Tambah Wawasan Betawi di Museum Betawi

Hari itu cerah tak ada awan
Membuatku bersemangat lebih dari biasanya
Aku tak menyangka ada museum di dalam Setu Babakan
Dan, aku kagum melihat bangunannya yang nampak megah dan mewah
Ini kali pertama aku memasuki bangunan museum Betawi di kompleks Setu Babakan. Tak ada biaya sama sekali, cuma-cuma. Ini menyenangkan.
Bangunannya nampak megah dari luar dengan kaca besar dan hiasan ala art deco. Nuansa Betawi dalam bangunan ini malah kurang terasa.
Dalamnya juga demikian, terasa megah. Ada tiga lantai, namun saat ini hanya dibuka dua lantai dengan tiga bagian cerita. Rupanya museum ini sudah dibuka tahun 2017, namun baru resmi terdaftar sebagai museum pada tahun 2022 dengan koleksi yang makin lengkap.
Bagian pertama menampilkan ikon budaya Betawi. Pengunjung disambut lukisan yang menampilkan tiga mantan gubernur Jakarta dari Sutiyoso, Fauzi Bowo, dan Joko Widodo.
Kemudian pengunjung bisa menyaksikan bagian teras rumah adat Betawi dengan sepasang ondel-ondel. Juga ada koleksi batik Betawi, kerak telor, bir pletok, pakaian sadariah, pakaian batik kerancang, peralatan membatik, lukisan Kali Besar Kota Tua, foto lawas tentang pengrajin golok dan ondel-ondel, dan gigi balang yang merupakan hiasan atau ornamen khas rumah Betawi.
Kami kemudian menuju lantai kedua. Di sini menampilkan benda-benda dan perabotan yang biasa dipakai sehari-hari oleh masyarakat Betawi dulu dan sekarang. Sebagian merupakan koleksi sumbangan.
Ada lemari jati, cermin besar, seperangkat meja kursi, radio kuno, mesin tik lawas, setrika arang, papan penggilasan, peralatan mencari ikan, peralatan berjualan, dan lainnya. Hampir tiap koleksi ada barcode yang ketika di-scan muncul narasinya.
Bagian terakhir adalah pernak-pernik pernikahan dan pesta. Di antaranya ada baju pengantin, alat musik tradisional, roti buaya, seserahan, dan golok raksasa.
Lumayan sih hanya dalam waktu sejaman, wawasanku tentang kultur Betawi bertambah. Hanya sayangnya info koleksinya minim. Rata-rata hanya jenis koleksi tanpa narasi yang lengkap. Kan tidak semua pengunjung mau mengunduh dan menggunakan barcode scanner.
