Mencerna

Aku sulit mencerna kata-katanya. Mungkin karena pemikirannya tak membuat panca inderaku berselera mendengarkannya. Atau mungkin aku sedang kekenyangan kata-kata dan pemikiran selama seharian.

Sama halnya alat pencernaan untuk makanan, otakku juga sibuk mencerna realita dan pemikiran yang ada di sekelilingku. Ada sebagian dari mereka yang ingin dijejalkan kepadaku. Biarlah yang penting masuk, tak penting bagaimana caramu mencernanya. Begitu kata mereka.

Sayangnya otakku tak terima diperlakukan seperti itu. Suatu saat ia mogok mencerna karena kesal. Ia kemudian mengeluarkan pemikiran dan dogma yang dipaksakan masuk ke benak tanpa melalui proses pencernaan yang benar.

Sebagian dari bahan yang dimasukkan ke otakku juga dari bahan yang tak bermutu sehingga malah membuat kerja otakku bermasalah. Padahal pemikiran dan dogma dari bahan yang buruk dan yang tak tercerna sempurna itu berbahaya karena bisa menyebar hingga ke alam bawah sadarku dan bisa mengontrolku tanpa kusadari.

Ia yang ada di depanku seperti sebuah acara teve yang suaranya sengaja kumatikan. Kata-katanya tak menarik perhatianku. Kata-kata berbusa yang disampaikan saat ini benar-benar tak ingin kucerna. Aku malah lebih tertarik untuk mencerna dari yang tak disampaikan secara formal. Ada sesuatu hal yang kucerna dari suasana dan gerak-gerik mereka yang ada di sekeliingku saat ini. Aku mencoba mencernanya. Rasanya tidak enak. Pahit. Aku ingin mengeluarkannya. Tapi sayangnya rasa pahit itu adalah sebuah kebenaran.

Dalam perjalanan entah kenapa benakku ini lagi-lagi merasa lapar. Ia mencerna pemandangan yang kutemui selama perjalanan. Mungkin makanan ini sudah terlalu jamak ditemuinya sehingga ia hanya mencernanya sececap dan tak tertarik melanjutkannya. Pemandangan yang sama, kenyataan yang tak jauh berbeda setiap harinya membuat pikiranku sebagai alat pencerna merasa begitu bosan.

Malam ini terbangun kembali karena aku ingin mencerna. Namun, bukan mencerna kata-kata, pemikiran, ataupun kondisi yang ada di sekelilingku. Aku ingin mencerna makanan yang sesungguhnya karena proses mencerna yang dilakukan oleh otak membuat perutku terasa lapar.

Gambar dari pexels

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada September 19, 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: