Soul Asylum Band 90-an yang Tetap Eksis

They say misery loves company
We could start a company and make misery

Kali pertama mendengar intro lagu Misery milik Soul Asylum di televisi pada dua dekade silam, aku langsung jatuh cinta pada band dan tembang ini. Lagunya tergolong lembut dan tidak terlalu ngerock. Maknanya cukup dalam dan kaya intepretasi.

We could build a factory and make misery
We’ll create the cure; we made the disease

Frustated incorporated

Dave Pirner, pencipta lagu dan si vokalis Soul Asylum, seolah-olah bercerita lewat lantunannya. Ia bercerita dimana kisahnya bisa dimaknai berbeda oleh pendengarnya.

Menurutku Misery merupakan masterpiece dari band asal Minnesota ini. Lagunya indah, liriknya dalam dan musiknya juga masih enak didengar hingga sekarang. Perasaanku waktu mendengar lagu ini tahun 1995 dan  pada masa sekarang rasanya tetap sama. Aku masih menyukainya dan tergerak oleh gaya bernyanyi dan pesan dalam lagu ini.

Dulunya aku mengira lagu ini sekedar rasa frutasi bekerja di sebuah pabrik. Aku hanya menebaknya dari video klipnya yang memperlihat pekerja pabrik. Apakah mereka tidak jenuh dan frustasi melakukan hal yang sama setiap menit setiap harinya setiap tahunnya? Entahlah, bisa ya bisa juga ada yang menyukai rutinitas.

Kemudian aku membaca jika lagu ini bisa jadi menyuarakan rada frustasi musisi dalam industri musik. Terkadang mereka bertahun-tahun berupaya masuk ke dapur rekaman label terkenal tapi terus-menerus gagal, atau konsep lagunya dipaksakan mengikuti selera pasar. Soul Asylum sendiri dibentuk sejak tahun 1981 dan namanya baru terangkat sejak tembangnya, Runaway Train (1993) berhasil meraih grammy award sebagai best rock single. Ia memerlukan satu dekade agar dapat dilirik label besar Columbia Records.

Ada juga yang menyebut makna lagu ini adalah kapitalisme dunia hiburan dan media. Mereka menyukai tragedi, kisah-kisah sedih para selebriti, dan menjual kisah-kisah tersebut untuk menaikkan oplah dan ratingnya. Para selebriti kemudian memanfaatkan kisah sedih, tragedinya untuk mendongkrak namanya. Kesedihan, aib, dan tragedi itu kemudian dibicarakan dan menjalar dimana-mana bak sebuah penyakit.

Terkait dengan makna kapitalisme kesengsaraan dalam lagu tersebut hal ini ditengarai dengan adanya tragedi besar sebelum lagu ini rilis yaitu kematian vokalis Nirvana, Kurt Cobain. Konon Soul Asylum memiliki potensi besar daripada Nirvana tapi momen kehadiran mereka kurang pas dimana era grunge sangat kental pada masa itu.

Berita kematian Kurt Cobain muncul dimana-mana, albumnya makin laris dan istrinya, Courney Love menjadi sorotan. Tapi benarkah “all you suicide kings and you drama queens” yang dimaksud dalam lirik Soul Asylum adalah Kurt Cobain dan istrinya? Entahlah.

Lagu Misery sangat berkesan bagiku. Tembang tersebut mengenalkanku pada sosok band satu ini. Dengar kali pertama lagu ini aku langsung suka hingga sekarang. Apalagi vokalisnya, Dave Pirner, waktu itu menurutku keren banget, dengan rambut panjang dan kaus putihnya.

Meskipun tembang Misery jauh lebih populer, tembang yang masuk dalam album Let Your Dim, ini kurang sukses penjualannya jika dibandingkan album sebelumnya, Grave Dancers Union. Misery hanya mampu meraih posisi 20 di tangga nada Billboard untuk kategori modern rock tracks.

Ya, bukan Misery  yang berhasil membesarkan nama Soul Asylum melainkan Runaway Train. Lagu ini memiliki nuansa sedih, berkisah tentang anak-anak yang hilang dan tak pernah kembali. Lagunya cenderung ke genre rock balada dengan sentuhan musik country sehingga bisa dinikmati kalangan luas.

Album Grave Dancers Union menjadi album terlaris Soul Asylum. Selain Runaway Train, ada beberapa tembang lainnya yang beken, yakni Without a Trace, Black Gold, dan Somebody to Shove.

Berbeda dengan Runaway Train, nuansa tembang rock tahun 80-an begitu terasa pada lagu Black Gold. Lagunya termasuk lembut di telingaku. Yang membuat lagu ini menarik ini adalah lirik dan gaya bernyanyi Dave Pirner. Iringan gitar Dan Murphy awalnya biasa saja, tapi kemudian mulai menarik di bagian bridge. Sedangkan pada tembang Somebody to Shove, yang kuingat adalah gebukan drumnya yang mantap.

Setelah Misery, Soul Asylum kembali merilis single pada tahun 1998 yakni I Will Still Be Laughing. Dibandingkan Misery, lagunya biasa saja. Setelah album Candy from a Stranger tersebut mereka pun kemudian vakum cukup lama. Dan Murphy si gitaris mulai mengalami masalah pada kesehatannya. Setahun kemudian ia meninggal karena kanker.

Mereka kembali eksis pada tahun 2006 dengan merilis album The Silver Lining. Single andalan mereka adalah Stand Up and Be Strong. Warna musiknya tetap tak banyak berubah. Sedangkan tembang Cartoon bernuansa ceria.

Enam tahun kemudian mereka kembali merilis album Delayed Reaction. Single andalan berjudul Gravity (2012) memiliki nuansa pop rock tahun 90-an.

Kemudian pada album yang diluncurkan tahun 2016, Change of Fortune, ada dua tembang yang diperkenalkan, Doomsday dan Supersonic. Doomsday asyik didengar, vokal Dave masih prima, dengan iringan gitar yang lebih rancak. Sedangkan Supersonic lebih dinamis sehingga nuansanya lebih modern dan segar.

Soul Asylum telah 36 tahun berkiprah di dunia musik. Mereka mengalami pergantian beberapa kali personel, kemudian kehilangan sosok Dan Murphy yang banyak memberikan warna pada Soul Asylum. Meski demikian band ini tetap eksis, tidak takut bersaing dengan band rock generasi masa kini.

Hingga saat ini Soul Asylum sudah merilis sebelas album. Lagu-lagunya sebagian besar menyuarakan kondisi dan kritik sosial. Warna musik Soul Asylum saat ini tak banyak berubah dan vokal Dave Pirner tak jauh berbeda meski sudah berusia 53 tahun. Saat ini personel asli Soul Asylum tinggal Dave Pirner, lainnya adalah personel baru yaitu Winston Roye (basis), Ryan Smith (gitaris), dan Michael Bland (drummer).

Band puluhan tahun saja masih eksis karena mereka mencintai pekerjaannya. Kalian juga jangan mau kalah, rawat hobi dan minat Kalian dan terus berkarya:)

Gambar dari youtube dan alchetron

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada November 26, 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: