Nasi Kucing Ketiga, Keempat

Anak kucing

Santapan ketiga yang kusajikan buat mereka, Nero, Coki, dan pasukan Koko Beluk. Mereka menatapku mencampur ikan tongkol goreng dengan nasi hangat dengan wajah yang penuh harap. Wajah memelas dan tatapan lapar.

Nero bulan lalu luka parah. Ia mendapat luka terbuka. Kepalanya juga sakit dan ia sulit berjalan. Ketika puasa Ramadan aku membawanya ke klinik, tapi mereka tak bisa berbuat banyak karena Nero mengamuk dan mengancam. Nero kucingku paling liar. Bahkan aku sendiri tak bisa benar-benar menjinakkannya.

Ini makanan ketiga hari ini. Plus tiga kali camilan tongkol dan makanan kaleng tanpa nasi.

Seharusnya mereka sudah cukup kenyang. Ataukah aku salah?

Ada masa di mana aku bebas kucing. Masa kuliah. Aku hanya bertemu dengan mereka di rumah. Si Imut dan Dandong. Si Nero merefleksikanku pada Dandong. Ia kucing anggora kampung berwarna putih kelabu dengan ekor bundel. Ia hanya patuh kepadaku dan tak jinak ke siapapun.

Aku sulit berpisah dengannya. Ia sepertinya demikian. Ketika aku mulai berkuliah di kota tetangga, ia mulai berubah. Aku sedih sekali mendengar kabar kematiannya. Baru setahun setengah aku tak bersamanya.

Nero mengingatkanku pada kucing itu. Suaranya yang sember, juga tindak tanduknya yang seperti itu.

Nero mulai membaik. Sejak sebulan lalu ia lebih sering berada di rumah. Ia memang masih keluyuran pagi, siang, dan malam. Dan aku tak bisa mencegahnya. Setidaknya lukanya mulai menutup dan badannya mulai menggemuk, tak sekurus sebulan silam.

Ini piring ketiga. Nasinya penuh dan kulumat dengan ikan tongkol hingga setiap bagian nasi mendapatkan kawan serpihan tongkol.

Nero konservatif, ia kucing desa. Ia lebih suka makanan khas kucing kampung, nasi dan ikan. Berbeda dengan Kidut ia kucing kota. Ia lebih suka makanan basah kalengan.

Tapi Kidut juga tak bisa menolak tongkol goreng dan nasi hangat. Ia juga menyukainya. Tatapannya kini masih sama, tatapan lapar memelas. Padahal sudah piring ketiga.

Mereka tak tahu bujetku bengkak. Mereka tak tahu aku tak menyentuh tongkolnya, padahal aku juga ingin menyantapnya.
Mereka tak tahu aku mulai kelimpungan mengasuh enam kucing yang selalu lapar.

~ oleh dewipuspasari pada Juli 8, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: