Ketika Petani Bawang Merah Brebes Bersedih

Menjadi petani itu menyenangkan sekaligus melelahkan. Ketika musim panen rasanya begitu senang, segala jerih payah terasa terbayar. Namun, rasa syukur itu kemudian terbentur ketika realita tidak sesuai harapan. Harga di tingkat petani malah jatuh bebas, sementara harga di tingkat konsumen berbagai daerah masih tinggi. Tak heran jika mendekati pergantian tahun petani bawang merah Brebes malah bermuram durja.

Ketika aku melewati daerah ini saat hari keberangkatan aku tidak ngeh dengan kondisi Brebes. Ooh daerah ini sedang panen bawang merah, pikirku, melihat banyak kios dadakan sederhana dan rumah pinggir jalan yang menjajakan bawang merah.

Setahuku dulu tidak ada pemandangan demikian atau mungkin karena sudah gelap waktu itu sehingga tidak tahu ada pedagang bawang merah di kanan kiri. Iseng-iseng aku berkata ke pasangan jika baliknya aku ingin membeli bawang merah sebagai oleh-oleh.

Brebes rupanya daerah yang terkenal sebagai penghasil bawang merah, selain telur asin. Baru pada saat musim panen ini aku melihat di sepanjang jalan menuju Bumiayu ada bawang merah.

Bawang merah itu menurutku bumbu masak yang penting seperti halnya bawang putih. Banyak masakan yang memerlukan bawang merah. Aku biasanya membuat sambal atau memasak balado juga menggunakan banyak bawang merah. Membuat telur dadar juga biasanya kutambahkan bawang merah dan daun bawang. Hemmm kumantapkan deh untuk membeli bawang merah untuk stok di rumah.

Ketika pulang pada malam pergantian tahun baru, kami juga melewati daerah ini. Aku melihat harga bawang merah di Jakarta dulu sebagai pedoman. Ooh di Jakarta sekilonya Rp 26-27 ribu, itu pun di pasar induk Kramat Jati. Mungkin di pasar lainnya dan tingkat pedagang sayur sekitar Rp 30 ribu.

Aku terkejut ketika mengetahui beberapa hari sebelumnya petani bawang merah mengadakan demo. Pasalnya, harga bawang merah tingkat petani terjun bebas. Jika pada kondisi normal Rp 12-15 ribu, belakangan ini menjadi hingga Rp 6 ribu, bahkan pernah di titik Rp 4 ribu. Astaga!!!

Aku pernah bertanam bawang merah di pot. Sebenarnya bertanamnya tidak sulit tapi gangguannya beragam, terutama dari siput. Dulu aku pernah panen, tapi juga pernah gagal. Aku paham bagaimana susahnya menghasilkan satu kilogram bawang merah. Kalau hanya dihargai Rp 4-6 ribu menurutku kejam.

Sayangnya pimpinan daerah setempat tidak mau atau mungkin tidak sempat bertemu pendemo. Kasihan. Aku nelangsa membaca berita jika pimpinan daerah menyarankan PNS-nya membeli bawang merah seharga Rp 6 ribu sebanyak minimal dua kilogram. Duh kenapa tidak dilakukan operasi atau meminta membayarnya dengan harga petani yang wajar gitu, Rp 12 ribu atau Rp 15 ribu? Kalau membeli dengan harga Rp 6 ribu apa tidak sama saja dengan membebani petani daerahnya dan tidak menyelesaikan masalah.

Entahlah. Sebagai anak petani aku merasa trenyuh dan bisa empati dengan kesedihan yang dirasakan petani bawang merah.

Kami kemudian berhenti di sebuah kios mungil dijaga dua anak kecil. Kutanya berapa harga sekilonya. Ia memberikan harga Rp 17 ribu dan tiga kilo Rp 50 ribu. Aku tidak menawarnya lagi.

Jika petani dirugikan, bagaimana anak cucunya mau meneruskan jadi petani? Ayahku sendiri akhirnya berhenti jadi petani tebu karena merasa tidak sanggup dengan harga gula di tingkat petani yang rendah.

Semoga pada tahun baru ini masalah harga bawang merah di tingkat petani bisa ditemukan komprominya. Jangan sampai mereka rugi atau sekedar impas dimana bisa menurunkan semangat mereka sebagai petani.

Tanpa bawang merah, sambal jadi kurang nikmat:)

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Januari 1, 2018.

10 Tanggapan to “Ketika Petani Bawang Merah Brebes Bersedih”

  1. Isu klasik dunia pertanian dan nggak cuma petani bwg merah.

    • Iya Okti, kasihan ya nasib petani. Padahal sudah lama kondisi seperti itu, kenapa dibiarkan ya

      • Gimana ya caranya biar nggak terulang spt itu? Biasanya sih karena supply berlebihan sehingga harga jadi anjlok. Pernah di Banyuwangi petani memilih buang cabe karena harganya cuma ratusan rupiah per kilo. Mungkin selain ada pengaturan supply, hasil panen bisa diolah jd produk lain agar tidak lekas busuk dan ada nilai tambah.

  2. Mba habis liburan ke Bumiayu?

    Kebetulan saya dari Brebes mba, tepatnya bagian Selatan alias di daerah pegunungannya. Kalo di sini hasil pertaniannya malah kebanyakan sayur. Turut prihatin sih dengan petani Bawang di daerah pantura dengan turunnya harga yang sangat drastis ini. Hanya bisa berharap semoga harganya cepat memulih.

  3. Saknone rek, sekilo sampai 4 ribu 😢😢

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: