Kompasiana: Warna-warni Perjalanan Bersama Ferry

ferry-poto tano2

Saya termasuk jarang menggunakan mode transportasi laut, apalagi ferry. Hingga sekarang, total baru lima rute yang pernah saya lintasi dengan kapal ferry. Dan, semuanya memberi catatan dan pengalaman tersendiri. Mulai perjalanan dengan fasilitas yang menyenangkan hingga menelan penderitaan selama berjam-jam karena mabuk laut.

Ferry Pertama ke Pulau Garam

Perjalanan pertama naik ferry saya rekam saat masih duduk di kelas 4 SD. Waktu itu sekolah mengadakan tamasya dengan salah satu destinasi ke pulau Madura.

Dengan bersemangat kaki saya menginjakkan kaki ke kapal yang nampak gagah tersebut. Dek kapal bagi saya saat itu nampak sangat luas, dengan tempat duduk berderet rapi. Dan, seperti anak-anak lainnya,saya sibuk berlarian mencari tempat terbaik untuk melihat pemandangan dari atas kapal. Ibu yang mendampingi saya memanggil-manggil agar saya duduk tenang di bangku di sampingnya. Saya hanya bertahan beberapa menit dan kemudian sibuk melihat aksi anak-anak kecil yang berenang untuk minta koin.

Setelah aksi tersebut berakhir, tidak ada pemandangan lain selain laut berwarna kebiruan. Jenuh, saya kembali ke tempat duduk di sebelah ibu sambil mengunyah penganan kecil. Baru setelah teman-teman bersorak-sorak melihat pulau Madura yang mulai terlihat, saya kembali beranjak.

Kapal yang besar ini nampak berjalan perlahan menuju pulau yang semakin membesar. Itulah Pulau Madura, yang menjadi pulau pertama yang kukunjungi.Pulau yang memberikan oleh-oleh pecut alias cambuk dan layang-layang berukuran besar yang cantik.

Perpisahan SMP di Pulau Bali

Lima tahun kemudian ketika perpisahan kelas 3 SMP, sekolah mengadakan tamasya ke Bali. Saat itu kami membayar sekitar Rp 85 ribu per orang untuk tamasya sekitar 5 hari. Murah sekali jika dibandingkan dengan biaya saat ini. Perjalanan dari Malang menuju Bali ditempuh dengan bus dan dilanjutkan dengan naik kapal Ferry, dilanjutkan dengan bus lagi.

Dari Malang kami berangkat sore hari dan tiba di Pelabuhan Ketapang, Gilimanuk, Banyuwangi sudah sangat malam. Karena setiap naik kapal ferry menuju dan balik dari Pelabuhan Padang Bai, Bali selalu malam hari, saya tidak ingat persis kondisi dan situasi perjalanan saat itu. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar 3 jam dan tahu-tahu saya sudah kembali tidur di bus untuk melanjutkan perjalanan.

Mabuk Laut bersama Muria

Perjalanan menuju Karimun Jawa yang saya lakukan bersama teman-teman 2007 silam membawa kenangan tersendiri. Di sinilah saya merasakan ombak besar yang berujung dengan tidak komprominya tubuh. Saya bolak balik antri ke kamar mandi karena mabuk laut. Dan rasanya sangat menyiksa.

ferry-karimun2

ferry-karimunKapal Ferry Muria menuju Karimun Jawa dari Pelabuhan Kartini, Jepara, pada masa itu sangatterbatas dan jadwal penyeberangannya pun minim. Kami mendapat jadwal hari Sabtu pagi dan kembali Senin pagi. Karena jadwalnya yang terbatas, penumpangnya membludak.

Tujuh jam perjalanan menuju Karimun Jawa. Kami mendapat ruang VIP dimana di dalamnya ada sederetan bangku dengan kamar mandi bersih serta hiburan teve. Ruangannya bersih dan bebas asap rokok.

Saat berangkat cuaca cerah, saya menikmati perjalanan. Kadang-kadang saya keluar dari ruang VIP menuju dek untuk melihat suasana dan pemandangan dari kapal. Di dek sangat sesak sehingga banyak penumpang yang duduk lesehan karena bangku sudah penuh. Di sini juga tersedia banyak penjual makanan. Meriah.

Ketika bertolak dari Karimun Jawa, laut bergejolak. Saya merasakan mual yang tak tertahankan. Hampir sebagian besar penumpang merasakan hal yang sama. Akhirnya saya malah bisa sedikit terbebas dari penderitaan dengan duduk lesehan di dek dan menghirup udara laut. Ketika kapal mendarat di Jepara saya bersorak, merasakan kelegaan.

Ruang VIP Tercantik Menuju Lampung

Meski sempat mabuk laut, saya tidak kapok naik kapal laut. Ketika teman mengajak ke Krakatau bersama ferry saya mengiyakan. Kami berangkat dari Pelabuhan Merak, Banten menuju Bakauheni, Lampung. Tak terduga ruangan VIP-nya begitu cantik. Saya mengacungkan jempol ke teman saya.

ferry-lampung

Kursinya berbantalan empuk seperti sofa dengan kamar mandi yang juga bersih.Hampir semua sudut juga nampak bersih. Wow, ini ruang VIP yang paling bagus di antara semua perjalanan naik kapal laut yang pernah saya lakukan. Salut deh buat pengelolanya.

Mengarungi Toba Rp 7 Ribu

Tahun 2012 silam saya berkesempatan mencicipi panorama Danau Toba yang cantik. Danaunya sangat luas seperti lautan saja, bedanya rasanya tawar. Di sini setiap jam ada kapal laut yang membawa dan menurunkan penumpang dari/menuju Tomok ke Parapat.

Kapal ferry-nya tidak begitu besar. Terdiri dari dua tingkat. Bagian bawah berupa deretan kursi memanjang yang cukup untuk sekitar 30-40 penumpang. Di bagian atas hanya ada sekitar 10 kursi yang terbuat dari besi. Jika tidak kebagian bangku, ya terpaksa duduk di tempat seadanya.

ferry-toba

Biayanya murah, hanya Rp 7 ribu dengan jarak tempuh sekitar satu jam. Kapal menjemput penumpang di dermaga yang ada di hampir semua penginapan yang ada di Tomok, begitu juga ketika membawa penumpang ke Tomok. Kami cukup menyebutkan nama penginapan dan kami turun di dermaga penginapan tersebut. Benar-benar praktis dan menguntungkan wisatawan.

Tempat terbaik di kapal ini adalah di atas karena bisa memandang panorama Danau Toba dari berbagai sudut. Tak heran bila tempat ini menjadi rebutan, terutama wisatawan asing. Namun, lama-kelamaan saat angin mulai kencang dan dingin, saya lebih memilih di bagian bawah. Jika sedang berada satu kapal dengan rombongan yang membawa gitar, maka suasana menjadi meriah.Apalagi jika perjalanan dilakukan saat petang, wah suasana di kapal nampak syahduh.

Perjalanan Solo Menuju Poto Tano

Camera 360

Perjalanan ferry yang paling terakhir adalah dari Pelabuhan Kahyangan, Lombok Timur menuju Pelabuhan di Sumbawa Barat, yaitu Poto Tano. Perjalanan kali ini benar-benar berkesan karena saya lakukan seorang diri.

Dari Mataram, saya naik elf menuju pelabuhan. Lalu saya membayar tiket sekitar Rp 14 ribu. Kapal ini memiliki jadwal tiap jam selama 24 jam, jadi menguntungkan bagi masyarakat dan wisatawan. Karena saya merasa was-was, saya sengaja memilih tempat duduk di pojok paling depan.

Kapalnya kurang bersih dan penumpang di dek sangat beragam. Karena berada di dek, saya tidak terbebas dari asap rokok, yang membuat perjalanan jadi tidak nyaman. Namun, adanya pengamen yang menyanyikan sejumlah lagu daerah membuat saya terhibur dan sambil menikmati pemandangan pulau-pulau yang tersebar di selat ini, saya merasa bosan di kapal selama dua jam. Dan pemandangan di Poto Tano benar-benar luar biasa. Pelabuhan terindah yang pernah saya kunjungi.

Beruntung, ketika balik menuju Lombok, ada petugas kapal kenalan pemilik rumah yang saya inapi di Poto Tano. Ia mempersilakan saya memasuki ruang VIP tanpa membayar lagi sebesar Rp 10 ribu. Ruangan VIP-nya tidak terlalu luas, namun bersih. Di dalamnya ada beberapa sofa, dua kamar mandi, dan beberapa alas tempat tidur. Benar-benar nyaman.

Camera 360

Jika menggunakan alas tempat tidur kita membayar lagi Rp 10 ribu ketika kapal hendak merapat. Sepatu dan sandal juga wajib dilepas sehingga ruangan terbebas dari kotoran alas kaki.

Dari enam perjalanan naik ferry tersebut kisah paling seru adalah ferry kembali dari Poto Tano, kisah paling menderita adalah bertolak dari Karimun Jawa, dan ruang VIP paling mewah adalah di Kapal Ferry menuju Lampung. Ke depan, naik ferry kemana lagi ya?

ferry-poto tano

~ oleh dewipuspasari pada Maret 24, 2013.

Tinggalkan komentar