian An… atau siapa tahu dia akan melamarku’’. Aku tertawa karena ia nampak bingung menyiapkan jawaban bila Anton melamarnya.

Keesokan harinya aku cepat-cepat ke meja Rosa. Aku sudah membayangkan kilauan mata Rosa yang berkilat-kilat ketika bercerita. Namun, yang kutemui bukan Rosa yang ceria. Dia berubah menjadi gadis yang murung.

’’Anton tidak datang,’’ ucapnya singkat. Aku terhenyak. Alangkah tega ia membiarkan gadis seperti Rosa sendirian di gedung pertunjukan itu. Anton tidak menjawab sms dan telponnya. Dia tidak meninggalkan kabar apapun.

Hingga sebulan kemudian tidak ada berita apapun tentang Anton. Dia raib begitu saja. Rosa menjadi semakin pendiam. Aku tahu dia sangat terluka dengan sikap Anton. ’’Tiap hari aku merasa sesak nafas, seolah-olah ada bagian diriku yang hilang,’’ curhatnya. Ia tidak menangis sekali pun karena itu aku salut dengan ketabahannya.

Bulan berikutnya ia mulai kembali normal dan berupaya menghilangkan bayangan Anton. Aku rasa itu sulit, dia terbiasa curhat ke Anton, tiap hari bertelepon hingga Rosa tidur dan aku yakin ia benar-benar menyukai pria itu.

Lagi-lagi aku yakinkan dia dengan prinsip rasionalitas untuk memilih pria. Namun, ia bersikeras mempertahankan intuisinya. ’’Aku gagal dengan Anton mungkin karena karma perbuatanku terhadap Andi,’’ jawabnya.

Setahun berlalu, mungkin aku kualat. Aku mulai menyadari kekuatan intusi. Tiba-tiba aku merasa hubunganku dengan Rian buntu. Ia selalu menghindar bila aku menyinggung-nyinggung pernikahan. Sungguh terkejutnya aku, ketika ia bersikap biasa saja ketika aku memutuskan hubungan dengannya.

Dan yang makin membuatku frustasi Rosa mengirim undangan pernikahan. Dia bertahan dengan intuisinya dan berhasil menemukan prince charming. Dan ketika bersalaman di hari pernikahannya, ia bilang ’’Jangan pungkiri intuisimu’’.

~ oleh dewipuspasari pada Juli 19, 2008.

Tinggalkan komentar