Mencicipi Tiga Mode Transportasi Menuju Singapura dan Malaysia
Hari ini aku terkenang dengan sesuatu yang kulakukan minggu lalu. Sesuatu yang sudah lama tidak kulakukan dan membuatku deg-degan ketika melakukannya. Aku kembali melakukan perjalanan solo. Durasinya hanya sebentar sih, sekitar 36 jam saja. Aku melakukan perjalanan solo ke Singapura dan Malaysia dengan menggunakan berbagai mode transportasi, dari laut, darat, dan udara.
Tahun lalu aku merasa sangat senang ketika mendapat tiket nonton sebuah band di Singapura. Ya, sekali seumur hidup menonton band tersebut. Belum tentu ada kesempatan lagi. Saat itu aku sudah membayangkan akan melakukan perjalanan dengan mode transportasi. Hanya rencana awal perjalanan ini akan kulakukan bersama pasangan.
Namun karena ada banyak pikiran yang membuatku terdistraksi, aku kemudian malah ogah-ogahan memikirkan perjalanan ini. Apalagi pasangan belakangan sangat sibuk. Andaikata rencana ini berjalan maka aku akan melakukannya sendirian. Wah sudah sangat lama aku tak bepergian jauh sendirian.
Kendala utama adalah soal paspor. Aku baru memeriksa pasporku dan ternyata sudah kadaluarsa. Astaga. Kucek jadwal imigrasi sudah penuh hingga bulan Februari. Adanya tinggal pilihan layanan percepatan sehari yang kuotanya sangat terbatas dan hanya dilayani di beberapa titik saja. Tarifnya juga lumayan mahal.
Tapi entahlah aku kemudian tertarik mencoba layanan tersebut. Sekalian aku mengunjungi dua museum yang tak jauh dari lokasi tersebut. Aku memilih layanan pengurusan paspor di Mal Semanggi.
Urus Paspor Hanya Sehari Jadi
Aku sudah sangat lama tidak pernah ke sini. Aku terkejut ketika melihat kondisi mal yang sangat sepi, kosong, dan seperti tak terurus. Hanya ada beberapa tenant yang buka, termasuk Cinepolis. Rupanya mal ini sedang renovasi setelah lama begitu sepi pengunjung. Wah padahal dulu ini adalah salah satu mal favorit karena lokasinya di pusat. Aku beberapa kali hang out dan nonton di sini jaman dulu.
Singkat kata, aku tiba pukul delapan kurang dan masih dapat kuota. Jatah kuota tiap hari untuk layanan ini hanya 10 orang. Aku orang yang kedelapan. Wah telat sedikit, aku harus kembali lagi keesokan hari.
Sekitar pukul 08.30 aku sudah mendapat giliran untuk wawancara dan foto. Wah sungguh cepat. Setelah itu aku tinggal menunggu buku paspor yang kiranya jadi sekitar pukul 14.00. Oh iya untuk biayanya karena aku memilih menggunakan paspor elektronik dan layanan percepatan maka totalnya menjadi Rp1, 85 juta. Lumayan sih. Tapi nggak apa-apa daripada harus nunggu kuota reguler pada akhir Februari atau awal Maret. Sekarang batas waktunya untuk perpanjangan berikutnya juga 10 tahun.
Aku kemudian memilih menunggu paspor jadi dengan berkunjung ke Museum Kehutanan dan Museum Macan. Kalian bisa baca ceritanya di sini dan di sana.
Ya, sekitar pukul 14.00 aku ke sini. Setelah memberitahu satpam, tak lama kemudian pasporku sudah jadi. Asyik.
Memilih-milih Feri dari Batam dan Bus menuju Kuala Lumpur
Kendala kedua, aku tak punya teman sama sekali yang menemaniku dalam perjalanan. Teman-teman yang menonton konser rupanya sudah punya tempat penginapan dan sulit untuk ditanya-tanyai. Tapi untunglah ada satu anggota grup yang ramah untuk ditanya-tanya. Meski kami beda jadwal dan kegiatan, setidaknya aku ada teman mengobrol secara online. Ia dan kawannya juga rencana ke Kuala Lumpur, hanya beda tempat turun dan nama busnya.
Karena tak tahu banyak soal feri, maka aku kemudian membeli tiket feri di Traveloka. Tarifnya sekitar 400 ribu dengan jadwal pukul 12.50 WIB. Alasan keberangkatan siang hari karena aku ingin singgah sejenak ke museum di Batam. Pesawat sendiri tiba di sana pukul 11.00 dan kucek perjalanan dari bandara ke pelabuhan sekitar 30 menit. Jarak museum ke pelabuhan itu dekat. Jadi aku ada waktu maksimal 30 menitan ke museum.
Mungkin karena musim konser, maka tiket pesawat sungguh mahal luar biasa. Pesawat lansung ke Singapura sekitar Rp2, 5 juta ke atas. Pesawat baliknya bisa Rp3 juta sendiri. Wah lumayan banget ya. Pesawat ke Batam juga ke imbasnya. Atau memang pesawat domestik masih mahal dan tak kunjung turun ya. Aku dapat tiket sekitar Rp1, 2 juta.
Sebenarnya beda tiket antara aku naik pesawat langsung dan mode gabungan udara-feri itu tidak begitu besar, andaikata mempertimbangkan waktu. Tapi aku memang sudah lama ingin mencicip mode transportasi laut.
Sementara untuk bus ke Kuala Lumpur dari Singapura itu pilihannya banyak. Rute, waktu keberangkatan, dan titik keberangkatannya ada banyak pilihan. Aku sendiri sengaja memilih di Golden Mile Tower dan berangkat pukul 23.55 waktu setempat, agar masih bisa tarik nafas menuju ke tempat ini dari lokasi konser.
Tarif busnya sendiri beragam, Rata-rata Rp300-450 ribu. Perjalanannya sendiri sekitar enam jam, dengan dua kali turun untuk pemeriksaan imigrasi. Tiket pesawat dari Kuala Lumpur ke Jakarta saat itu masih lumayan, yakni Rp1, 2 juta. Tapi jika ditotal antara semua tiket tersebut sekitar Rp3, 2 juta. Ya, masih ada selisih lumayan banyak sih dibandingkan aku melakukan perjalanan langsung Jakarta-Singapura bolak-balik. Yang tak kalah penting adalah pengalaman.
Akhirnya aku bisa mencicipi tiga mode transportasi, laut, udara, dan darat, biasanya hanya via udara. Plus aku juga bisa jalan-jalan ke Kuala Lumpur, biasanya transit belaka.
Karena sudah lama tak melakukan perjalanan solo yang lumayan jauh dan banyak yang belum pernah kulakukan, aku lumayan gugup. Pernah di satu titik aku agak panik dan ingin kembali pulang saja hehehe. Tapi setelah masalah tersebut kuredam, aku mulai menikmatinya. Aku ingin kembali melakukan perjalanan solo ke berbagai tempat yang belum pernah kudatangi
Ceritanya bakal masih panjang, kucicil dulu saja ya.
Terkait
~ oleh dewipuspasari pada Januari 31, 2024.
Ditulis dalam Wisata
Tag: Menuju Singapura dan Malaysia, Naik bus dari Singapura menuju Malaysia, Naik feri dari Batam ke Singapura
