Mendengarkan Cerita Kucingku

Kucing kecil dengan bulu panjang berwarna cokelat kehitaman itu menghambur dari pintu menuju ke arahku. Pipi kanannya kotor. Coreng seperti terkena comberan. Raut mukanya sedih seperti mau menangis. Si Ponoc, mendekatiku minta dielus-elus. Ia kemudian berkeluh kesah.

Aku memberinya nama Ponoc seperti nama studio animasi di Jepang. Ponoc berarti tengah malam dalam bahasa Kroasia. Kucing itu tetap lincah meskipun sudah malam. Ia nakal seperti Nero waktu masih belia. Mungkin karena lincah dan nakal itu aku menaruh perhatian lebih daripada dua saudaranya.

Saudaranya baru saja meninggal. Ia ikut hadir di prosesi pemakaman saudaranya. Ia tidak nakal, hanya duduk memerhatikan aku mencangkul hingga memasukkan jenasah kucing tersebut. Hari itu ia tidak begitu nakal.

Aku tak tahu bahasa kucing. Aku hanya mendengarkan keluhannya dan menentramkannya dengan mengelus-elus tubuhnya.

Ponoc biasanya suka menghindar jika kusentuh. Tapi kali ini ia memintaku terus mengelusnya hingga rasa resah dan sedihnya hilang. Ia kemudian meringkuk di dekatku hingga raut wajahnya yang sedih perlahan memudar.

Kucingku masih ada lima dengan Nero tetap sebagai kucing utama. Kini posisi Ponoc menggantikan si Mungil, sebagai kucing kedua. Masih ada tiga kucing lainnya, si Kecil, Si Induk alias Nduk, dan si Snow White.

Si Ponoc nampaknya sudah tak lagi resah. Ia kemudian mulai melompat-lompat menyambut Snow White. Keduanya asyik makan kemudian bermain riang.

~ oleh dewipuspasari pada Januari 17, 2019.

Tinggalkan komentar