Bekal-bekal dari Ibu yang Bikin Kangen
Hari itu mobil travel Malang-Surabaya datang lebih awal daripada waktu yang kupesan. Aku yang masih terbawa mimpi, terkejut ketika mimpiku berganti dengan wajah ibuku yang kuatir.Ia mengangsurkan handuk dan baju kepadaku dan berkata mobil penjemput telah datang. Aku yang melihat jarum jam belum menunjukkan pukul 04.30 setengah tak terpercaya. Tapi mendengar deru mesin mobil di depan rumah, aku segera cebur-cebur dan sholat subuh dengan tergesa-gesa. Ketika masih bersisir, dua tas telah siap angkut. Aku tertegun ketika ibuku mengangsurkan bekal untuk sarapan dan makan siang. Nasi dan lauknya masih hangat di dalam kardus.
Meski naik travel lebih mahal dan jamnya jemputnya sering tidak pasti,aku tidak kapok. Sebenarnya bukan nyamannya dijemput dan diantar sampai kos yang membuatku suka naik travel. Alasannya, aku bisa bawa cukup banyak stok makanan dan bisa lebih lama di rumah. Mama, panggilan ibuku, mungkin tahu dengan kebiasaanku malas berbelanja sehingga ia tak keberatan jika isi kulkas yang penuh muatan dengan bumbu-bumbu, aneka makanan instant, dan buah, tiba-tiba isinya berkurang drastis tiap dua minggu. Aku juga suka menyedoki beras di pedaringan dan menakar gula di kaleng besar untuk stok makanan di kos. Bahkan jika masih ada sisa ruang di tas, ibuku memasukkan semua lauk yang ada dalam kantung plastik untuk bekalku selama beberapa hari. Terkadang kakak laki-lakiku protes melihat lauk kesukaannya sudah berpindah ke tasku. Tapi ibuku menghiburnya dengan berjanji untuk memasakkannya lagi.
Travel yang kunaiki biasanya tiba di Surabaya pukul 07.00, kadang juga mendekati pukul 07.30 karena bergantian mengantar satu-persatu penumpang. Karena lokasiku yang paling jauh, di Surabaya paling timur, maka biasanya aku turun terakhir. Dan ini kerap membuatku was-was karena kuliahku dimulai pukul 08.00. Ibuku turut cemas takut aku terlambat. Untunglah datangku kerap masih lebih pagi daripada si pengajar.
Bekal dari ibuku membantuku berhemat. Nasi yang dibawakannya bisa kumakan pagi, siang, dan malam. Tinggal dihangatkan di dandang. Sedangkan lauk seperti ayam, tempe, dan udang goreng bisa tahan 2-3 hari asal aku rajin menggorengnya kembali. Namun, lama kelamaan teksturnya makin alot dan rasanya kurang enak.
Kebiasaan menyiapkan bekal dan membawakan stok sembako ini berlanjut hingga aku bekerja dan menikah. Mirip dengan Park So-nyo, tokoh ibu dalam buku bertajuk Please Look After Mom, yang juga suka menyiapkan bekal. Setiap pulang ke Malang, ibu telah siap dengan sekantung plastik besar berisi gula pasir atau makanan lain serta menggorengkan ini itu untuk laukku setiba di Jakarta.
Sebenarnya ada satu lagi oleh-oleh yang biasa kuterima dari ibuku. Yakni baju dalam. Ibuku selalu memiliki persediaan baju dalam ukuranku dan ukuran kakak perempuanku. Ia selalu memaksaku untuk membawa baju dalam baru itu agar aku tidak usah lagi memakai baju dalamku yang mulai kumal. Rupanya diam-diam ibu tahu aku dan kakakku paling enggan membeli baju dalam.
Ketika kami remaja ibu menyuruh kami membeli baju dalam sendiri ke pasar. Bukannya langsung ke toko tujuan, aku dan kakak malah berputar-putar mengelilingi toko hingga tiga kali setelah memastikan toko tersebut benar-benar sepi. Kali kedua, aku disuruh ibuku untuk membeli baju dalam baru untuk kubawa saat mengikuti pesantren kilat selama seminggu. Aku ngeper tidak ada kakak yang menemaniku belanja baju dalam sehingga aku nekat membawa baju dalam pudarku. Meski bagian yang lubang telah kujahit rapi, baju dalamku yang ada di tali jemuran itu nampak lusuh dibandingkan baju dalam teman-temanku yang lucu-lucu. Aku malu sekali dan menyesal tidak membeli baju dalam baru.
Meski aku senang dengan kebiasaan ibu men-stok baju dalam di rumah, ada kalanya aku sebel dengan pilihannya. Karena ibuku jarang keluar rumah dan lebih suka nitip uang ke tanteku yang punya gadis kecil, tidak heran jika baju-baju dalamnya khas anak perempuan kecil. Ya, baju dalamku yang telah berstatus mahasiswa pun bermotif kartun dan polkadot. Hehehe kalau ingat dengan kebiasaan ibuku ini aku jadi tergelak dan merasa kangen. Kapan ya pulang lagi ke Malang?!


kalo travel ajak2 dong
*ngarep
Dear Agam,
Kalau ingin banyak informasi tentang jalan-jalan, coba gabung di couchsurfing, indobackpacker, atau jalansutra. Di sana banyak info jalan-jalan murah dan nyaman. Saya juga gabung dengan mereka, setelah gabung sama mereka saya jadi lebih berani menyusun acara jalan-jalan sendiri.
salam,
puspa