Adegan Penutup “John Wick 3” yang Antiklimaks

Wah aku baru ngeh ada begitu banyak film yang belum kubuat ulasannya. Salah satunya adalah “John Wick Chapter 3”. Film ini diputar 17 Mei lalu dan aku baru menulis kulitnya saja. Oleh karena filmnya sudah tidak diputar lagi dan aku yakin sudah banyak yang menontonnya maka ulasan ini akan ada banyak spoiler. Jadi hati-hatilah. Berbaliklah dan berhenti membaca sebelum terkena spoiler.

Dalam film ketiganya ini, alur cerita melanjutkan kisah pada akhir film chapter keduanya. John (Keanu Reeves) bersama anjingnya harus berlarian mencari tempat bersembunyi. John tahu kesempatannya tipis untuk selamat apabila ia tetap berada di jalanan. Ia harus menemukan tempat yang aman dan ia lebih menguatirkan nasib anjingnya.

Maka ia pun menitipkan anjingnya ke hotel Continental yang diterima Charon (Lance Reddick), si resepsionis dengan hangat. Ia lalu meminta bantuan dokter (Randall Duk) untuk menjahit luka-lukanya. Malang nian si dokter. Ia meminta John menembaknya di tempat yang tak fatal agar ia tak ketahuan membantunya.

John Wick lalu mencari sesuatu yang disembunyikannya di perpustakaan. Di sana ia menjumpai si penantang. Saat kembali jumlah penantang semakin banyak dan ia mulai kewalahan. Maka ia pun meminta bantuan dan sekutu. Sekutu di Casablanca adalah salah satu kawan lamanya. Sofia yang diperankan Halle Berry. Ia tahu pilihan membantu John menuju tempat The High Table akan membawanya ke masalah, tapi ia tetap membantunya untuk membayar hutang. Di sebuah gurun, John terus melangkah untuk menemukan The Elder yang bisa melepas hukumannya. Tapi tawaran yang disampaikannya membuat John dilematis.

Paruh Awal Koreografi Mantap, Paruh Kedua Kedodoran
Antusiasme penonton akan film ini begitu tinggi. Sejak awak tahun 2019 ada banyak spekulasi akan jalan ceritanya. Banyak yang mengira film ini adalah film terakhir, termasuk aku. Ketika akhirnya ceritanya masih berlanjut maka yang terjadi adalah sebagian kecewa termasuk aku, dan lainnya tak masalah.

Awal-awal cerita, ceritanya mengalir dan enak untuk dinikmati. Ada beberapa hal yang baru, tentang nama kecil John Wick yang bukan Jonathan melainkan Jardani Jovonovich. Hubungannya dengan sebuah jaringan berkedok acara seni, Ruska Roma society, dan kemampuan John menggunakan berbagai senjata.

Apabila sebelumnya John dikenal mahir menggunakan senjata berpeluru pada film pertamanya. Lalu menggunakan benda seperti pensil sebagai senjata pada sekuelnya. Maka pada chapter tiga ini ia menggunakan senjata apa saja, baik berupa buku, pisau, kapak, sabuk. Ia juga mampu bertarung dengan berkuda dan menggunakan kendaraan bermotor.

Adegan saat ia dikeroyok dengan triad menggunakan pisau, golok dan kapak menurutku salah satu adegan yang berkesan. Koreografi pertarungannya rapi dan nampak presisi.

Kehadiran Halle Berry sebagai Sofia, kawan lama John, memberikan warna. Biasanya John bertarung sendirian, meski di film awal ia sempat dibantu Marcus. Apalagi Sofia juga memiliki kawan-kawan berupa anjing-anjing yang ganas. Ia jadi sekutu yang serasi.

Direktur (Anjelica Huston) pimpinan Ruska Roma Society sebagai pelindung John, bak ibu John Wick. Ia seolah-olah ibu yang marah tapi tetap bersedia membantu anaknya yang sedang kesulitan.

Kehadiran orang-orang yang pernah membantu John seperti dokter, Charon dan manajer Hotel Continental, serta Raja Pengemis (laurence Fishburne) dan anak buahnya tentunya hal yang menarik. Unsur-unsur ini tetap dipertahankan sehingga menguatkan jaringan bawah tanah yang ada di sekeliling John. Charon, yang biasanya menjadi penerima tamu rupanya tak hanya sopan, ia juga pandai bertarung dengan senjata.

Sayangnya dari pihak musuh dan alur cerita pada paruh kedua mulai terasa kedodoran. Ceritanya jadi terasa agak janggal sejak John kembali ke New York. Ia diminta menghabisi Winston (Ian McShane). Tapi ia kemudian berbalik melindunginya. Di sana ia menghadapi berbagai musuh dengan dibantu Charon dan petugas keamanan hotel. Tapi tak banyak yang tersisa.

Musuh terakhir John adalah tiga pembunuh bayaran dipimpin Zero yang diperankan Mark Dacascos dibantu dua asistennya yang diperankan oleh pesilat asal Indonesia, Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman. Aku antusias menunggu pertarungan mereka. Tapi kemudian kecewa.

Pasalnya perkelahian mereka seolah-olah main-main. Tidak beneran. Seperti sedang berlatih. Aku tak tahu bagaimana pendapat penonton lainnya. Tapi menurutku ceritanya jadi kedodoran dan antiklimaks. Yang biasanya menuju akhir adalah adegan klimaks di sini jadi sebaliknya.

Memang ada lumayan panjang porsi adegan pertarungan antara dua aktor Indonesia dan John Wick. Di situ juga digunakan bahasa Indonesia. Tapi aku bukannya begitu senang malah menganggap adegan itu mengurangi nilai cerita. Coba kalau Yayan dan Cecep bertarung dengan ganas seperti pada adegan-adegan di awal tentu akan lebih bagus dan ceritanya tetap ‘panas’ hingga akhir cerita.

Penutup kisah ini memang lumayan mengejutkan. Tapi jadi terkesan dipanjang-panjangkan. Aku tidak begitu terkesan. Yang kusukai dari film ini selain adegan pertarungan dengan pisau yaitu kelompok wanita yang menangani

Film ini paling kutunggu-tunggu pada tahun 2019. Awal film aku merasa antusias, akhir film aku jadi gemas.

Detail Film:
Judul: John Wick Chapter 3
Sutradara: Chad Stahelski
Pemain: Keanu Reeves, Halle Berry, Laurence Fishburne, Mark Dacascos, Asia Kate Dillon, Lance Reddick, Anjelica Huston, dan Ian McShane
Genre : laga
Gambar: IMDb

~ oleh dewipuspasari pada Juli 26, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: