Berburu Pelangi di Coban Pelangi

coban pelangi2

Malang dan daerah di sekitarnya memiliki banyak air terjun atau yang lebih dikenal dengan coban. Ada Coban Talun, Coban Rondo di Batu dan Coban Pelangi di daerah Tumpang. Penasaran akan namanya, saya pun membayangkan busur pelangi dengan latar belakang air terjun. Berikut catatan perjalanan saya yang pernah saya tulis di Adira FOI.

Wilayah Tumpang tidak hanya tersohor sebagai jalur alternatif menuju Bromo. Wilayah sejuk ini juga memiliki air terjun dengan panorama yang indah. Coban Pelangi. Asyiknya, medannya tidak terlampaui sulit ditempuh. Cukup trekking selama duapuluh menitan dan pemandangan indah dengan sentral air terjun pun menanti. Siapa tahu Anda beruntung melihat pelangi.

Popularitas Coban Pelangi memang masih kalah dengan Coban Rondo dan Coban Talun yang berada di kawasan Batu. Padahal, air terjun ini juga  tidak kalah tinggi dan deras dengan dua coban tersebut. Mungkin wilayahnya yang tidak sepopuler Batu yang memang kaya obyek wisata dan juga mendapat perhatian penuh dari pemerintah daerahnya. Kawasan wisata Tumpang belum digarap total meski menyimpan banyak potensi.

Menuju Tumpang dari pusat kota Malang tidak begitu jauh. Saya dan suami berkendara dari daerah Belimbing ke Coban Pelangi sekitar 45 menit dengan naik sepeda motor. Rutenya yaitu Belimbing ke arah Waterboom Wendit. Jika telah menemui pertigaan ke arah Bandara Abdurrahman Saleh pilihlah arah yang lurus menuju Asrikaton dan kemudian ke Tumpang. Nah, hawa yang sejuk dan sawah-sawah akan menjadi pertanda bahwa Anda telah memasuki wilayah Tumpang.

Setelah belasan menit mengarungi Tumpang Anda akan menjumpai tugu dan plang. Jika ke kanan Anda menuju Candi Kidal, arah sebaliknya yang menuju ke Coban Pelangi.

Jalanan semakin naik. Konsekuensinya, hawa semakin dingin sejuk dan pemandangan makin indah. Di sana sini kebun apel Poncokusumo, lalu pemukiman warga disambung sawah dan kebun apel juga sayuran. Kami agak was-was karena jalanan nampak lengang. Baru ketiba menjumpai beberapa rumah warga dan diberitahu oleh seorang nenek jika arah saya menuju Coban Pelangi sudah benar, baru kami merasa tenang.

Jalanan terus menanjak, namun untunglah aspalnya mulus, hanya sedikit yang lubang. Jalanan semakin sepi. Bahkan beberapa lama saya berkendara sendirian. Di kanan kiri bukan lagi rumah atau kebun melainkan jurang yang diberi pembatas berukuran pendek. Ada beberapa remaja yang asyik menikmati pemandangan di atas motornya. Ia nampak tenang tidak ada kekuatiran sama sekali atau rasa gamang ketika duduk di atas motor yang tak jauh dari bibir jurang.

Saya sendiri merasa takjub dengan pemandangan di sisi kanan. Tanaman hijau berlatar belakang pegunungan dan awan yang berwarna kebiruan. Di sisi kiri adalah pemandangan sawah-sawah bertingkat. Sengaja suami melambatkan kendaraan agar kami puas menikmati keindahan panorama menuju Coban Pelangi.

Akhirnya loket Wanawisata Coban Pelangi terlihat. Petugas meminta kami membayar 10 ribu untuk tiket masuk dan biaya parkir. Dan dua ribu lagi untuk menitipkan helm. Wah-wah-wah mahal juga biaya parkirnya.

Rupanya sore hari dan bulan puasa membuat kawasan ini terasa sepi. Hanya ada tiga motor beserta milik saya. Kami kemudian berjalan cepat agar tidak terjebak oleh kegelapan.

Untunglah meski sepi pengunjung, masih ada beberapa petugas yang tengah membersihkan dan merapikan jalanan setapak dan memperkuat jembatan. Mereka ramah-ramah dan menyemangati kami untuk tetap kuat berjalan.

Jalanan lebih banyak menurun. Kami lalu bertemu dengan sungai yang lumayan deras. Di sana ada dua remaja yang asyik bermain air. Wah asyik juga sepertinya bermain air di saat bulan puasa.

Kami tidak singgah ke sungai melainkan terus berjalan. Kali ini kami menapaki tangga ke atas. Lalu di sanalah air terjun itu menanti. Deras dan tinggi, mungkin ada sekitar 15 meter. Saya ingin sekali menerjukan air dan bermain air. Namun, jam telah menunjukkan hampir pukul empat sore dan akan langit segera gelap sehingga saya hanya duduk di dangau dan menikmati pemandangan beberapa saat.

Sejuk, enak sekali melewatkan puasa di sini. Saya berharap dapat melihat pelangi. Rupanya saya tidak beruntung hingga saya beranjak, tidak ada pelangi yang melintas di depan air terjun. Wah jadi serasa air terjun biasa.

coban pelangi

Perjalanan kembali lebih berat karena lebih banyak menanjak. Saya mulai ngos-ngosan. Namun kekuatiran langit berubah gelap memacu kami berdua untuk berlomba menuju ke atas. Akhirnya kami berhasil tiba di tempat parkir duapuluh menit kemudian. Setelah beristirahat sejenak kami pun memacu kendaraan kembali ke kota.

sumber tulisan: http://www.adirafacesofindonesia.com/article.htm/218/Coban-Pelangi–Harap-harap-Cemas-Nanti-Pelangi

~ oleh dewipuspasari pada Juli 25, 2014.

Tinggalkan komentar