Ada Apa di Software Architecture Conference Jakarta?

Sabtu pagi (27 Oktober) aku ingin melanjutkan tidur. Tapi tentunya hari ini aku tak bisa bermalasan, ada acara penting untuk menambah ilmu di bidang informatika. Ya, aku dapat tugas untuk menimba ilmu di Software Architecture Conference 2018 yang diadakan di Kota Kasablanca. Judul seminarnya seram ya, tapi ada apa saja sih di sana?

Pukul sembilan pagi ruangan konferensi sudah ramai. Rasanya semua kursi terisi. Menariknya dari para peserta, 90 persen di antaranya adalah pria. Peserta perempuannya masih mudah untuk dihitung.

Sebenarnya aku agak merasa salah kamar masuk dalam daftar peserta konferensi ini. Aku sendiri saat ini bekerja di konsultan TI yang lebih berfokus dengan pembuatan IT blueprint, IT road map, IT policy, dan IT audit. Memang sih aku juga perlu tahu tentang perkembangan metodologi pengembangan TI dan teknologi TI karena cakupan pekerjaan konsultan TI semakin luas. Tapi urusan teknis koding sudah lama aku tidak campur tangan, lebih ke proses bisnis, analisis, hingga mock up. Wah ketika melihat beberapa materinya yang teknis banget aku tersenyum. Waduh sudah lama aku tidak melakukan koding dan sekarang ilmunya berkembang sangat dinamis.

Acara dibuka oleh Kusmayanto Kadiman, mantan menteri Riset dan Teknologi. Menurutnya teknologi informasi seperti komputer sudah tak bisa dipisahkan dari kehidupan. Smartphone saja sebenarnya merupakan komputer yang bisa digunakan untuk telepon.

Ia berharap industri TI di Indonesia meningkat. Sama halnya seperti industri lainnya peranan kualitas SDM itu krusial selain tentunya pasar, metode, teknologi, dan uang (modal).

Sementara itu Inggriani Liem dari ITB dan Kepala NBO Bebras Indonesia
berujar bahwa penting bagi negara menguasai teknologi informasi, jangan hanya jadi pengekor dan pemakai saja. Gunakan ilmu itu untuk memecahkan masalah keseharian dan membuat hidup jadi lebih nyaman.

Menurutnya agar negara bisa menghasilkan generasi muda yang kompeten dalam memecahkan masalah maka sejak kecil bisa diajarkan complex problem solving dengan computational thinking. Soal-soalnya adalah masalah keseharian dengan menggunakan teori-teori dalam komputer seperti metode graf, machine learning, dan sebagainya.

Topik berikutnya adalah tentang machine learning dalam koding. Rupanya koding juga bisa menggunakan modul-modul machine learning sehingga proses penyusunan baris program bisa lebih sederhana dan cepat.

Materi selanjutnya adalah tentang metode agile dalam pembuatan perangkat lunak. Salah satunya adalah metode Scrum. Ada banyak hal yang menghambat proses Scrum yakni deadline yang mengekang. “Deadlines were preventing someone to be great“, ujar Joshua Partogi, praktisi dan penulis buku tentang Scrum.

Masih banyak topik lainnya yang menarik. Dapat ilmu yang lumayan banyak pada Sabtu ini. Otakku jadi panas, aku perlu bersantai seharian nih keesokan hari.

 

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 27, 2018.

4 Tanggapan to “Ada Apa di Software Architecture Conference Jakarta?”

  1. Wah, buat yg suka IT mah ini acara pas bnget. Klau diriku, ini mkin bikin otakku mumet.

  2. Jadi ini IT as enabler atau IT as core driver mbak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: