Boyongan

Aku lengah. Sepertinya aku tertidur dan pintuku tak terkunci rapat. Ketika aku mulai terninabobokan oleh hujan yang deras, sepertinya aku melihatnya. Induk kucing itu menerobos dan memindahkan anak-anak kucingnya ke laci lemari kamar.

Tinggal anak kucing terakhir, si hitam. Dengan santai si Mungil menggigit tengkuk anaknya, membawanya masuk ke laci melalui celah di bawah.

Aku mengumpulkan sembilan nyawaku. Suara anak kucing yang manis dan khas membahana di kamarku. Aku membuka sebuah laci isinya adalah lima ekor kucing lucu. Si Mungil tak nampak, ia sepertinya lelah berpindah dan tertidur.

Diam-diam kupindahkan kelima anaknya ke posisi semula. Ketika si induk memasuki kamar dan masuk ke laci ia nampak kebingungan. Ia frustasi. Usahanya gagal.

Ketika kemarin aku lagi bekerja, diam-diam ia kembali menyelinap. Sudah dua ekor anak kucing. Aku menghentikan usahanya. Kutaruh dua anak kucing lucu di hadapannya. Oh si Mungil alangkah marahnya. Sebelum ia mengamuk, aku bergegas ke kamar.

Malam harinya aku bingung kemana anak-anak kucing itu. Kelimanya tak nampak. Aku pun menyelidikinya.

Rupanya si Mungil dan kelima anaknya sembunyi di kamar sebelah. Aku kalah selangkah. Mereka nampak tentram di sana. Di sebuah celah di pojokan hidup si Mungil dan kelima anaknya. Aku jadi segan mengganggunya.

~ oleh dewipuspasari pada Mei 19, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: