Bila Rain jadi Pembunuh
Gagal di Speed Race tidak membuat Rain gentar. Ia mencoba peruntungannya sebagai monster pembunuh dan aktingnya cukup berhasil. Penampilannya sebagai ninja sadis dengan pembawaan kalem cukup memikat. Kisah Ninja Assassin sendiri sebenarnya tidak istimewa. Dibuka dengan adegan pembantaian para Yakuza oleh ninja, penonton langsung disuguhi adegan yang penuh darah. Adegan berikutnya beralih ke tewasnya petinggi Rusia yang membawa kecurigaan Mika Coretti, agen europol, pada sebuah perkumpulan, ninja Ozunu.
Ia lalu melawat ke rumah istri petinggi tersebut dan mendapat kenang-kenangan dari almarhum, sebuah video rekaman CCTV tentang pergolakan di rumahnya yang melibatkan sekawanan ninja. di situlah wajah Raizo terekam. Rupanya rasa penasaran Mika mendapat balasan yang tidak setimpal.Ia dan Ryan, atasannya, dikejar-kejar sekawanan ninja yang disetir oleh penguasa. Bukan hanya oleh petinggi Rusia, namun oleh penguasa dari beberapa negara sekaligus.
Raizo sendiri memiliki masa lalu kelam. Tanpa orang tua, ia dibesarkan secara kejam di lingkungan ninja, menjadi monster pembunuh. namun, akhirnya ia memilih menjadi dirinya sendiri, yang berarti ia harus mengkhinati saudara-saudaranya. Hukumannya, hanya satu,mati.
Koreografi adegan perkelahian di film ini cukup bagus meski tidak bisa dibilang memikat. Rain meski sebelumnya bukan aktor laga, bekerja keras, sehingga adegannya memainkan pedang cukup luwes dan natural.
Sayang seperti aksi-aksi laga lainnya, jalan cerita kurang diperhatikan. Tidak disebutkan alasan ninja mau disetir oleh penguasa. Benarkah hanya karena uang dan harta? Apakah Raizo berkhianat hanya karena dendam terhadap kematian Kiriko? Klan-klan ninja lainnya juga tidak diceritakan meski disebut-sebut.
Ya di balik kekurangan itu ini sebuah film yang cukup menghibur bagi kaum dewasa dan tidak disarankan ditonton bagi yang tidak suka adegan sadis berhujan darah.

