Bersih Diri

9915468-Silhouettes-of-women-sitting-in-cafe--Stock-Vector-cafe-coffee-cartoon

Suatu hari, teman satu kuliah mengajakku bertemu. Ia hendak menraktirku bubur kacang ijo yang menurutnya paling nikmat di Surabaya. Aku oke-oke saja, karena seharian aku baru sekali mengisi perut. Tetapi ketika bertemu, ia memintaku membersihkan diri dulu dengan gaya misterius.

Hei aku sudah cuci tangan. Bukan itu, katanya sambil menggerak-gerakkan tangannya. Wah kalau untuk mandi, memang baru pagi tadi, aku tersipu malu. Ya aku baru keluar dari kantorku, ujarku berkilah. Bukaannn, tukasnya. Apaan sih? Aku jadi gelisah.

Setelah asisten penjual menghampiri meja kami dan ia memesan dua mangkok bubur kacang ijo dan teh botol, aku kembali menanyakan maksudnya. Aku jengkel jika ia berlagak misterius seperti itu.

Aku menatap lekat wajahnya mencoba mencari jawaban dari mimiknya. Ia kawanku yang anehnya baru akrab setelah kami lulus kuliah. Dulu ia menjengkelkan dan kini ia masih menjengkelkan meskipun kadarnya agak berkurang.

Ia menanyakan kemana saja aku seharian. Aku jawab jika mengunjungi beberapa rumah sakit sebelum ke kantor. Ia menanyakan lebih detail. Aku jawab ke beberapa ruangan di rumah sakit dari ruang tunggu UGD hingga kamar mayat. Hemmm, ia mengangguk-angguk.

Nah, itu dia. Bersihkan dulu gih, ujarnya. Apaan nih. Aku jadi tidak enak.

Tadi di kantor aku juga merasa jengkel ke rekanku. Siangnya aku membantu pencari warta yang ketakutan masuk kamar pendingin. Ia memerlukan foto seorang korban tenggelam, tapi ia takut. Sedangkan aku tidak pernah memerlukan foto-foto seperti itu. Akupun membantunya memotret dengan kamera digitalku dan kemudian ditransfernya ke kamera miliknya.

Yang menyebalkan, rekan di sebelahku berbuat usil. Ketika aku ke toilet, ia mengutak-atik kamera dan ketika aku kembali ke mejaku dan menggeser layar aku terkejut ketika wallpaper-ku berganti menjadi gambar korban tersebut. Aku marah sekali.

Ada kaitan dengan teman kita di alam berbeda? tanyaku ke temanku yang mulai asyik menyendoki bubur. Alis matanya naik. Ia kemudian menerangkan cara untuk membersihkan tubuh dari sesuatu yang tak kasat mata.

Setiap masuk rumah atau selesai berkunjung ke tempat-tempat baru atau berhawa dingin, mending bersihkan tubuh dulu, ia memberitahuku. Aku menuruti sarannya dan mencoba membersihkan diri seperti yang diajarkannya.

Aku jadi teringat pada ayahku. Jika aku pulang ke rumah, setelah memelukku ia memintaku untuk segera mencuci tangan dan kaki. Apa hal tersebut sama tapi dengan cara yang berbeda, aku bertanya-tanya.

Beberapa waktu kemudian, aku membaca cerita gadis yang diikuti sesuatu tersebut di buku keempat Andrea Hirata. Sesuatu yang membuatku bergidik.

Temanku itu tetap misterius. Aku tak pernah lagi mendengar kabarnya. Aku kadang bertanya-tanya mungkin kehadirannya tidak sekedar kebetulan dan beberapa percakapan di antara kami masih kuingat.

Ia memberiku sebuah tanda mata yang masih kusimpan di kotak harta karunku.

gambar dari: 123rf.com

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Mei 6, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: