Maskapai Bangkrut Badan pun Nyangkut

sgpra

Apa sih yang terlintas di pikiran Anda jika mendengar istilah bulan madu? Tentunya perjalanan pasangan suami istri yang menyenangkan dan sangat berkesan. Hal tersebut juga menjadi impianku. Namun, setelah tiba waktunya, yang terjadi malah sebaliknya. Perjalanan itu menjadi sebuah mimpi buruk. Segi positifnya, kami memiliki kenangan dan bahan cerita yang menarik buat anak cucu kami nanti. Apa sih yang menjadikan perjalanan kami berujung kesialan? Yuk baca kisah kami berdua

Beberapa bulan sebelum menikah, kami berdiskusi tentang destinasi bulan madu kami. Pasangan tidak bisa mengambil cuti selepas menikah karena sedang menghadapi ujian akhir semester, maka kami berkompromi melakukan perjalanan selepas urusan akademis.

sgpra2

kenangan baik sebelum kesialan menjemput

Kebetulan saat itu ada maskapai nasional mengadakan promo gila-gilaan untuk penerbangan awal tahun. Saya yang membaca iklannya kontan tertarik dan ikut mengantri panjang untuk mendapatkan tiket tersebut. Ketika tiket sudah di tangan, rasanya senang luar biasa karena kami mendapatkan salah satu destinasi yang cukup menarik dan murah.

Pasangan waktu itu belum pernah ke luar negeri. Jadi bulan madu ini akan menjadi perjalanan luar negerinya yang pertama. Kami sibuk mengurus paspor dan merencanakan tempat-tempat yang kami datangi. Dengan bujet kami yang terbatas, akhirnya kami mendapatkan penginapan murah di Geylang, salah satu red district di Singapura. Toh, kami bakal lebih sering main daripada di penginapan, jadi saya tidak ambil pusing dengan sekeliling tempat bermalam kami.

Ketika maskapai mengundurkan jadwal penerbangan kami menjadi petang hari, saya tenang-tenang saja. Jika saya mengomel maka mood saya akan terus memburuk, maka saya tetap berpikiran positif.

Selama di Singapura, kami berkeliling dari Pantai Marina, wilayah Bugis, belanja cokelat di Mustafa, serta mengunjungi The Universal Studio. Taman bermain yang ada di Pulau Sentosa ini rupanya cukup mahal dan wahana bermain yang terbatas. Kami mencobai wahana di lokasi Jurrasic Park, semacam kereta gantung juga arung jeram. Kereta gantungnya sedikit mendebarkan tapi arung jeramnya seperti dibuat untuk permainan anak-anak. Kami juga menjajal The Mummy, sebuah roller coaster indoor yang gelap. Saya terheran-heran dengan pasangan yang duduk anteng selama permainan, sementara saya berkeringat dingin. Setelah puas bermain, kami pun mencicipi masakan India yang banyak di sekitaran Singapura. Prata dan teh tarik menjadi makanan favorit kami di sana, selain enak juga murah meriah.

Seandainya perjalanan ditutup dengan kepulangan kami sesuai jadwal, maka perjalanan bulan madu ini cukup menyenangkan. Namun, saya mulai jengkel ketika mendapat informasi bahwa pesawat kami lagi-lagi molor. Pesawat kami baru akan terbang malam hari dari yang sebelumnya pagi hari.

Karena persediaan uang mulai menipis, kami pun harus puas berkeliling kota dengan menggunakan bus dan MRT. Tiga jam sebelum jadwal penerbangan, kami pun bersiap-siap menuju Changi. Perjalanan menuju bandara tidak sampai sejam. Kami pun bergegas menuju loket check in. Tapi perasaan saya terasa tidak enak ketika membaca informasi bahwa status penerbangan kami cancel.

Saya berdebar-debar gelisah, suami menggandeng tangan saya melangkah menuju loket check in.  Setelah tiba di loket check in maskapai tersebut, tidak ada petugas dari maskapai tersebut satu pun. Hanya ada satu petugas bandara yang menempelkan kertas jika pesawat gagal terbang hingga waktu yang ditentukan. Dan ia juga bingung ketika kami tanyai. Saya pun merasa lemas.

sgpra3

Orang-orang yang ikut terlantar

Satu-persatu penumpang dari Indonesia datang dan mereka spontan  terkejut dengan pengumuman tersebut. Orang-orang yang berduit tebal segera mencari penerbangan terakhir. Beberapa remaja segera sibuk browsing dan membeli tiket secara online untuk penerbangan keesokan harinya. Sebagian lainnya kembali ke pusat kota mencari penginapan. Sementara kami dan beberapa orang lainnya masih termangu-mangu dan bingung menentukan rencana berikutnya. Yang kami  tahu  kami harus mencari lokasi yang enak untuk tidur. Kami semua sudah ragu bahwa pesawat akan terbang keesokan harinya, apalagi salah satu calon penumpang menunjukkan berita di internet jika maskapai tersebut telah dinyatakan bangkrut dan ada banyak penumpang maskapai tersebut yang terabaikan di bandara Soekarno Hatta sejak pagi.

Kami berdua tidak bisa tenang sebelum besok memiliki tiket. Kami menghitung uang kami yang tersisa, hanya cukup untuk membeli satu tiket dengan harga yang sangat murah. Namun, harapan semakin pupus ketika kami mendatangi satu demi satu maskapai dan menanyakan harga tiket keesokan hari. Tidak ada yang seharga seperti uang yang tersisa di kantong kami.

Malam semakin larut dan loket pun tutup. Kami hendak menghubungi kakak, tapi ragu setelah melihat jam. Kakak pasti sudah tidur dan bakal cemas bila kami menelpon dini hari. Saya dan suami pun berkeliling mencari sudut-sudut bandara yang bisa menjadi tempat peraduan kami sementara. Kami harus puas tidur di bandara karena sangat sulit menemukan penginapan di Singapura di bawah 500 dolar Singapura.

Seumur-umur baru kali itu saya tidur di bandara. AC di bandara sangat dingin. Akhirnya kami berdua memutuskan tidur di bandara low cost. Di bandara ini AC-nya tidak terlalu dingin. Tapi demi kenyamanan, saya merangkap kaus saya. Kami gunakan tas ransel kami untuk alas kepala.

sgpra6

Baju berlapis-lapis takut kedinginan.

Meski saya lelah dan ngantuk, tapi saya tidak bisa tidur dengan nyaman. Saya beberapa kali terjaga dan sekitar pukul 4:30 saya terbangun karena bandara mulai rame oleh penumpang. Karena malu dan nampak kotor, kami pun bangun dengan wajah kuyu. Saya lalu mengecek barang-barang kami. Dan syukurlah pad lock itu masih terpasang dengan rapi dan tidak ada tanda-tanda resleting tas kami rusak.

Sekitar pukul 06.30 WITA atau 05.30 waktu Jakarta. saya menghubungi kakak dengan pulsa terbatas. Bukannya kuatir, kakak di seberang telpon malah tertawa terbahak-bahak.  Sejam berikutnya, ia berhasil membelikan kami tiket secara online dan memberikan kode booking. Setelah lebih dari 9 jam kami terkatung-katung di bandara, saya mulai bisa tersenyum. Setidaknya kami masih punya sedikit uang untuk sarapan sambil menunggu jadwal keberangkatan kami.

Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, serta sarapan, semangat saya mulai naik. Kami bertemu dengan dua orang calon penumpang yang bernasib sama. Kami memberitahukan kepada mereka maskapai yang kami pilih, maskapai dengan harga yang masih terjangkau dan berangkat sekitar pukul 11.00. Si wanita ternyata tidak punya cukup uang dan tidak membawa kartu kredit, sehingga kami pinjamkan sisa uang kami kepadanya. Dan syukurlah maskapai ini tidak molor dan berangkat tepat waktu. Sekitar pukul 13.00 kami pun tiba dengan selamat ke tanah air.

Jika ingat perjalanan bulan madu kami, meskipun berakhir buruk, kami tertawa terpingkal-pingkal. Orang-orang yang mendengar cerita kami umumnya menggeleng-gelengkan dan berkata nasib kami sangat sial.  Perjalanan bulan madu yang buruk tapi sangat berkesan.

~ oleh dewipuspasari pada Juli 14, 2013.

2 Tanggapan to “Maskapai Bangkrut Badan pun Nyangkut”

  1. Bulan madunya berkesan banget Pus…

Tinggalkan komentar