Kisah Spionase yang Serba Tanggung

film-spy-in-love_20160921_173124

Selama hampir 90 menit menonton film Spy in Love membuat saya agak tersiksa dan ingin segera keluar dari teater 3 di sebuah bioskop di bilangan timur Jakarta. Filmnya serba tanggung, mau dibawa ke genre romance tidak kena, ke ranah laga juga kurang mantap, mungkin malah lebih asyik jika sisi komedinya ditonjolkan. Dan film yang membuat saya bersungut-sungut ini untungnya terselamatkan oleh Ray Sahetapy. Ia paling menonjol dalam film ini dan malah ia yang lebih tepat sebagai pemeran utama film ini.

Spy in Love dibuka dengan seorang perempuan yang berlarian kesana kemari di sebuah pulau. Ia lalu menyisipkan sesuatu di tas seorang anak dan kemudian tersungkur oleh peluru. Adegan lalu beralih ke pensiunan intelijen negara, Satria (Ray Sahetapy) yang bertemu dengan eks partnernya yang masih aktif bekerja. Rekannya (Pong Harjatmo) meminta menganalisis sebuah kasus pembajakan pesawat dimana penumpangnya belum ketahuan kabarnya.

Ketika asyik menganalisis informasi pembajakan pesawat, cucu Satria, Putra (Hamish Daud) meminta kakeknya untuk berlibur ke tempat ia bekerja di Penang, Malaysia. Rupanya Putra hendak meminta restu kakeknya untuk menikahi gadis Malaysia bernama Yasmin (Siti Saleha). Kakeknya sangat marah ketika mengetahui cucunya memilih gadis berbeda negara. Kemarahannya berlebih ketika melihat sosok ibu Yasmin, Fariza (Nasha Aziz) yang diduganya juga seorang spionase yang terlibat dengan kasus pembajakan pesawat. Ulahnya yang mencurigai Fariza menimbulkan kehebohan. Fariza pun sangat kesal dan meminta putrinya menjauhi Putra.

Putra dan Yasmin

Putra dan Yasmin

Namun ternyata ada kelompok organisasi yang besar di balik pembajakan pesawat itu. Mampukah pensiunan intelijen yang telah berpindah profesi menjadi dosen mengungkap misteri pembajakan pesawat tersebut?

Selama separuh film saya bertanya-tanya siapa sih sebenarnya pemeran utama film ini? Dalam poster dan trailer yang dirilis sih tokoh utamanya adalah Putra dan Yasmin yang diperankan masing-masing oleh Hamish Daud dan Siti Saleha. Tapi separuh film bahkan sepanjang film malah saya merasa peran utamanya adalah sosok Satria yang diperankan secara apik oleh Ray Sahetapy.

Ray Sahatepy sebagai aktor senior tampil cemerlang di sini, bahkan meskipun plot film Spy in Love agak berantakan dan banyak adegan yang kurang masuk akal. Ia menjadi sosok kakek yang menyebalkan, selalu penasaran, tapi juga sosok yang mudah disukai. Saya menyukai film ini setiap kali ia muncul. Ia membuat adegan film menjadi berwarna dan jika ia ditonjolkan maka film ini akan menjadi lebih segar dan bernuansa komedi yang menarik. Performanya yang apik di The Raid I juga membuatnya pas sebagai agen spionase gaek. Sebenarnya tak apa-apa juga jika Ray menjadi aktor utamanya di film laga ini karena Bruce Wilis, Liam Neeson, dan Harisson Ford pun juga masih laris membintangi film laga.

Rekan penyelidikan Satria di Penang ternyata sosok perempuan yang dianggapnya menyebalkan. Fariza yang diperankan Nasha Aziz memang kemudaan untuk menjadi sosok ibu Yasmin. Namun chemistry keduanya lebih menonjol dan aksi keduanya yang penuh perdebatan membuat film ini tidak membosankan.

Baru pada separuh film yang mengetengahkan sosok Putra ceritanya menjadi datar dan membosankan. Hamish Daud kurang berhasil menghidupkan sosok Putra sehingga kehadirannya malah seolah sebagai pelengkap, bukan sebagai tokoh utama. Siti Saleha sebagai Yasmin tampil lumayan, tapi juga kalah memikat dibandingkan sosok ibunya, Fariza.

Aksi laganya juga terkesan dar der dor saja. Koreografi pertarungannya juga tidak menarik. Malah bisa dibilang adegan laga ini seperti film-film laga tahun 80-90-an. Yang cukup menarik sih kehadiran Big Mama dimana sosoknya seperti Alfred dalam film Batman.

Oh ya film Spy in Love lumayan bersimbah darah. Jadi sebaiknya jangan membawa anak-anak kecil untuk menonton film ini.

spy

Detail:
Judul : Spy in Love: Penang Wedding
Sutradara: Danial Rifki
Pemeran : Hamish Daud, Ray Sahetapy, Siti Saleha, Shafira Umm, Nasha Aziz, Keith Foo
Rating : 6,5/10

gambar dari 1I2I3

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 12, 2016.

2 Tanggapan to “Kisah Spionase yang Serba Tanggung”

  1. wah.. lengkap sekali ulasannya. sayangnya saya tiap kali nonton film indonesia pasti kecewa. bahkan, AADC 2 pun saya juga kurang puas. kok lebih enak kalau film indonesia nontonnya dari tv rumah saja. hehehe

    • Ada beberapa film Indonesia yang lumayan bagus tahun ini seperti Athirah. Kalau filmnya bagus pasti saya juga kasih nilai bagus. Di film ini yang menonjol hanya Ray Sahetapy dan sebenarnya bisa bagus kalau skenarionya digarap baik. Salam mba Tuaffi:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: