Menuju Yogya Via Jalur Selatan: Jalanan Sempit vs Panorama Indah

back jkt-gerbang

Jumlah pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi tak pernah berkurang, bahkan setiap tahunnya bertambah, terutama mereka yang menggunakan mobil. Saya pernah diajak kakak mudik dua kali ke Malang via mobil. Jika jalanan tidak terlalu padat, 17 jam pun sudah bisa tidur nyenyak di tempat tidurku di Malang. Tapi saat padat, 26 jam kami baru tiba. Biasanya kami mengambil rute pantura baru dari Semarang mengarah ke jalur selatan. Nah, saat ke Yogya  April lalu saya dan suami mencoba jalur selatan sejak Cileunyi. Jalanan memang lebih sempit dan curam, namun kami puas disuguhi oleh panorama indah. Sayang kesan indah ini terhapus oleh kesialan kami akan banjir menjelang pintu tol Cileunyi saat kembali ke Jakarta. Kami bermalam di mobil karena jalanan terhalang oleh banjir.

Ada banyak alasan orang menggunaan kendaran pribadi dibandingkan angkutan publik untuk perjalanan jauh. Pertama, fleksibilitas. Jika menggunakan angkutan umum maka kita dipastikan datang 1-2 jam sebelum jadwal keberangkatan. Terlambat sekian menit atau datang kurang dari 45 menit dari take off bisa ditinggal, seperti pengalaman saya tertinggal pesawat Garuda ketika menuju Manado (masih nyesak kalau ingat). Terkadang jadwal tersebut kurang nyaman, misal terlalu pagi atau tiba di lokasi tujuan saat dini hari. Sementara jika naik kendaraan pribadi, bisa berangkat seenaknya. Bisa istirahat kapanpun. Dan bisa memilih tempat makan yang enak dan toilet yang bersih.

Alasan berikutnya yaitu irit tapi ini relatif. Jika naik kereta ekonomi pasti lebih hemat tapi memang kurang nyaman. Waktu ke Semarang, kami mengeluarkan biaya pulang pergi sekitar 800 ribu untuk bensin dan tol. Harga ini mungkin setara dengan naik kereta kelas bisnis. Kakak saya mudik menghabiskan sekitar Rp 2 juta untuk PP ke Cikarang-Malang dengan muatan berempat kadang berlima. Jika naik pesawat, biayanya sekitar 5 juta PP karena tiket pesawat ke Malang cukup mahal. Naik kereta Gajayana saat jelang lebaran juga tidak murah. Bisa menginjak angka 500-600 ribu.

back jkt-jembata

Sebelum berangkat ke Yogya kami mempelajari peta. Kami hanya pernah lewat selatan sampai Banjar dan itupun bukan mengendarai sendiri. Setelah mempelajari peta, kami menuju bengkel servis dan berbelanja camilan untuk bekal di perjalanan.

Menuju Yogya

Kami berangkat sekitar pukul 07.30. Kami melewati tol Cikampek kemudian menuju Padalarang dan masuk tol Cileunyi. Arus lalu lintas tidak terlalu padat, namun karena mobil kami jenis matic maka staminanya kurang optimal melalui jalan tol Cileunyi yang menanjak.

Saya kaget melihat tagihan tol Cileunyi. Wah mahal juga ya tarif tolnya sekitar 50 ribu. Di luar pinto tol, jalanan beraspal nampak kurang mulus. Suami kemudian menepi meminta dibelikan tahu sumedang yang banyak dijajakan di pinggir jalan. Tahu sumedang pun meluncur ke perut.

ke yogya-awal perjalanan

Perjalanan berlanjut menuju Nagreg. Kami sempat agak bingung ketika melihat jalan bercabang dan kami memutuskan memilih ke kiri. Ada banyak kendaraan besar sementara jalanan sempit dan curam sehingga kami memperlambat laju kendaraan. Ketika melihat pom bensin kami berhenti untuk menambah minuman kendaraan dan istirahat untuk menghadap Tuhan.

ke yogya-sholat 14

Mushola di pom bensinnya bersih dan terawat. Setelah meregangkan tubuh kami siap berangkat. Kami melewati Malangbong, Tasikmalaya dengan jalanan yang mulai cukup lebar, dan Ciamis yang bersih serta kota Banjar. Truk dan bus mulai banyak mengisi jalanan. Kami paling ogah berada di belakang truk. Asapnya hitam dan kotor dan jalannya seperti siput karena banyaknya muatan. Beberapa kali suami nekat menyalip agar terbebas dari iring-iringan truk. Karena jalanan rata-rata hanya memuat dua kendaraan dan arusnya dua arah,maka proses menyalip ini perlu kecermatan dan keberanian. Paling enak jika ada bus yang juga akan menyalip. Kami numpang ikut menyalip karena lebih aman hehehe.

ke yogya-sepi

Perjalanan berlanjut Majenang. Di sini kami bersantap siang yang sudah cukup terlambat sekaligus mengecek rute kami. Kata kakak, setelah Majenang jalanan akan semakin sepi sehingga kendaraan dan perut kami harus full tank.

ke yogya-sawah

Menuju Wangon jalanan mulai sepi. Tidak banyak laju kendaraan. Kami berkendara santai sambil menikmati panorama. Dari Wangon berturut-turut Buntu, dan Gombong. Mendekati Kebumen, jalan kembali rame. Hari mulai gelap dan matahari pun terbenam.

ke yogya-sepi2

Di Kutoarjo menuju Puworejo kami harus ekstra hati-hati. Tidak banyak penerangan jalan, sementara ada banyak pengguna jalan bersepeda. Dari Purwerojo, kami menuju Wates dan tibalah kami ke kota Yogyakarta sekitar pukul 19 lewat.

 

Balik Jakarta: Terhalang Banjir

Perjalanan kembali ke Jakarta relatif lebih mudah karena kami telah mengenal medannya. Kami kembali ke jalan yang sama.

back jkt-sepi

Sayangnya kendaraan lebih ramai daripada saat berangkat setelah di Kebumen. Pernah suatu kali suami nekat menyalip truk dan si sopir kesal dan menendang mobil kami. Jika terus di balik truk kami harus puas jalan dengan kecepatan di bawah 30 km dan diasapi. Namun, kami tidak berani menyalip di jembatan katanya sih pamali dan sering ada kecelakaan.

Cuaca gerimis dan di beberapa tempat hujan lebat. Kami beristirahat beberapa kali, membeli getuk goreng dan bersantap bebek goreng, juga menghadap Tuhan. Di Ciamis cuaca semakin tak bersahabat. Hujan semakin deras.

back jkt-sepi3

Keluar dari Tasikmalaya menuju Malangbong hari mulai gelap. Dari Malangbong hingga Nagreg perjalanan diperburuk dengan mati lampu. Kami jalan perlahan-lahan dengan memanfaatkan penerangan dari lampu mobil.

Beberapa kali kami berhenti untuk mengetahui posisi kami jika ada persimpangan. Tidak ada polisi membantu para pengguna jalan. Jalan gelap total.

Mendekati pintu tol Cileunyi rupanya ujian paling berat. Pemandangan mobil di depan nampak mencurigakan. Bergerak sangat lambat. Dan kami bernasib sial. Jalanan di dekat pintu tol terendam banjir mulai satu meter. Ada beberapa kendaraan yang nekat melintas dan mesinnya mati alias mogok. Kami menunggu.

Hingga lewat dua jam tidak ada kabar apakah jalan bisa dilewati atau tidak. Tidak ada polisi, tidak ada pemberitahuan di radio. Hanya berita simpang-siur dari pedagang asongan.

Mesin mobil kami matikan. Kami mencari rute alternatif. Sebagian mobil mengarah ke Cadas Pangeran, Sumedang, ada pula yang mencari jalan tikus dengan melewati jalanan curam. Kami ragu. Jalan sangat gelap akan sangat berbahaya jika kami nekat melewati jalan tikus yang curam.

Kami was-was. Rasanya ini akan menjadi perjalanan diam yang panjang. Mesin mobil diam dan ponsel saya turut diam karena baterei habis dan sulit di-charge dengan charger mobil.

Pukul 12 malam. Semua mobil tak bergerak. Banyak yang mesinnya dimatikan. Jika berjalan pun hanya sekian cm atau 1-2 meter, setelah itu kembali parkir. Banyak yang frustasi. Beberapa penumpang bus nampak turun dan nekat berjalan kaki hingga melewati area banjir.

Pukul enam pagi kami memutuskan mencari rute alternatif. Setelah berjalan perlahan dan menemukan putaran, kami pun berputar untuk menemukan jalan keluar dari kemacetan gila ini. Seorang petugas minimarket di pom bensin memberikan saran sebuah rute. Kami hampir mengarahkan mobil ke rute tersebut ketika saya mendapat firasat jalan mulai bisa dilewati. Dan akhirnya setelah satu jam bergulat di jalan yang super macet, akhirnya kami melewati genangan air yang mulai menyurut. Jalan banjir itu tidak sampai 100 meter tapi menghentkan laju mobil hingga mengular. Sampailah kami tiba di pintu tol Cileunyi yang jaraknya tidak sampai satu kilo dari tempat kami bermalam kemarin. Sungguh sial nasib kami.

Kami tiba di rumah sekitar pukul 13.00, terlambat belasan jam dari rencana semula. Kami sangat lelah dan mengantuk.

Dari pengalaman kami dan pengguna jalan lainnya, rupanya Nagreg menuju pintu tol Cileunyi adalah mimpi buruk saat hujan dan setelah hujan karena drainase yang buruk. Jadi saran kami, saat hujan deras, lebih baik hindari jalan ini karena bisa jadi mimpi burukmu.

~ oleh dewipuspasari pada Juli 24, 2014.

Tinggalkan komentar