Dara dan Pohon Mangga

Girl and tree

Pohon mangga itu telah tua dan sudah tidak begitu menghasilkan buah. Gadis itu telah diberi saran keluarganya untuk menebangnya dan menggantinya dengan pepohonan lainnya. Ia diam dan menolak usulannya.

Sudah 12 tahun gadis itu hidup sendiri bersama pohon mangganya. Ia sebatang kara setelah adik dan ibunya mengalami kecelakaan. Namun ia tak pernah kesepian karena ada Kuro yang menemaninya.

Kucing itu setia menemaninya dan menghibur masa-masa dukanya. Ia menolak tawaran paman dan neneknya untuk tinggal bersama mereka. Ia lebih mencintai rumah ini, rumah yang melahirkan dan menghidupinya.

Pohon mangga itu ditanam sejak gadis itu berusia tujuh tahun. Betapa senangnya gadis kecil merawat tanamannya hingga tumbuh membesar. Ia tak sabar kapan pohon itu akan memberinya buah. Ia menunggunya dan bernyanyi tiap pagi berharap tumbuh bunga dan kemudian buah.

Ayahnya meninggal pada musim mangga. Pada saat ayahnya meninggal, pohon mangganya baru menghasilkan buah. Ia sangat sedih ayahnya tak dapat mencicipi buah pertama dari pohonnya. Di dekat makam ayahnya ia diam-diam menanam bijih buah mangga. Ia berharap anak pohon mangganya akan membuat ayahnya tersenyum seperti yang dilakukan induk pohon mangga kepadanya.

Setiap sore selepas mengikuti kursus atau sembari belajar, gadis remaja itu asyik membaca buku di bawah pohon mangga. Kuro yang hadir setelah ia sebatang kara pun menemaninya. Masa-masa itu begitu damai dan ia merasa bahagia.

Kuro semakin tua, demikian juga pohon mangga itu. Dulu Kuro suka memanjat pohon mangga tersebut. Kadangkala ia tak bisa turun hingga gadis itu menolongnya.

Kuro meninggal di usianya ke-12 tahun. Ia sudah sangat tua dan hanya bisa tiduran di kursi tua. Ia meninggal saat tidur nyenyap. Gadis yang telah dewasa itu membangunkannya, tapi Kuro telah kaku.

Ia memakamkan Kuro di bawah pohon mangga. Pohon mangga itu sahabat Kuro, juga sahabatnya.

Usia 27 tahun bagi gadis itu membuatnya memilih, antara tetap tinggal di rumah ini atau menjual rumah dan menebang pohon mangganya karena calon pembelinya tak menyukai pohon tua yang tidak produktif.

Gadis itu membiarkan mata dan benaknya berkeliling. Ia mencintai pohon mangga itu. Ia menyayangi rumah ini. Ia masih bisa hidup dan tak harus pergi dari rumah ini.

Ia menolak tawaran menjual rumahnya. Setiap Sabtu dan Minggu sore ia habiskan waktu menulis sebuah memoar tentang pohon mangga, Kuro dan dirinya.

Pohon mangga itu semakin tua dan kokoh. Kuro telah tiada, kini hadir kucing lucu bernama Nero. Ia pun menjadi sahabat pohon mangga dan sahabat gadis itu.

Gambar dari sini

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Juli 8, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: