Tung-tung, Kucing yang Terbuang

Dulu kami punya kucing betina bernama Tung-tung. Kami dulu sangat jarang memelihara kucing betina, mungkin Tung-tung satu-satunya. Entahlah, aku lupa. Tung-tung menjadi salah satu kucing yang kami ingat dan berkesan.

Aku tak ingat bagaimana Tung-tung hadir di antara kami. Sepertinya nenekku berharap Tung-tung itu kucing jantan. Ia belang telon dan bila ia kucing jantan maka jenis yang langka.

Konon kucing jantan belang telon itu anomali. Ia kucing cacat dan biasanya dibunuh oleh induk atau kucing lainnya. Kami pernah memilikinya. Dan aku sangat sedih ketika kucing bernama Dandong membunuh kucing itu. Aku tak bisa marah kepada Dandong karena itu nalurinya. Tapi aku sangat kasihan kepada anak kucing itu.

Kembali ke Tung-tung. Ia kucing betina dan nenekku agak kecewa ketika mengetahui jenis kelaminya. Tapi kemudian ia pun dipeliharanya. Saat itu seingatku hanya ada Imut yang dipelihara nenek. Sedangkan aku diam-diam memelihara Dandong, seekor anggora kampung yang dibuang tetanggaku. Ia jadi akrab denganku dan menjadi sahabatku.

Meskipun kucing betina si Tung-tung ini super lincah. Ia suka sekali berlarian ke sana-ke sini. Menggila dengan mengejar kaki setiap orang. Ia juga mengejar kelinciku, membuatnya was-was.

Ia suka sekali membangunkanku tidur. Biasanya ia menyusu selimut dan keempat kakinya seolah-olah memijat-mijat. Aku tak paham dengan kebiasannya ini.

Oh iya Tung-tung ini anggora kampung. Bulunya lumayan panjang dan halus. Ketika dewasa tubuhnya tetap berukuran sedang, termasuk pendek untuk ukuran kucing.

Ketika masa produktifnya si Tung-tung melahirkan banyak anak kucing. Sekali melahirkan bisa dua hingga empat. Anaknya lucu-lucu dan bagus-bagus. Sama dengan dirinya,kebanyakan mereka anggora kampung. Dulu pernah kami kebanjiran kucing hingga mencapai 13 kucing. Duh pusingnya. Nenekku sampai meminta bantuanku untuk memeliharanya. Tapi sebagian kucing itu tak selamat. Ada yang sakit, ada yang tertabrak, dan lainnya. Seingatku tinggal beberapa yang hidup. Salah satunya kucing lucu bernama Bon-bon. Ia mirip dengan Dandong dari bulu dan gayanya, juga suaranya yang sember.

Kemudian si Tung-tung beranak lagi. Nenekku lelah dan marah. Ia pun membuang kucing itu. Kemudian nenekku menyesal. Ia merasa sedih. Untunglah sebulan kemudian si Tung-tung kembali. Nenekku pun lega.

Tapi kemudian entah kenapa nenekku mengusir Tung-tung lagi. Kucing itu dibuangnya. Kali ini lebih jauh. Ia meminta bantuan pamanku untuk membuangnya.

Tapi kali ini Tung-tung tak kembali. Nenekku pun menangis sedih. Sebelum meninggal, nenek berkata ia pernah melihat kucing mirip Tung-tung. Kini aku melihat si Mungil memiliki kelakuan dan tingkah mirip si Tung-tung. Apakah ia bereinkarnasi?

~ oleh dewipuspasari pada Maret 22, 2020.

4 Tanggapan to “Tung-tung, Kucing yang Terbuang”

  1. mungkin bereinkarnasi, atau mungkin rupa kucing banyak yg mirip, selangka-langkanya mereka. kucing saya olive totol-totol bulu di badannya sama persis dengan kucing tetangga. sejak mereka bertemu, kerjaannya berantem dan kejar-kejaran mulu.. hahaha

    • Hehehe iya sih mungkin sekedar mirip. Kayak si Nero itu dari segi perangai dan suara sembernya bikin aku ingat Dandong meski dari segi penampilan sangat berbeda.

  2. Jai teringat beberapa tahun lalu saya dengan budhe juga pernah nemu kucing 2 ekor, belang telon juga. Saya beri nama upin sama ipin. Yang ipin mati tetapi yang upin hidup sampai usia 10 tahun.
    Syukurnya walau upin kucing betina beranaknya cuma setahun sekali.
    Mungkin dia tahu kalau erus beranak bakal di buang sama budhe, ha ha ha

Tinggalkan Balasan ke Dunia Arsy Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: