Surabaya dari Jendela Kereta

Tumben berkereta untuk balik ke Jakarta? Akhir-akhir ini aku memang semakin jarang berkereta, kelamaan di perjalanan, alasanku. Tapi entah kenapa kemudian kereta kupilih sebagai sarana perjalananku kembali ke Jakarta. Selama perjalananku berkereta aku pun melihat Surabaya dalam selintas.

Surabaya kota yang memiliki makna bagiku. Selama enam tahun aku tinggal, bersekolah dan bekerja di sana.

Surabaya kota yang kontras dengan kota asalku. Hawanya begitu panas gerah, berlainan dengan Malang yang masa itu masih sejuk. Sebagian penghuninya memiliki nada bicara tinggi dan terdengar agak kasar. Tapi nyatanya aku betah tinggal di kota tersebut dan merasa berat saat kemudian berpindah ke Jakarta.

Lewat jendela dalam kereta aku melihat gambaran kota yang pernah melekat dalam benakku. Gambar itu seperti ingatanku, selintas sekelebat membuatku mengingat-ingat apa yang pernah kulalui di sudut-sudut kota Surabaya tersebut.

Dari Malang kereta api Bima berangkat kemudian menuju Surabaya dan berhenti cukup lama di Stasiun Gubeng. Di stasiun ini ada banyak cerita. Aku tersenyum simpul mengingat pernah menumpang mandi di stasiun ini sebelum melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi dan Bali.

Gambar kemudian beralih ke pintu air Jagir dan Stasiun Wonokromo. Ah aku jadi ingat pernah meliput festival warga di kawasan Wonokromo, ada perajin gitar juga di kampung tersebut. Gambar berganti lagi dengan kemacetan di berbagai titik. Wah Surabaya hampir mirip dengan situasi di Jakarta kini. Sudah mulai macet lumayan parah.

Ah naik kereta memang tidak praktis. Tiga jam berkendara dari Malang masih di sekitaran Mojokerto. Coba kalau aku naik Citilink atau Batik Air tadi, jam segini aku sudah bisa ngobrol dengan Nero, menanyakan kabarnya.

Tapi ada tetapinya. Aku tidak menyesal naik kereta kali ini. Aku ingin melakukan perjalanan panjang seorang diri. Saat-saat seperti ini biasanya aku berkontemplasi. Aku siap menerima pandangan baru atau gugatan dari diriku sendiri tentangku.

Bonusnya, aku mendapat pemandangan sawah yang membuat mataku segar. Ada sungai besar yang membuatku berdesir, alangkah asyiknya seandainya aku bermain air di sana. Harga naik kereta ini juga separuh lebih murah daripada naik pesawat karena aku membelinya saat KAI Fair.

Ingatanku pada kota Surabaya semakin pudar. Kesanku pada kota pahlawan ini semakin terkikis seperti kelebatan gambar yang begitu cepat bergerak.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 8, 2017.

5 Tanggapan to “Surabaya dari Jendela Kereta”

  1. Pengen sekali-sekali naik kereta api . . . 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: