Diary Istri Upik: #Kopi..kopi..dan Kopi
Suami keheranan melihat saya memasukkan tiga jenis kopi ke dalam troli belanjaan. Ada kopi bubuk jenis kopi robusta, ada pula kopi siap seduh yang memasang nama java latte dan juga kopi mocca kesukaannya. Wah-wah-wah dasar maniak kopi, suami hanya geleng-geleng kepala.
Dulu saya sempat berpuasa minum kopi dan hanya minum teh daun. Namun, tubuh saya agak berontak dan melonjak-lonjak minta kopi. Ya tidak ada salahnya minum kopi menurut artikel kesehatan (menghibur diri). Toh saya masih wajar hanya minum dua cangkir setiap pagi dan petang.
Meskipun favorit saya kopi hitam tapi saya selalu tergoda untuk mencoba produk kopi lain, apalagi jika kemasannya bagus dan nampak nikmat hehehe. Apalagi jika ada bonus hadiah hihihi.
Beragam merk kopi 3 in 1 sudah hampir semua saya cicipi. Ada satu merk yang langsung saya coret karena kadar kafeinenya terlalu tinggi dan selalu sukses bikin sakit perut. Produk berbagai white coffee juga sudah saya cicipi. Jenis lainnya seperti kopi jahe juga sudah saya reguk. Hampir setiap produk baru ingin saya cicipi.
Pasangan lebih konservatif dan pilihannya hanya sebatas kopi mocca dan white coffee. Ia kesal jika saya mengganti kopi favoritnya dengan merk baru untuk coba-coba. Memangnya kelinci percobaan, ujarnya kesal. Ya, dari reaksinya saya tahu kopi itu ratingnya lumayan, buruk, atau sangat buruk. Namun, karena sayang sudah buang-buang duit, biasanya kopi dengan rating buruk atau sangat buruk masih saya selamatkan. Saya coba blender dan tambahkan susu bubuk plus es batu. Atau ditambahkan rebusan serai, jahe, gula merah atau kayu manis. Rasanya masih bisa diselamatkan deh.

