Buah Cempedak: Harumnya Melebihi Nangka (update)
Setelah keluar dari tol Sadang menuju Subang, ada beberapa warung yang menjajakan cempedak. Buah ini mirip dengan buah nangka dengan bentuk yang lebih lonjong. Saya yang tertarik pun kemudian menawarnya. Namun karena tidak tahu harga normalnya, saya mendapatkan dengan harga yang mahal, yakni Rp 45 ribu. Untunglah setelah dibelah, daging buahnya berwarna kuning dan sangat harum. Pertanda matang dengan sempurna.
Buah cempedak ini memiliki banyak nama, ada yang menyebutnya nangka Cino adapula yang menyebutnya nangka beurit dan tiwadak. Ketika saya belah, struktur buahnya mirip dengan buah nangka, yaitu dengan adanya dami (berwarna keputihan). Daging buahnya lebih kecil, begitu pula bijinya.
Ketika dimakan, buah ini manis dengan rasa mirip nangka, namun harumnya agak mirip dengan durian, meski tidak menusuk. Dari sejumlah informasi, cempedak lebih nikmat jika digoreng. Saya goreng dengan terigu, gula, dan sedikit garam. Bahkan, ada yang menyebutkan, rasanya akan lebih manis jika bijinya tidak dipisahkan. Saya coba keduanya. Dan memang rasanya nikmat ketika digoreng. Manis sedikit asam. Cempedak goreng beserta bijinya juga jauh lebih manis, saya tidak tahu mengapa bisa demikian.
Ada juga info yang menyebutkan da
minya bisa dimasak dengan direndam ke dalam air garam beberapa jam baru digoreng. Kemarin saya rendam daminya semalaman dengan air garam dan pagi tadi saya goreng. Rasanya seperti makan daging sapi (agak liat gitu) tapi rasanya sih asin doang karena tidak ada bumbu. Besok kucoba buat bumbu seperti bikin tempe goreng, jangan-jangan rasanya mirip daging sapi hehehe. Wah jadi ada ide bikin daging sapi tiruan dari dami.




