Gulai Kambing

Perjalanan seorang diri memupuk rasa percaya diriku dan kemampuanku beradaptasi. Tapi, perjalanan solo juga membuatku gugup dan was-was. Saat makan misalnya, aku berupaya mencari tempat yang tak mencolok, karena enggan ditanyai ini itu. Ya, tempat makan itu sempurna. Ia tidak ramai dan ada tempat di pojokan.

Dulu aku tidak suka makan di luar dan sendirian. Tapi ketika aku merantau dan kadang-kadang makan sendirian, aku merasakan sebuah pengalaman yang memberiku kemampuan baru. Aku jadi suka mengamati. Memerhatikan jalan, isi pengunjung, suasana tempat makan juga staf tempat makan tersebut. Sama halnya ketika melakukan perjalanan sendirian. Beberapa kali hasil pengamatan tersebut membantuku. Apalagi di tempat yang masih asing bagiku. Aku tetap perlu bersiaga tapi berupaya seolah-olah aku memang orang asli daerah tersebut.

Bagian pojok jadi favoritku jika makan sendirian. Apalagi jika di situ ada jendela atau kaca. Aku bisa memerhatikan orang-orang yang masuk, juga kondisi jalanan. Jika terjadi apa-apa aku bisa bereaksi cepat.

Pilihan masakannya tidak banyak. Aku memilih gulai kambing. Aku merasa lapar setelah melakukan perjalanan laut dan perjalanan darat tanpa sarapan. Hampir tengah hari dan saat itu aku hendak mengikuti konferensi.

Petugas tempat makan itu cuek. Aku malah senang. Aku sedang tidak ingin ditanyai ini itu juga bertanya ini itu. Masih banyak orang yang heran jika seorang perempuan bepergian sendirian. Aku tidak ingin membangkitkan rasa penasaran itu.

Gulai kambing ini memiliki isian yang banyak. Sebagian besar jerohan. Aku tak masalah. Aku sedang lapar.

Aku mengunyah perlahan. Beberapa potongan masih belum begitu lunak. Kuahnya tidak terlalu medhok. Termasuk ringan dibandingkan gulai pada umumnya. Aku lapar, aku tidak masalah.

Satu mangkok gulai kambing itu hampir ludes. Aku mengecek jam. Sebentar lagi waktuku presentasi. Aku merasa gugup. Aku mengingat-ingat bahasanku.

Aku menghela nafas. Lokasi kampus itu sudah tak jauh. Aku pasti bisa melakukan presentasi itu. Daripada pusing dan terus merasa gugup, lebih baik kuhabiskan dua sendok makan gulai kambing itu. Semangkok gulai kambing kosong dari yang awalnya penuh. Aku tersenyum.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 22, 2018.

2 Tanggapan to “Gulai Kambing”

  1. Fokus persentase mbak. Jangan gulainya 😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: