Kompasiana Memang Etalase Warga Biasa

Kompasiana

Setiap orang memiliki kemampuan wartawan, mengolah informasi di sekeliling dan mewartakannya dalam bentuk artikel atau fiksi. Sepuluh tahun lalu, pernyataan tersebut mungkin dianggap konyol. Namun pernyataan tersebut kemudian terbukti dengan kehadiran blog dan kemudian situs yang mengkhususkan diri untuk pewarta dari kalangan rakyat biasa, seperti yang dilakukan Kompasiana.

Kompasiana yang sekarang beralamat di http://www.kompasiana.com memang bukan pionir di situs yang menjaring berita dan opini dari kalangan masyarakat umum. Namun, sejak didirikan tahun 2008 dan hingga dituliskannya buku ini pada September 2013, perkembangan Kompasiana luar biasa. Dari yang penulisnya hanya para wartawan Kompas berkembang menjadi lebih dari 200 ribu anggota dari berbagai kalangan dengan artikel mencapai 866.767 tulisan (halaman 251). Karena pertumbuhannya yang cepat berkat upaya keras pendirinya inilah maka hal ikhwal tentang Kompasiana ini layak ditulis.

Seperti pada judulnya Kompasiana Etalase Warga Biasa, Bung Pepih Nugraha pendiri Kompasiana bertutur tentang pemberian nama Kompasiana dan alasan Kompasiana disebut etalase. Nama Kompasiana bukanlah ide orisinal Bung Pepih. Ia mengaku mendapatkannya dari wartawan senior Kompas, Budiarto Shambazy. Mas Bas, panggilan akrab Budiarto, sendiri mengambilnya dari rubrik Kompasiana yang diciptakan oleh Petrus Kanisius Ojong. Ia beralasan rubrik tersebut memiliki gaya blog yang personel dan lugas (hal 4).

Kompasiana disebut etalase warga karena seperti fungsi etalase, Kompasiana menjadi wadah untuk menampilkan berbagai jenis tulisan warga biasa. Jenis tulisannya pun rupa-rupa, bukan hanya berita warga, melainkan juga opini, catatan harian, bahkan fiksi (hal prolog).Penulisnya juga berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswa, guru, politisi, hingga mantan menteri dan Yusuf Kalla (hal 252).

Buku yang terdiri dari 22 bab ini menuturkan mulai dari awal mula berdirinya Kompasiana, kesulitan-kesulitan yang dialami bung Pepih dalam mengembangkan komunitasnya, juga deretan keberhasilannya. Tiap bab dalam buku ini bisa dibaca terpisah. Jadi jika Anda ingin langsung mengetahui alasan-alasan mengapa harus bergabung menjadi Kompasianer (anggota Kompasiana), Anda bisa langsung menuju ke Bab 13 “Jadikan Kompasiana ‘Etalase’ Gratis Tulisan Anda. Di bab ini disebutkan enam keuntungan menjadi Kompasianer, seperti tulisan yang langsung bisa dibaca banyak orang karena memiliki jutaan pembaca setia; tulisannya mudah dikomentari; dan modal untuk berinvestasi menjadi buku jika temanya menarik (hal 146-147).

Meskipun buku ini bergenre nonfiksi, buku ini asyik dibaca karena gaya bahasa bung Pepih yang mengalir dan lugas. Desain dan lay out buku ini juga segar dengan pilihan warna putih dan hijau turqoise. Ada banyak hal-hal positif yang bisa didapatkan di buku ini, di antaranya kesabaran dan kerja keras bung Pepih dalam mengembangkan Kompasiana yang awal-awalnya banyak mendapat cibiran dari berbagai pihak.

Buku ini bisa dibaca semua kalangan. Bagi mereka yang menghargai kerja keras atau bagi mereka yang tertarik dengan perkembangan jurnalisme di Indonesia, terutama perkembangan jurnalisme warga karena Kompasiana adalah media penelitian jurnalisme warga yang menarik untuk dikupas.

Detail Buku:
Judul Buku: Kompasiana Etalase Warga Biasa
Penulis : Pepih Nugraha
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku: 268 halaman
ISBN :978-979-22-9987-8
Rating : 8/10

~ oleh dewipuspasari pada September 8, 2014.

Tinggalkan komentar