Menghidupi Lima Blog

Aku ingin membaca
Kak, bisakah nulis tiap hari di aplikasi ini? Oh tidak. Aku mengarang-ngarang alasan, bertanya tentang benefit ini itu agar mudah menolaknya. Aslinya aku kewalahan. Tapi sebenarnya tidak mudah untuk menolak sebuah tawaran.

Akhirnya aku menyanggupi menulis rutin tiap hari di sebuah aplikasi. Aku terkejut dengan capaian target tampilan dan pengikut yang diharapkan. Telanjur sudah mengiyakan. Ya sudahlah aku tetap menulis meski aku yakin tak mencapai target.

Entah karena aku sudah pesimis sejak awal atau karena targetnya yang tinggi, aku gagal memenuhi ekspektasi. Aku tak bisa menulis sesuatu tema yang banyak diperbincangkan seperti gosip artis, hal-hal yang viral, kecuali aku sendiri yang memang sedang ingin menuliskannya. Ya kecuali ketika aku masih bekerja sebagai kuli tinta.

Ketika kini aku menjadi blogger, aku mengikuti mood. Ingin nulis film ya nulis film, ingin nulis opini ya nulislah tentang gagasanku. Sedang ingin nulis ngalor ngidul seperti ini ya hasilnya seperti ini. Bisa juga sih menulis berdasar pesanan tapi ya itu kuanggap pekerjaan. Jadinya tentunya perlu benefit yang sesuai.

Kok masih bikin majalah film padahal nggak dibayar? Wah kalau itu susah dijawab. Kayaknya karena terpaksa dan memang suka. Dua-duanya.

Aku juga ingin nonton film
Ketika aku gagal memenuhi target dan diberikan kesempatan lagi, aku menggelengkan kepala. Nggak sumbut dengan usahanya. Menulis itu juga perlu energi dan mikir. Aku jarang menulis hal yang sama. Aku tak suka parafrase atau melakukan mirroring tulisan walaupun pernah juga sih.

Omong-omong tentang copas tulisan dari satu platform ke blog lainnya ada yang kusesalkan tak kulakukan semuanya. Dulu aku suka menulis di Adira FOI dan Garuda Miles tentang travel juga Openrice tentang kuliner. Tulisannya itu kubuat dengan sungguh-sungguh, foto-fotonya juga banyak. Eh kemudian situs mereka sudah lenyap. Tulisanku sudah nggak ada lagi.

Aku merasa sesak nafas dan menyesal. Duh kenapa dulu aku yakin website tersebut bisa selamanya diakses. Artikel travelku di Detik Travel juga banyak yang lenyap. Ah memang paling aman nulis dulu di laptop baru diunggah, lalu simpan back up -nya di cloud.

Hehehe jadi semakin ke sana ke sini. Singkat kata aku tak menulis lagi di platform X. Aku juga baper, banyak komentar pembaca yang bikin kesal. Ini sama seperti yang kualami ketika menulis di platform Y. Komentar pembaca tak disaring. Kedua platform itu kayak jadi sasaran pembaca yang stress dan ingin meluapkan kegemarannya mencaci-maki.

Menulis di blog pribadi lebih nyaman. Tak banyak komentar yang bikin panas. Ada juga sih, terutama di tulisan opini. Yang tak setuju dengan opiniku pun kemudian memberondong dengan komentar yang tak enak. Yang paling parah ketika aku menuliskan opiniku tentang kue artis yang dulu ngetren. Wah seram banget komentarnya.

Ada tiga blog pribadi yang kumiliki saat ini. Blog utama adalah blog ini yang kuisi tiap harinya. Dua blog lainnya tentang buku dan kuliner. Sebenarnya ada satu lagi, ketika aku masih aktif menjual buku-buku bekas. Sekarang sudah nggak lagi.

Aku suka hal konyol
Awalnya aku ingin memutakhirkan ketiga blog pribadi setiap harinya. Akhirnya aku tak sanggup. Ya suka-suka saja deh aku tak ngoyo. Kalau sedang ingin setiap hari ya nulis setiap hari. Kalau sedang malas ya yang penting blog utama dulu.

Selain ketiga blog pribadi, aku juga rajin menulis di Kompasiana dan di blog keroyokan YPTD. Untuk di Kompasiana aku sudah memasuki tahun ke-9 menulis di sana meski sudah bergabung sejak tahun 2010.

Sekitar tiga tahunan ini aku hampir selalu menulis tiap hari di sana. Rata-rata nulis tentang film, musik, kucing-kucing, kuliner, dan apa saja.

Sebenarnya tak jauh berbeda dengan tulisan di blog. Hanya gaya bahasaku relatif lebih formal di sana. Dan biasanya tulisannya panjang-panjang.

Saat ini sudah ada 1.438 tulisan di Kompasiana. Aku ingin mencapai angka 1.500. Setelah itu entah apa yang akan kulakukan.

Di blog keroyokan YPTD sudah ada 150-an tulisan di sana. Awal-awal tentang travel semakin ke sini tak terarah dan lebih banyak tentang puisi kuliner. Subgenre yang kubuat sendiri, memadukan puisi dan kuliner.

Awal-awal gabung YPTD karena ada Pak Thamrin Dahlan. Beliau kukenal sejak di Kompasiana. Seorang yang rendah hati dan tulus. Beliau punya tujuan mulia. Ingin semua punya kesempatan menerbitkan buku.

Kucing dan buku0

Lewat YPTD, aku bisa menerbitkan dua buku solo, satu majalah film, dan dua buku kuliner yang ditulis keroyokan. Aku juga ikut beberapa kali bunga rampai alias buku keroyokan. Sebagai rasa terima kasihku aku menulis di sana. Hampir setiap hari, tapi kemudian sempat vakum ketika kondisi ayah parah dan kemudian aku berkabung.

Aku kembali menulis di sana. Sekitar tiga mingguan atau lebih, aku kembali menulis tiap hari di sana. Aku sedih karena penulisnya makin sedikit, tidak seperti dulu. Jumlah tulisan perhari di bawah 10, bahkan beberapa kali kutemui tak sampai lima artikel.

Website dan usaha menerbitkan buku itu dikelola oleh purnawirawan yang begitu tulus ingin membantu. Aku masih ingat betapa bersemangatnya Beliau dari rumahnya menuju Depok pagi-pagi, lalu menunggu buku selesai untuk dicetak.

Beliau kemudian yang juga mengirimkannya ke penulis dan ke Perpusnas. Semuanya gratis saat itu. Kini ditetapkan seikhlasnya karena memang perlu modal untuk mencetak beberapa buku dan ongkos kirim.

Aku merasa berhutang budi ke Beliau. Oleh karenanya aku berupaya untuk konsisten menulis tiap hari di sana.

Total ada lima blog yang kupelihara saat ini. Juga ada platform ulasan berupa Recome yang harapannya juga ingin kumutakhirkan tiap hari.

Ada kalanya selama berhari-hari aku sanggup mengisi semuanya, keenam-enamnya. Aku menulis enam tulisan, enam artikel yang berbeda-beda. Tapi ada kalanya, eh sering, aku tak sanggup.

Blog

Bahkan ketika benar-benar sedang malas-malasnya, menulis satu pun rasanya berat. Jika disuruh milih, mana yang akan kuisi maka pastinya blog utamaku. Lainnya biarlah libur dulu.

Ada tawaran menulis di dua platform lain. Sebenarnya itu tawaran menarik meski tanpa benefit, hanya aku sudah tak sanggup.

Menulis satu artikel bisa menghabiskan waktu 10 menit hingga enam jam. Sepuluh menit jika artikel pendek dan sedang mood. Itu pun belum termasuk proses mengedit dan mengunggahnya. Enam jam atau lebih jika artikelnya serius dan perlu riset.

Tak sedikit tulisan yang tak selesai dalam sehari, bahkan perlu berhari-hari karena aku perlu data yang cukup. Jangan salah kadang-kadang untuk tulisan film dan musik, aku perlu waktu berhari-hari karena aku perlu menonton atau mendengar hal-hal yang ada kaitannya.

Tulisan tentang animasi China sudah lama ingin kutulis. Hanya kuendapkan dulu sekian lama hingga datanya sudah kurasa cukup.

Begonia
Ya ya ya aku hanya manusia biasa. Tak semua waktuku kugunakan menulis. Aku masih juga menyelesaikan pekerjaanku, mengurus rumah dari memasak, membersihkan rumah hingga memelihara kucing-kucing termasuk urusan membersihkan kandang. Ada kalanya aku kelelahan dan waktu menulis suka-suka hanya tersedia satu jam atau kurang.

Aku suka menulis. Hanya kalau waktuku kuhabiskan menulis, aku tak bisa menikmati hidup. Aku tak bisa membaca buku, menonton film, dan mendengarkan lagu, atau hanya melamun. Bahkan kadang-kadang aku merasa perlu melakukan pekerjaan rumah tangga. Agar rumah bersih dan rapi, juga membebaskan pikiranku dan mendapatkan ide.

Omong-omong dalam sehari kalian bisa menulis berapa artikel?

Gambar dokpri, IMDb, juga film The Runaway Duck dan Negative Space

~ oleh dewipuspasari pada Juli 18, 2021.

6 Tanggapan to “Menghidupi Lima Blog”

  1. Inspiratif!
    Pengen deh kayak Mbak Dewi yang konsisten nulis setiap hari. Apa daya, aku adalah orang yg moody. Dulu pernah konsisten nulis tiap hari, itupun karena kewajiban sebagai kuli tinta. Sekarang nulis karena kewajiban dan mood saja. Huhuhuh

    • Hehehe aku juga moody. Rencana nulis A eh malah nulis X. Suka gitu. Tapi kubebasin aja sih. Yang wajib sekarang nulis dua, syukur-syukur sehari bisa nulis lima. Soalnya lumayan juga waktu dan mikirnya. Semuanya juga gratis hehehe.

  2. Keren banyak blognya

  3. Wah hebat mba,bisa mengatur untuk macam2 banyak blog hehe.

Tinggalkan Balasan ke Deny Oey Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: