Perjalanan Panjang Selembar Kain Tenun

Kain tenun nusantara

Ketika menyaksikan koleksi kain tenun di Museum Indonesia TMIi, aku mengagumi corak dan motifnya yang beragam antara satu daerah dan daerah lainnya. Beberapa motif tertentu di sebuah daerah memiliki makna khusus, dari peruntukan penggunaan hingga menunjukkan status sosial dan pemimpin suatu kaum.

Ya, kain nusantara memiliki banyak cerita. Dari tiap motif ada cerita di dalamnya. Begitu juga halnya dengan pemilihan warnanya.

Tentang warna, jaman dulu orang-orang menggunakan zat pewarna alami. Tentunya tak mudah mencari warna merah atau jingga. Pastunya mereka melakukan trial dan error untuk menemukan warna yang pas.

Itu baru soal warna. Selembar kain tenun memiliki rentetan perjalanan panjang. Kain tenun berasal dari benang yang telah dipintal. Si penenun merancang motif kemudian mulai menenun dengan tekun. Satu lembar kain bisa memerlukan waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikannya.

Kain tenun nusantara
Mereka pastinya kaya ide untuk menciptakan motif dalam kain tenun. Jika melihat motif yang cantik dan presisi, aku begitu kagum akan ketelatenan dan kepiawaian mereka dalam menenun. Pastinya tak mudah.

Nah sebelum jadi benang maka serat kapas dipintal. Ada alat pintal sederhana dan alat pintal tradisional. Untuk menghasilkan benang yang panjang dan warna yang indah juga memerlukan waktu yang tidak sedikit. Juka kubaca cerita nenek moyang Laura Ingalls, ia belajar memintal benang saat masih kanak-kanak dengan alat yang sederhana.

Kapas sendiri juga berasal dari tanaman yang juga perlu ditumbuhkan, dirawat, dan dipanen. Wah proses hingga jadi selembar kain tenun sangatlah panjang. Oleh karenanya apresiasi tinggi buat para perajin tenun.

Kain tenun nusantara

~ oleh dewipuspasari pada Januari 9, 2024.

2 Tanggapan to “Perjalanan Panjang Selembar Kain Tenun”

  1. Saya pengen belajar menenun, namun sayang saya seorang pria. Katanya penenun itu buat perempuan

Tinggalkan komentar