Pecha Kucha Vol 2: Ketika Para Komunitas Djadoel Bertutur

Naik kereta api tuut tuut tuuut…..ke Bandung..ke Surabaya, kereta api siap mengantar. Kereta api memang transportasi darat yang diandalkan oleh sejuta warga untuk bepergian, terutama warga kepulauan Jawa. Dan kehadiran kereta api ini menjadi bagian sejarah bangsa Indonesia yang mempengaruhi denyut nadi kehidupan dan perekonomian bangsa. Untunglah peran kereta api ini tidak terlupakan oleh para penggemar KA yang menamakan dirinya Indonesian Railway Preservation Society (IRPS).
Soni Gumilang dalam presentasinya bertajuk “Ada Apa dengan Kereta?” mengisahkan perjalanan sejarah kereta api di Indonesia. Masa-masa tanpa kereta api dengan adanya kereta api jauh berbeda. Bila perjalanan Jakarta-Surabaya sebelumnya ditempuh enam bulan dengan kereta api teknologi kuno bisa ditempuh selama tiga hari. Melihat kecepatan itu masyarakat takjub. ‘’Mereka melihat KA kayak melihat mobil Formula I,” jelas Soni.
Tentang komunitas yang diikutinya, sekarang telah memiliki 200 anggota yang tersebar di lima kota. ’’Kami sekarang menggandeng komunitas fotografi yang menyukai memotret kereta api,’’ ujarnya sambil menunjukkan slide berupa hasil jepretan tentang kereta api.
Setelah IRPS, masih ada 11 komunitas yang mengisi Pecha Kucha Jakarta Vol 2: Metro Retro tadi malam (18/6). Kesebelas komunitas itu JalanSutra, Komunitas Djadoel, Lomonesia, Komunitas Sepeda Tua Indonesia, Lembaga Warkop Indonesia, Komunitas Djadoel (Old Books), Komunitas Djadoel (Tin Toys & Graphics), Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI), Es Teler 77, Komunitas Historia Indonesia dan Bingky’s Biker Station.


Dadi Krismantoro dari JalanSutra bertutur tentang kegiatan komunitas yang telah berdiri sejak enam tahun lalu. Mulai dari jalan-jalan, mempromosikan masakan tradisional, belajar seperti mengenal wine, kopi luak dan yang penting yaitu makan-makan. ’’Sekali jalan-jalan tetap makan-makan,’’ celetuknya yang mendapat applaus meriah dari penonton.

Sementara Daniel Supriyono (Komunitas Pecinta Barang-barang Djadoel) dan Ferry Diananto (Tin Toys & Graphics) mengungkapkan kecintaan mereka pada benda-benda dan mainan kuno. Daniel sendiri telah mengoleksi radio, telepon, aneka gembok dan beragam jam.
Hanna S. Kasino (Lembaga Warkop Indonesia) mengisahkan perjuangan ayah (Kasino) dan rekan-rekannya yang tergabung dalam komedian Warkop. Menurut Hanna, lawakan Warkop bukan sekedar berkutat pada wanita cantik dan sexi. ”Itu disesuaikan dengan pasar. Karena film penontonnya beragam, maka dibumbuilah dengan wanita-wanita cantik,” paparnya.
Lawakan Warkop bahkan sebenarnya bertemakan kritik sosial. Film Warkop bertajuk Chip, misalnya, sindiran suap di kalangan polisi. Yang mencolok yaitu jargon “Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang”.

Dua pembicara penutup yaitu Asep Kambali (Komunitas Historia Indonesia) dan Bingky (Bingky’s Biker Station) mendapat sambutan meriah. Penonton tercenung ketika Asep menayangkan slide yang berisikan pesan “Untuk Menghancurkan Suatu Bangsa, Hancurkanlah Ingatan Sejarah Generasi Muda” . Sedangkan Bingky menarik perhatian dengan slide-slide foto dirinya menaiki motor-motor rakitannya.

terimakasih atas undangan untuk komunitas kami dalam acara Metro Retro di es teler 77…salam djadoeler….
sukses untuk pecha kucha…..
Terima kasih sudah datang ke Pecha Kucha Jakarta Vol.2 Metro Retro ya :-). Jangan lupa untuk mampir di acara2 selanjutnya! Cheers.
Oke……saya akui pecha kucha memang menarik dan bermanfaat